image

SM/Fista Novianti - MEMPERAGAKAN GAME : Yedija Prima Putra memperagakan game edukasi bergenre mini adventure , Selasa (13/2).

14 Februari 2018 | Berita Utama

Yedija Prima Putra, Pengembang Game Edukasi

Belajar Matematika Jadi Lebih Asyik

Belajar Matematika menjadi terasa mudah dan mengasyikkan dengan memainkan game edukasi karya mahasiswa Program Studi Game Technology, Unika Soegijapranata, Yedija Prima  Putra.

MAHASISWAProgram Studi (Prodi) Game Technology Unika Soegijapranata, Yedija Prima Putra membuat sebuah game yang dijalankan melalui sensor ultrasonik dan sensor inframerah. Hal itu sebagai pengembangan dari perangkat mobile, komputer desktop, virtual reality (VR), dan augmented reality (AR).

Dengan bantuan teknologi sensor Kinect yang menggunakan sensor inframerah, Prima, biasa ia dipanggil, mencoba mengembangkan game edukasi yang bergenre mini adventure. "Teknologi sensor Kinect biasa digunakan dalam konsol game yang tengah dikembangkan oleh Microsof yaitu Xbox," tuturnya di Kampus Unika Soegijapranata, Selasa (13/2).

Game yang tengah dikembangkan oleh Prima ini memiliki konsep edukasi yang bersegmen pada anak-anak, di mana pemain dalam game ini akan menjawab pertanyaan berupa sistem operasi perhitungan (perkalian, pembagian, penambahan, dan pengurangan) dengan bergerak menuju dua arah (kiri dan kanan) untuk menggerakkan kursor guna mendapatkan awan yang berisi angka jawaban pertanyaan tersebut.

Nilai

Dia mengatakan, apabila nilai angka yang diperoleh dari awan masih kurang, maka pemain dapat bergerak mendapatkan awan lainnya hingga jawaban terpenuhi. Namun, apabila angka yang diperoleh dari awan mengalami kelebihan dari jawaban seharusnya, maka akan mengurangi nyawa si pemain. "Inspirasi saya dalam pengembangan game ini berawal dari Progdi Game Technology yang telah memiliki teknologi sensor Kinect.

Saya juga melihat gameyang berbasis teknologi sensor hingga saat ini masih digandrungi anak muda sehingga saya memutuskan untuk mengembangkan game ini. Untuk game yang tengah dikembangkan ini, saya mengusung misi agar belajar Matematika terasa lebih menyenangkan dan di sisi lain dapat melatih kemampuan motorik anak-anak sembari menyelesaikan soal," jelasnya. Menurut dia, cara bermain menggunakan Teknologi Kinect cukup mudah.

Alat Kinect tersebut diletakkan di depan layar lalu sang pemain berdiri di jarak sekitar dua meter dari posisi Kinect berada. "Kinect dapat mendeteksi posisi pemain menggunakan sensor inframerah. Kinect akan memancarkan sinar inframerah ke segala titik, kemudian dikumpulkan dalam satu titik dan diolah menjadi bentuk tiga dimensi," ujarnya.

Setelah berbentuk tiga dimensi, Kinect akan membedakan mana yang manusia dan bukan. Pada penelitian sebelumnya menggunakan sensor inframerah dengan proximity censor, sinar inframerah dipancarkan ke satu titik untuk mendeteksi gerakan sehingga peserta akan bergerak maju dan mundur untuk menjalankan kursor. Selain mengembangkan game tersebut , ia juga membandingkan penggunaan sensor inframerah dengan bantuan alat Kinect dan sensor ultrasonik untuk skripsinya.

Pada sensor ultrasonik, dipantulkan gelombang suara yang mendeteksi jarak pemain pada satu titik sehingga pemain akan bergerak maju dan mundur. Dalam skripsi yang ia buat, dirinya mencoba membandingkan keduanya berdasar beberapa parameter, seperti jarak optimal, derajat horizontal (lebar persebaran titik yang dapat dideteksi), derajat vertikal, kemiringan benda, dan transparansi benda.

Salah satu hasilnya untuk sensor ultrasonik tidak dapat bekerja dalam posisi miring. "Saya berharap perbandingan tersebut menghasilkan rekomendasi pemanfaatan sensor dalam pengembangan game edukasi di konsol," terangnya. (Fista Novianti-22)

Berita Lainnya