image

SM/Alman ED - KUNJUNGI KELENTENG : Bupati Haryanto seusai membuka Pasar Imlek Pati Bumi Mina Tani, mengunjungi Kelenteng Hok Tek Bio yang berhadapan dengan Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI), di Jl MH Thamrin Pati, kemarin. (75)

14 Februari 2018 | Suara Muria

Kelenteng Hok Tek Bio Pati

Merajut Kerukunan, Menjawab Kecurigaan

SEPULUHtahun lalu. Kelenteng Hok Tek Bio di sudut pertigaan Jl MH Thamrin dan Jl Setyabudi Kompleks Pecinan Pati tidaklah menarik perhatian. Siang maupun malam. Ketika beberapa orang yang tiap Kamis malam berkumpul di serambi, justru memunculkan kecurigaan sejumlah pihak.

”Hal itu wajar, karena yang curiga tentu belum memahami dan menganggap bahwa kelenteng merupakan salah satu agama, yaitu Konghucu. Bahkan lebih ekstrem lagi, kelenteng dianggap sebagai tempat mempersiapkan kegiatan politik,” tutur Koordinator Komunias Gusdurian Pati, Kiai Happy Irianto.

Kepada Suara Merdeka, Kiai Happy menceritakan, saat itu, bersama Ketua Umum Kelenteng se- Kabupaten Pati, Eddy Siswanto yang juga Koordinator Kelompok Gusdurian Pati, setiap bertemu, membicarakan carut-marutnya kerukunan antarumat beragama dan antarkelompok masyarakat.

Akhirnya satu tekad harus diwujudkan bersama, yaitu tetap menjaga kebhinekaan serta menjaga keutuhan NKRI dengan harga mati. Mereka memulai kegiatan kecil untuk tujuan dan kepentingan yang lebih besar. Salahsatunya kepedulian terhadap kaum duafa dan kelompok masyarakat lain yang masih terpinggirkan.

Selebihnya menyelenggarakan perayaan Tahun Baru Imlek secara sederhana, untuk memberikan pemahaman bahwa kelenteng bukanlah bagian dari agama yang disahkankan di republik ini. Sebab, kelenteng merupakan bagian dari budaya leluhur Tionghoa.

Sehingga merayakan Tahun Baru Imlek bukanlah bagian dari ritual agama. Karena itu, implementasinya harus diikuti dengan menaruh kepedulian, kerukunan, persaudaraan yang semua bermuara pada persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.

Sejak itu, kegiatan rutin yang dilakukan bersama para simpatisan tidak hanya dari kalangan suku Tionghoa, tapi juga warga yang mempunyai kepedulian yang sama.

”Setiap Ramadan, kami turun ke jalan membagikan menu takjil kepada warga muslim dan juga menaruh perhatian terhadap permasalahan sosial yang muncul di Pati,” ujarnya.

Wujudkan Kerukunan

Ketua Klenteng Hok Tik Bio Pati Eddy Siswanto yang penganut ajaran Budha pun menegaskan, menghormati budaya peninggalan leluhur harus tetap dipertahankan. Hal itu tidak hanya oleh warga Tionghoa, tapi oleh seluruh suku dan bangsa lain di seluruh dunia sehingga tidak mati oleh perbedaan.

Karena perbedaan justru merupakan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Upaya melebur diri saling menjaga, menghargai, dan menghormati setiap budaya yang ada di republik ini akan menjadikan NKRI semakin kokoh.

Melalui media perayaan imlek, Hari Raya Idul Fitri, Natal, di mana Kelompok Gusdurian yang selalu ikut ambil bagian bisa menciptakan terwujudnya kerukunan antarumat beragama, khususnya di Kabupaten Pati.

Jika perayaan imlek tiap tahun kian bertambah marak, hal itu merupakan berkah dari Tuhan yang ternyata mempunyai rencana, dan sama sekali tidak diketahui oleh umat-Nya.

Sehingga dalam rangkaian penyelenggaraan kegiatan seperti pasar imlek, tiap tahun jumlah pedagang yang mencari rezeki terus bertambah hingga mencapai ratusan orang.

Rangkaian kegiatan bakti sosial untuk warga juga menjadi agenda rutin, seperti operasi katarak, pengobatan gratis, donor darah, pemberian santuanan kepada anak yatim. Demikian pula untuk menyemangati anak-anak yang berbakat di bidang mengambar, modelling, serta pemilik hobi fotografi pun dibuka kesempatan untuk saling berkompetisi.(Alman ED-75)

Berita Lainnya