14 Februari 2018 | Suara Kedu

Perlu Sistem Peringatan Dini Konflik

YOGYAKARTA - Konflik di negara majemuk seperti Indonesia yang masyarakatnya berbagai latar belakang suku, ras, golongan dan agama kerap terjadi. Ada banyak persoalan yang bisa menjadi pemicu konflik. Karena itu perlu early warning system atau sistem peringatan dini supaya konflik tidak pecah menjadi kekerasan yang berkepanjangan.

Direktur Clinic for Community Empowerment Fakultas Psikologi Universitas Ahnad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Dr Hadi Suyono SPsi MSi menyampaikan gagasannya tersebut pada peluncuran buku ’’Merawat Perdamaian: Metode Sistem Peringatan Dini Konflik’’di kampus 1, Jalan Kapas, kemarin.

Buku karyanya setebal 240 halaman membahas awal mula konflik mulai dari indikasi sampai pada rekomendasi penyelesaiannya. Ia melakukan penelitian pada masyarakat pesisir Kulonprogo yang berkonflik dengan perusahaan tambang pasir besi.

Namun metode dan cara menangani konflik di dalam bukunya dapat digunakan di mana saja. ’’Biasanya setelah terjadi konflik baru dipetakan dan dicarikan jalan keluar. Kalau saja sejak dini bisa diketahui indikasi konflik, gesekan bisa dicegah dengan penyelesaian yang menggunakan kearifan lokal,’’tandas Hadi.

Sayangnya, sejak dulu di Indonesia belum ada early warning system konflik sehingga sangat sulit mencegah konflik. Ia menilai perlunya manajemen untuk mengelola konflik agar persoalan bisa diselesaikan dengan baik.

Selama ini pola penyelesaian konflik sebatas pemadam kebakaran tanpa ada kemauan untuk merawat perdamaian. Hadi menegaskan buku itu bisa menjadi referensi bagi mereka yang hidup dalam lingkungan berpotensi konflik.

Ia sedang berusaha untuk menyampaikannya ke sejumlah kota di Indonesia supaya pemerintah dan masyarakat tidak kedodoran saat terjadi konflik. Sistem peringatan dini dalam bukunya merupakan karya pertama yang ada di Indonesia.

Di beberapa negara maju sistem peringatan dini konflik sudah ada sejak lama. Indonesia tertinggal dalam penanganan konflik karena tidak ada referensi yang ilmiah yang dapat digunakan acuan.

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengembangan UAD, Dr Widodo MSi mengharapkan dosen di lingkungan kampusnya lebih aktif menulis buku berkualitas. Buku tersebut bisa berasal dari tesis, disertasi maupun penelitian-penelitian. ’’Kami sangat mengapresiasi terbitnya buku Merawat Perdamaian.

Semoga bermanfaat dan dapat menjadi early warning system bagi permasalahan yang ada di Indonesia. Banyak hal bisa dipetik dari buku ini terutama dalam memahami serta menyelami konflik untuk kemudian menyelesaikannya,’’ papar Widodo.

Pendekatan perdamaian menjadi kunci utama penyelesaian konflik. Cara-cara kekerasan apapun alasannya tidak bakal menyelesaikan persoalan.

Ada baiknya ketika sudah muncul bibit konflik saat itu pula ada cara-cara penyelesaiannya. Ini mengantisipasi membesar dan meluasnya konflik yang merugikan siapa saja di muka bumi. (D19-45)

Berita Lainnya