image
15 Februari 2018 | Wacana

Ketika Kebebasan Berekspresi Terancam Pidana

  • Oleh Hendi Pratama

KASUSmerebaknya tuntutan hukum dan persekusi terhadap komedian stand up sudah mulai mengarah pada pelanggaran terhadap kebebasan berekspresi. Tuntutan hukum terhadap komedian Ge Pamungkas dan Joshua Suherman serta persekusi di dunia maya terhadap komedian Pandji Pragiwaksono dan Uus adalah contoh betapa lemahnya toleransi beberapa orang terhadap kebebasan berekspresi.

Komedi stand up adalah salah satu bentuk pertunjukan seni dan sifatnya sama dengan pertunjukan seni lain. Pertunjukan seni memiliki sisi terang dan sisi gelap. Drama dapat dijadikan sebagai ilustrasi. Ada drama yang melulu menceritakan tentang kebahagiaan hidup tokoh utamanya dengan gaya narasi yang linear. Namun ada juga drama yang menceritakan tentang perbudakan seksual, jual beli organ tubuh, dan perkosaan terhadap anak-anak dengan narasi yang melompat-lompat.

Hal tersebut tidak lepas dari fungsi pertunjukan seni sebagai salah satu bentuk kritik sosial. Bobot kritik sosial pada pertunjukan seni sama beratnya dengan bobot kritik sosial yang disampaikan melalui demonstrasi di jalan.

Film Berbagi Suami misalnya, memiliki substansi yang menyinggung kepercayaan tertentu, agama tertentu, orientasi seksual tertentu, dan gaya hidup tertentu. Mungkin ada beberapa orang yang tidak nyaman menontonnya dan merasa tersinggung karena dialog atau jalan ceritanya, namun tidak ada alasan untuk memenjarakan sutradara atau pemain film yang memerankannya. Contoh lainnya sinetron. Dua tokoh sinetron yang melakukan adegan ijab kabul tidak serta-merta menjadi suami istri yang sah di dunia nyata. Kita harus mulai belajar bagaimana cara menyandingkan pertunjukan seni dengan realita.

Seniman, dalam hal ini komedian stand up, sering menimbulkan persepsi yang salah karena peralatan dan kostum yang digunakan tidak semewah dan selengkap pertunjukan seni lainnya. Mungkin karena itu juga komedi stand up sering dianggap sebagai salah satu cabang keterampilan berbicara ketimbang cabang seni pertunjukan.

Hal tersebut yang harus diluruskan. Komedi stand up adalah bentuk seni pertunjukan tersendiri dan memiliki beberapa tata aturan khusus yang mungkin tidak berlaku pada pertunjukan seni lain dan mungkin tidak berlaku di kehidupan nyata.

Aturan Stand Up

Aturan utama, komedian stand up wajib memiliki keresahan yang disampaikan dalam pertunjukannya. Oleh karena itu, komedian stand up harus menyuarakan keresahan diri dan keresahan tentang lingkungannya, kemudian mencoba menawarkan sudut pandang yang lain atau bahkan menawarkan solusi. Sudut pandang dan solusi tersebut tidak harus sesuai dengan nilai norma yang berlaku.

Aturan selanjutnya, komedian stand up harus membawakan materi yang orisinal hasil pemikiran sendiri. Komedian dilarang membawakan materi orang lain dan dilarang menyadur cerita lucu instan seperti dari pesan pendek atau Whatsapp.

Dua aturan tersebut adalah pakem yang harus dipahami oleh penampil ataupun penonton stand up. Ge Pamungkas misalnya, memiliki keresahan tentang cara orang melihat bencana yang cenderung tidak konsisten. Kadang dilihat sebagai azab tapi kadang juga dilihat sebagai cobaan.

Pandji menyampaikan keresahan bahwa sensor terhadap pornografi adalah usaha yang sia-sia karena masalah utamanya adalah pemahaman seks di usia remaja yang simpang siur. Penonton yang terpelajar dan memahami aturan stand up akan menghormati hak komedian untuk menyampaikan keresahannya. Penonton yang tersinggung adalah penonton yang tidak memahami aturan stand up.

Oleh karena itu, kebanyakan penonton yang tersinggung adalah penonton online bukan yang membayar tiket. Mereka yang rela mengeluarkan rupiah tentu memiliki tingkat familiaritas yang baik terhadap apa yang ditonton.

Penonton olahraga tinju sangat menikmati pertandingan tinju dan tidak ada polisi yang berencana menangkap para petinju di atas ring. Di luar ring tinju, petinju juga bisa dituntut secara hukum jika nonjok orang sembarangan. Pembalap juga memiliki aturan yang sama dalam olahraganya. Silakan mengebut sesukanya di sirkuit tapi tetap ditilang jika ngebut di jalan protokol kota.

Sama halnya dengan komedian stand up. Di atas panggung mereka boleh menyampaikan keresahan mereka dan solusi yang mereka anggap benar. Bahkan ketika keresahan dan solusi itu melanggar norma umum, hal tersebut masih diperbolehkan. Namun ketika turun panggung, mereka harus tunduk pada aturan dan hukum.

Memenjarakan komedian stand up mirip dengan memenjarakan petinju yang memukul lawan di atas ring dan menangkap pembalap yang sedang beraksi di sirkuit Grand Prix.

Jadi, satu-satunya hukuman yang boleh dijatuhkan kepada seorang komedian stand up adalah hukuman karena tidak lucu. (49)

Hendi Pratama SPd MA, dosen Fakultas Bahasa dan Seni, Kepala UPTHumas Unnes.

Berita Lainnya