15 Februari 2018 | Wacana

TAJUK RENCANA

Kampanye Pilgub yang Mendewasakan

Hari ini, 15 Februari 2018, tahapan kampanye pilkada serentak dimulai. Masa kampanye akan berlangsung hampir 4,5 bulan hingga 24 Juni 2018. Setelah masa tenang tiga hari, pemungutan suara akan diselenggarakan pada 27 Juni 2018. Bersamaan dimulainya kampanye, ruang-ruang publik akan mulai sesak oleh aneka simbol kompetisi. Pilgub Jateng yang hanya diikuti dua pasangan calon akan menampilkan simbol persaingan yang lebih sederhana.

Kendati demikian, persaingan head to head antara pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin dan Sudirman Said- Ida Fauziyah justru menyimpan potensi kerawanan yang tinggi. Potensi yang sama juga terjadi di provinsi lain yang menyajikan pertarungan pilgub satu lawan satu, seperti di Jatim dan Sumut. Penyebabnya, isu kampanye dan massa pendukung akan terkonsentrasi pada dua kubu. Situasinya bisa mirip pengalaman selama dan sesudah Pilpres 2014 yang lalu.

Justru karena kita punya pengalaman pilpres dan sama-sama merasakan dampak negatifnya, maka seluruh pemangku kepentingan seyogianya menaruh perhatian pada dampak pilgub bagi masyarakat Jateng. Pihak penyelenggara, yaitu KPU dan Bawaslu, didukung oleh berbagai komponen masyarakat sipil, hendaknya juga konsentrasi pada upaya mencegah polarisasi politik akibat pilgub. Jateng tidak boleh terpecah secara psikologis dan geopolitis garagara pilgub.

Masa kampanye akan menentukan kondusivitas pilgub. Kampanye adalah ajang untuk membujuk, mengajak, dan merayu pemilih untuk menentukan pilihannya. Kegiatan ini selalu rawan kampanye hitam, ujaran kebencian, penghinaan bernuansa SARA, bahkan aksi saling menjatuhkan lawan. Bila luka-luka psikologis kampanye tidak sembuh setelah pilgub, konflik selama kompetisi bisa berlanjut. Hal ini tidak menguntungkan bagi yang menang apalagi yang kalah.

Salah satu indikator pemilu yang berkualitas adalah kesiapan untuk menang yang sama besarnya dengan kesiapan untuk kalah. Penerimaan atas hasil kompetisi ini menunjukkan kedewasaan dalam berdemokrasi. Semua tekad dan upaya untuk menciptakan pemilu yang bebas, adil, dan damai akan berantakan jika hasilnya tidak diakui oleh pasangan yang kalah. Masa kampanye merupakan saat yang tepat untuk menciptakan kedewasaan dalam berdemokrasi.

Ganjar dan Sudirman sudah menunjukkan sikap awal yang terpuji dengan sama-sama mengajak pendukungnya mengedepankan kampanye yang santun. Ini modal berharga bagi Pilgub Jateng menjadi ajang pendidikan politik. Masyarakat Jateng bisa lebih memahami pemilu sebagai sarana memilih pemimpin secara demokratis. Kompetisi harus ada yang menang dan yang kalah. Ibarat sepak bola, setelah tanding, penonton dengan afiliasi berbeda bisa berangkulan kembali.

Berita Lainnya