15 Februari 2018 | Ekonomi - Bisnis

BINCANG KADIN

Pembiayaan Syariah Perlu Diperluas ke Sektor UMKM

SEMARANG- Membidik ceruk pembiayaan di berbagai sektor bisnis, semakin agresif dilakukan perbankan syariah, khususnya ke segmen-segmen potensial baik ritel maupun usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Bank Jateng misalnya, dari pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp 42,45 triliun pada posisi Desember 2017 dan jumlah ini meningkat sekitar 17,39% dibandingkan akhir Desember 2016 sebesar Rp 36,16 triliun.

Dari jumlah tersebut, kontribusi Unit Usaha Syariah (UUS)-nya mencapai Rp 2,19 triliun. Direktur UUS Bank Jateng, Hanawijaya mengakui prosentasenya memang masih relatif kecil, namun berbagai macam sektor usaha dan proyek-proyek besar sudah dibiayai. Sebut saja jalan tol Soreang Pasar Koja (Soroja), Bandara International Jawa Barat (BIJB) Kertajati, proyek-proyek infrastruktur pemerintah, sekolah dan perguruan tinggi/universitas, rumah sakit, developer, kawasan industri Jatengland Industrial Park, dan lain-lain.

”Kami terus menggali potensi pembiayaan yang ada, ibarat gadis cantik yang mulai bersolek sudah mulai banyak tawaran kerja sama dengan Bank Jateng Syariah,” kata Hanawijaya pada Focus Group Discussion (FGD) Kadin dan Bank Jateng yang membahas ”Potensi dan Tantangan Pembiayaan Produktif di Jateng” di Hotel Aston Inn Pandanaran, Semarang, Rabu (14/2).

Hadir dalam FGD itu, di antaranya Direktur Utama (Dirut) SPJT Krisdiani Syamsi, Wakil Ketua Kadin Jateng Djoko Oryxahadi, Ketua MUI Jateng KH Ahmad Darodji, Project Director Pembangunan Perumahan Siswady Djamaludin, Ketua REI Jateng MR Prijanto, dan Ketua Kadin Kota Semarang Arnaz Agung Andrarasmara. Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jateng, Heru Isnawan mengungkapkan, sektor pariwisata tidak bisa dimungkiri menjadi salah satu hal yang kini terus bertumbuh pesat.

Tidak hanya dari sisi perhotelan, tetapi juga bidang lainnya yang turut menjadi pengungkit ekonomi kreatif, merupakan potensi yang harus dioptimalkan oleh perbankan termasuk juga perbankan syariah. ”Seperti Bank Jateng ikut membiayai Bandara Kertajati di Jawa Barat, di mana itu dibangun tanpa APBN dan sindikasi dari beberapa bank, kenapa tidak bisa dilakukan di Jateng.

Akses bandara dampaknya luar biasa apalagi dari sisi retail yang akan tumbuh, jadi seharusnya kita bisa merealisasikannya di sini,” harap Heru. Perkembangan pariwisata, lanjut Heru, turut dipengaruhi oleh generasi zaman sekarang yang ternyata tidak terlalu banyak menghabiskan uang untuk membeli barang riil, tetapi lebih kepada aktivitas berwisata.

Pendampingan UMKM

”Tak bisa dimungkiri media sosial dari Facebook, Instagram hingga Youtube turut mengerek daya pikat industri pariwisata, tentunya akan menumbuhkan sektor-sektor lain yang berkaitan di dalamnya,” ungkap Heru. Pengusaha yang juga mantan Wali Kota Semarang, Sukawi Sutarip menilai, pembiayaan bagi masyarakat menengah ke bawah termasuk UMKM masih sangat terbuka luas.

Jika satu orang mampu menarik empat atau lima tenaga kerja saja, tentu penyerapan tenaga kerja di berbagai bidang usaha bisa lebih cepat. ”Pendampingan untuk UMKM juga dirasakan masih dibutuhkan, apalagi untuk bisa mengakses pembiayaan perbankan yang dirasakan cukup sulit persyaratannya. Kuncinya membuka pintu untuk Jateng baik dari bandara maupun pelabuhan.

Perbaikan itu nantinya akan mendukung aksesibilitas sektor-sektor usaha di Jateng jauh lebih maju. Saya juga siap jika diminta untuk membantu mendampingi usaha-usaha skala kecil,” kata Sukawi. President Director PT Dafam Group, Billy Dahlan dalam diskusi tersebut berharap pembiayaan yang dilakukan Bank Jateng bisa memprioritaskan masyarakat atau pengusaha di Provinsi Jateng untuk bisa turut berkontribusi.

Meski banyak yang menilai perusahaan akan cenderung wait and see dengan adanya tahun politik saat ini, namun menurut Billy, akan selalu ada banyak kesempatan dalam sebuah ketidakpastian sekalipun. ”Sektor properti misalnya, masih akan ada banyak kesempatan walaupun banyak yang bilang akan wait and see termasuk juga perbankannya,” katanya.

Wakil Ketua Kadin Kota Semarang Divisi Ekonomi Syariah, Zhakiah Joban menilai, perbankan syariah sebetulnya bisa menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang menyambungkan segala aspek dari hulu ke hilir. Bukan hanya pembiayaan besar saja yang dibidik, tetapi seharusnya porsi UMKM menjadi pertimbangan untuk menumbuhkan ekonomi kerakyatan. Ketua Kadin Kota Semarang Arnaz Agung menambahkan, perlu ada sinergi antara perbankan dengan UMKM dan juga asosiasi untuk mendorong pembiayaan produktif.

Di satu sisi, kalangan pelaku usaha juga perlu memperhatikan mengenai legalitas dan persyaratan yang dibutuhkan dalam mengakses pembiayaan. ”Potensinya masih sangat luas dan pelaku usaha juga harus lebih profesional terutama menyangkut legalitas usaha yang dibutuhkan dalam pengajuan akses pembiayaan produktif,” terang Arnaz.(J14-55)

Berita Lainnya