14 Februari 2018 | Solo Metro

Bedhaya Kirana Ratih Akan Wakili Keraton

  • Hari Jadi Kota Sala

SOLO- Sebagai bagian dari warga Kota Surakarta, Keraton Surakarta yang dalam peta wilayah administratif terletak di RT1 RW 1 Kalurahan Baluwarti, Kecamatan Pasarkliwon, selalu ingin terlibat aktif seperti warga lain dalam kegiatan daerah, wilayah maupun nasional, misalnya peringatan Hari Jadi Kota Sala atau Surakarta yang jatuh pada Februari ini.

Salah satu suguhan keraton yang disiapkan untuk mewakili RT1 RW1, adalah sajian tari Bedaya Kiranaratih, yang akan dipergelarkan bersama suguhan dari warga RTdan RWlain di Pendapa Mlayakusuman, Tamtaman, Rabu malam besok (14/2). ”Kami sadar, sebagai bagian dari warga Kota Surakarta, ingin mendukung dan menyemarakkan peringatan Hari Jadi Kota Sala. Mewakili RT1 RW1, kami siapkan tari Bedhaya Kirana Ratih. Cuma, persoalan tanggal hari jadi itu yang harus diubah sesuai patokan sejarah yang benar. Kan tinggal DPRD sidang lagi, untuk mengubah Perda hari jadi itu. Saya kira bukan persoalan sulit,” ujar GKR Wandansari Koes Moertijah, menjawab pertanyaan Suara Merdeka, kemarin.

Menurut Pengageng Sasana Wilapa yang akrab disapa Gusti Moeng itu, geladen beksan atau latihan tari yang sejak sebulan ini dilakukan, selain untuk keperluan menjalankan kegiatan wajib di keraton, juga karena ada persiapan untuk menyemarakkan peringatan Hari Jadi Kota Sala yang genap berusia 272 tahun pada Februari ini. Tetapi, karena Bangsal Smarakata dan lokasi lain di dalam keraton yang biasa digunakan untuk latihan tari hingga kini masih dikunci rapat dari luar, kegiatan latihan dilakukan di Pendapa Sasanamulya, termasuk persiapan sajian tari Bedaya Kiranaratih (SM, 12/2).

Disebutkan Pimpinan Sanggar Pawiyatan Beksa Keraton Surakarta itu, keraton hanya mendapat jatah satu sajian tari berdurasi 60 menit, karena di panggung pertunjukan yang digelar di kompleks rumah almarhum KPH Mlayahamiluhur (anak Sinuhun PB X) itu, Rabu malam mulai pukul 19.00 itu ada banyak dan beragam sajiannya.

Di situ akan ada sajian tari anak-anak dari sanggar lain, seni musik santiswaran, sambutan- sambutan, tahlil dan diteruskan ziarah ke makam cikal-bakal Kota Surakarta yaitu Ki Gede Sala yang ada di belakang kompleks perumahan itu, pukul 23.00. Perihal tanggal hari jadi yang selama ini diperingati Pemkot dan warga Solo tiap tanggal 17 Februari, menurut Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Mataram ing Surakarta sudah beberapa kali dimintakan revisi, baik melalui Pemkot maupun DPRD setempat. Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda untuk merevisi, padahal dari dokumen sejarah pindahnya Keraton Kartasura ke Keraton Surakarta yang berdiri di atas tanah di Desa Sala itu, resmi berdiri 17 Sura yang waktu itu tepat 20 Februari 1745. ”Seiring waktu, mudahmudahan semua akan sadar terhadap kekeliruan yang telah dilakukan.

Mudah-mudahan segera berupaya membetulkan kekeliruan itu. Kalau kita biarkan, kekeliruan itu akan diwarisi generasi kita anakcucu kita. Mosok, kita yang sudah pinter-pinter, punya peradaban modern, tapi mau mewariskan kekeliruan?,” katanya.(won-20)

Berita Lainnya