image

SM/Beni Dewa - MASIH TERGENANG : Sejumlah siswa melintasi genangan banjir di Kecamatan Dukuhseti, kemarin. (75)

14 Februari 2018 | Suara Muria

Banjir Berangsur Surut

  • Bergantian Jaga Ternak

PATI- Genangan banjir di Kecamatan Juwana dan Dukuhseti mulai berangsur surut. Meski begitu, penanganan kesehatan pascabanjir masih dalam pemantauan. Tim medis pun telah diterjunkan di sejumlah titik untuk memeriksaan kesehatan warga.

Camat Juwana, Teguh Widyatmoko menyebutkan, genangan di Kecamatan Juwana sudah surut cukup pesat. Bahkan dari pantauannya, banjir masih ada di pemikiman yang ada di dekat pinggiran sungai.

”Alhamdulillah yang banjir hanya tinggal sedikit. Untuk Desa Doropayung itu saja hanya tinggal yang berada persis di pinggiran sungai,” ujarnya.

Tak hanya di Juwana, di Dukuhseti banjir juga sudah berangsur surut. Meski untuk genangan masih terpantau di sejumlah titik. Suwarno, salah satu perangkat desa Dukuhseti mengatakan, setelah beberapa hari tergenang, ketinggian air kini mulai berkurang.

”Sekarang ini paling hanya sekitar 60 sentimeter. Tapi daerah sini memang cukup lama untuk surut,” katanya. Lamanya proses surutnya banjir itu, kata dia, karena sejumlah sungai dangkal. Sejumlah gorong-gorong juga banyak yang kerusakan.

”Ada yang ambles dan belum diganti hanya sekadar ditimbun saja. Makanya proses pembuangan airnya juga terhambat. Semoga saja pemerintah bisa segera membantu memperbaikinya sehingga saat banjir cepat surutnya,” harapnya.

Jaga Ternak

Sementara itu, setelah beberapa hari tergenang ini, sejumlah warga diakuinya juga sempat mengalami gangguan kesehatan seperti gatal-gatal. Sejumlah pihak sudah mulai membantu pengobatan. ”Kebetulan ada sejumlah kegiatan pengobatan gratis sehingga membantu warga seperti dari dinas kesehatan beberapa waktu lalu,” ujarnya.

Meski sudah menurun, sejumlah warga di Dukuh Slempung mengaku masih khawatir dari genangan air yang terjadi. Bahkan warga terpaksa mengungsikan ternak seperti kambing dan sapi mereka di pantai Cinta Dukuhseti agar tidak sakit apalagi mati.

”Sudah enam hari ini saya ungsikan ke sini (Pantai Cinta, Red) karena ketinggian air dirumah hampir selutut sedangkan di luar rumah di atas lutut. Kami khawatir kalau dibiarkan begitu kambingnya bisa mati,” kata Karnisih, warga Dukuh Slempung, Desa Dukuhseti.

Karnisih pun harus bergantian dengan suaminya untuk menjaga ternaknya itu. Saat siang hari dirinya yang berjaga dan saat malam, suaminya yang menggantikan. (dwa-75)

Berita Lainnya