15 Februari 2018 | Wacana

TAJUK RENCANA

Menjaga Kebersamaan lewat Imlek

Sejak pencabutan Inpres 14 Tahun 1967 mengenai larangan merayakan segala hal berbau Tionghoa, masyarakat Tionghoa di Indonesia menikmati kebebasan. Pemerintahan Abdurahman Wahid menghapus larangan itu lewat Keppres No 19 Tahun 2001. Warga keturunan Tionghoa bebas bersembahyang di kelenteng, merayakan budaya, menyajikan makanan khas, dan memasang pernik-pernik di tempat terbuka. Tak ada lagi kekhawatiran mereka bakal diciduk oleh aparat dan mendapat stempel pembangkang.

Salah satu yang disambut hangat adalah perayaan Tahun Baru Imlek, yang mulai 2003 resmi dinyatakan sebagai hari libur nasional. Masyarakat Tionghoa yang selama 1966-2009 diamdiam, bahkan tabu, merayakan budaya dan agama secara terbuka, bisa meraih kebebasan. Umat Tri Dharma bebas menjalankan prosesi keagamaan, kelenteng dibuka lebar-lebar, ornamen kembali padat oleh umat bersembahyang, dan berbagai kesenian bebas dipentaskan. Kesenian barongsai pun dipertontonkan di jalan-jalan.

Kebebasan itu merupakan wujud karakter bangsa yang dinaungi dalam falsafah Pancasila. Meski berbedabeda, tetap menjadi bangsa yang satu. Tradisi budaya, aliran kepercayaan, dan agama yang berlainan menjadi khazanah Nusantara. Kemajemukan justru menjadi kekuatan sebagai masyarakat yang tidak mudah terpecah belah. Karena terbiasa hidup dalam perbedaan, baik agama, adat istiadat, kebudayaan, maupun kesukuan, masyarakat tidak mempan oleh berbagai provokasi intoleransi.

Setelah menikmati kebebasan beragama dan berbudaya, masyarakat Tionghoa mengemas berbagai tradisi yang melibatkan masyarakat luas. Tak sedikit tradisi itu masuk dalam agenda pariwisata dan jujugan wisatawan yang dinanti-nanti kedatangannya. Kota Semarang termasuk memiliki agenda rutin menjelang Imlek, seperti Pasar Imlek Semawis yang kini memasuki tahun ke-14. Demikian juga kota-kota lain seperti Solo, Medan, Surabaya, dan Singkawang (Kalimantan Barat). Ornamen merah menghiasi lokasi Pecinan.

Acara tersebut tak hanya menjadi kegiatan masyarakat Tionghoa, tetapi juga dikunjungi oleh masyarakat umum. Ini membuktikan tidak ada lagi sekat-sekat agama, kepercayaan, dan ras. Semua tumplek bleg turut bergembira. Dari Yogyakarta, kita angkat topi terhadap masyarakat yang bergotong royong membersihkan gereja St Lidwina. Mereka tidak larut dalam emosi, menaruh dendam, dan membabi buta atas insiden penyerangan. Berbagai komunitas lintas iman justru ramairamai membentuk solidaritas.

Perayaan Imlek biasanya berlangsung hingga 15 hari, dari tahun baru, lalu sembahyang pada hari ke-8, ditutup capgome pada hari ke-15 atau saat purnama. Rangkaian acara selalu diisi dengan sembahyang, mengucap syukur atas kebahagiaan tahun lalu dan berharap kemuliaan pada tahun mendatang. Melengkapi tradisi Imlek, masyarakat Tionghoa saling berkunjung dan bertandang ke rumah yang lebih tua sebagai tanda hormat, seperti sungkeman pada perayaan Lebaran. Bagi yang merayakan Imlek 2569, semoga makin sukses dan selamat sejahtera.

Berita Lainnya