image
18 Maret 2018 | Bincang-bincang

Gayeng Semarang

Matriarki di Indonesia

  • Oleh Abu Su’ud

ASSALAMU’ALAIKUMWarahmatullahi Wabarakatuh.

Minggu lalu, dunia menyaksikan kegembiraan para perempuan yang sedang memperingati Hari Perempuan Internasional. Sementara itu, bulan depan bangsa Indonesia, terutama para perempuan, memperingati Hari Kartini, simbol semangat kesetaraan gender.

Sebagian aktivis gerakan kesetaraan gender beranggapan, sampai sekarang tak pernah ada keberhasilan gerakan kesetaraan gender karena di Indonesia yang menonjol: segala sesuatu dalam kehidupan sosial diatur oleh kekuasaan lelaki, yang biasa disebut patriaki. Sedemikian bersemangat sebagian pegiat gerakan antipatriarki, sehingga memunculkan perilaku ekstrem. Mereka, misalnya, sampai pada kesimpulan: perlu kemandirian mutlak.

Mereka bukan hanya menganggap harus ada kesetaraan gender. Muncul pula gerakan woman liberation. Mereka tak butuh kerja sama lagi dengan lelaki. Mereka beranggapan kehidupan rumah tangga cukuplah berupa single parent. Mereka merasa perempuan berhak mengatur segalanya. Dalam perilaku seksual, kondisi semacam itu mendatangkan gejala lesbianisme.

Benarkah di Indonesia kehidupan sosial amat dipengaruhi patriliniarisme? Sejarah membuktikan sistem martriarkilah yang amat dominan, yang butuh tangan perempuan. Jadi bukan sekadar semangat kesetaraan gender.

Menurut catatan sejarah, tatanan sosial yang teratur dalam bentuk ketatanegaraan telah muncul pada awal timbul kerajaan, terutama di Jawa. Di sekitar Salaman, Magelang, berkuasalah komunitas yang dipimpin suami-istri. Secara genealogis yang paling dominan adalah Sanaha, sang istri. Sang suami, Sana, tidak punya pengaruh besar di komunitas itu.

Dominasi perempuan lewat tokoh Sanaha berkembang terus sampai terbentuk kerajaan di Jawa. Segala perubahan atau pengembangan kerajaan selalu dibayangbayangi semangat matriarki. Empu Sendok, misalnya, ketika memimpin kerajaan yang berkembang sampai Kerajaan Majapahit memulai dengan keberhasilannya mengawini putri raja sebelumnya.

Tradisi itu terus berlangsung. Airlangga dipanggil pulang dari pengembaraan di Bali untuk meneruskan kepemimpinan kerajaan di Jawa karena mempersunting anak perempuan Empu Sendok.

Ketika pasukan Tiongkok menyerang balik Jawa, yang berkuasa adalah Jayakatwang, musuh Raja Kertanegara. Raja Kertanegara menolak tuntutan kerajaan Tiongkok membayar pajak perlindungan. Kerajaan Tiongkok mengirim seorang nakhoda kapal ke Jawa bernama Meng Ki. Kertanegara menolak kekuasaan Tiongkok dengan mengusir Meng Ki. Dia menggantung surat penolakan di telinga Meng Ki yang telah dia lukai.

Tiongkok bermaksud membalas. Namun mereka perlu waktu berbulan-bulan dalam perjalanan karena harus mengarungi laut. Sementara itu, Jayakatwang telah merebut kekuasaan dari Kertanegara. Namun bagi Tiongkok, yang penting menghukum raja Jawa yang telah menghina.

Sementara itu, Raden Wijaya yang mempersiapkan kelangsungan kerajaan, mengawini kelima putri Kertanegara. Secara spiritual dan magis, dia merasa berhak menjadi penguasa Majapahit yang berpusat di Hutan Maja. Wijaya membunuh Jayakatwang, musuh sang mertua. Lalu, dia meminta pasukan Tiongkok meninjau basis Majapahit di Hutan Maja tanpa senjata. Di sanalah, dia mengalahkan pasukan Tiongkok.

Lewat taktik itu, Wijaya berhasil mendirikan kerajaan besar. Wijaya mendapat hak menjadi raja karena berhasil mengawini lima putri Kertanegara. Dari kisah itu bisa kita tarik kesimpulan, kekuasaan pada dasarnya ada di tangan perempuan. Hayo, siapa bilang kaum perempuan hanya kanca wingking?

Sebaliknya, secara turun-temurun kekuasaan ada pada perempuan. Itulah matriarki yang sesungguhnya.

***

CONTOHlain dari peranan perempuan, kememunculan laki-laki penguasa harus mendapat legitimasi dulu dari pihak istri penguasa sebelumnya. Ken Arok, misalnya, sebelumnya bukanlah siapa-siapa. Dia merebut kekuasaan dari Tunggul Ametung setelah merebut istri Tunggul Ametung, Ken Dedes.

Secara legal berarti perpindahan kekuasaan itu telah melewati prosedur sosiologis dalam kerajaan di Jawa, yaitu mengawini keturunan atau istri penguasa sebelumnya. Apalagi secara spiritual Ken Dedes memiliki keunggulan. Dia sering digambarkan sebagai perempuan cantik, cerdas. Dialah wujud Pradnya Paramitha, perempuan yang memancarkan keilmuwanan. Hayo, siapa bilang di Indonesia tata masyarakat selalu berada di bawah dominasi kaum lelaki?

Jauh sebelum kekuasaan patriarki yang ditakuti aktivis gerakan kesetaraan gender, legalitas dan legitimasi ada pada perempuan. Dalam kenyataan sehari-hari, meski perempuan tak berstatus kepala pemerintahan atau kepala keluarga, mereka lebih dominan.

Akhirnya, selamat kepada kaum perempuan yang telah melakukan peranan. Sekarang yang penting bukan ada atau tidak matriarki atau apakah patriarki masih berkuasa. Sebab, yang lebih baik adalah mengembangkan kerja sama antargender. Sudah ya, sampai jumpa lagi.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. (44)