14 Februari 2018 | Berita Utama

Romo Prier Membaik

  • Suliono Cenderung Lonewolf

YOGYAKARTA- Romo Karl Edmun Prier SJ, yang diserang saat memimpin misa di Gereja St Lidwina Bedog, Sleman Minggu (11/3), membaik. Romo Prier terluka serius di kepala dan punggung terkena sabetan pedang. Saksi mata menuturkan, Romo Prier tetap melanjutkan misa dan orang tersebut maju lantas melukainya. Romo yang sudah sepuh itu tersungkur di bawah altar.

Umat berusaha memancing pelaku supaya tidak melanjutkan melukai Romo Prier. Pelaku terpacing dan mengejar umat. Kesempatan itu membuat sebagian orang menyelamatkan Romo Prier dan membawanya ke RS Panti Rapih. Korban lain juga dilarikan ke rumah sakit. Polisi dan TNI yang datang bersama orang-orang sekitar membantu proses evakuasi.

Romo Prier yang terluka paling serius sudah menjalani operasi dan dalam proses pemulihan. Putri keempat Sultan HB X, GKR Hayu terlihat menjenguk dan mengajaknya bercakap- cakap sebentar. ”Romo Prier sudah berada di ruang pemulihan dengan kesadaran baik dan bisa diajak bicara,” ungkap Direktur Keperatawam RS Panti Rapih, Suster Yosefine CB.

Berbeda Rasa

Sementara itu, Alimah Fauzan, perwakilan Ikatan Alumni Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina (Insani Madani Paramadina Graduate School) Jakarta juga mengunjungi Romo Karl Edmund Preir.

Didampingi Hermawi Taslim, Penasihat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), Alimah diantar staf Humas Rumah Sakit Panti Rapih ke ruang ICU. Romo Prier yang semakin baik, akan segera dipindahkan ke kamar perawatan. ”Bela rasa kami lakukan dengan kesadaran keterbatasan kami dalam menyikapi tindak kekerasan yang menimpa Romo Prier dan sejumlah saudara sebangsa se-Tanah Air. Kami berharap kejadian ini menjadi yang terakhir terjadi di Indonesia yang sejak awal ditakdirkan sebagai bangsa yang bineka.

Berbela rasa adalah wujud empati sesama manusia. Berbela rasa tidak menuntut untuk bisa memberikan solusi terhadap persoalan yang menimpa orang lain. Berbela rasa hanya menuntut kita menggunakan telinga kita untuk mendengarkan. Sikap dan tindakan intoleransi marak terjadi karena ketidakmampuan kita berbela rasa,” tutur Alimah.

Dalam kesempatan tersebut, Alimah juga menyerahkan bingkisan beserta secarik pesan yang memberikan semangat bagi Romo Prier dengan mengutip kata-kata pendiri Universitas Paramadina, Nurcholish Madjid: ”Pangkal keteguhan hidup adalah sikap percaya kepada Allah dan baik sangka, harapan dan positif kepada-Nya” Romo Prier sendiri merupakan sosok yang sudah dikenal oleh banyak kalangan. Dia sudah puluhan tahun tinggal di Yogyakarta

”Senyumnya membuat adem, ayem, tentrem rasanya tiap kali ketemu dan bersapa dengan Romo Prier,” ungkap Caritas, umat Bedog yang sering mengikuti misa Romo kelahiran Jerman itu. Romo yang juga ahli musik liturgi tersebut, merupakan misionaris Jesuit yang seharihari berkarya di Pusat Musik Liturgi (PML) di Kotabaru, Yogyakarta.

Umat Katolik mengenalnya sebagai musisi liturgi yang mumpuni dan sampai sekarang masih terus berkarya. Selain memimpin misa di Gereja Bedog, dia juga sering memimpin misa di Gereja Kumetiran. Sosok yang murah senyum itu pernah berkarya di Wonosari pada tahun 1960-an. Makan gaplek menjadi menu sehari-hari. Umat di pelosok yang sederhana, membuatnya jatuh cinta pada Indonesia.

Keinginan Sendiri

Pernah dia merasa sangat terharu ketika Natal tiba, banyak orang mengunjunginya dan tidak ingin pulang. Mereka mau melewatkan Natal di tempat yang sangat sederhana bersama orang asing yang meskipun baru dikenal, namun sudah demikian akrab. Tak perlu waktu lama, Prier muda berniat belajar budaya Jawa. Dia yang memiliki dasar musik menyukai gamelan dan mulai mempelajarinya sekaligus belajar bahasa Jawa.

Bahkan dia bercita-cita mengangkat musik tradisional ke dalam musik gereja. Sementara itu, dalam penyelidikan terungkap, sebelum menyerang, Suliono mencari tahu gereja apa saja yang ada di dekat tempatnya menginap. Hal itu diketahui dari rekaman CCTV mushala tempat Suliono bermalam, yang tak jauh dari lokasi kejadian.

”Dia melihat-lihat di internet, mana gereja yang deketdeket situ, di mana dia bisa membeli senjata. Informasi yang kami terima seperti itu,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Setyo mengatakan, hingga saat ini Suliono masih dianggap sebagai penganut lonewolf terrorism.

Artinya, dia melakukan aksi teror berdasarkan keinginan sendiri dan tidak terafiliasi dengan jaringan teroris. ”Dia dapat pemahaman yang keliru ya, dia belajar dari internet, ” ujar Setyo. Sebelumnya, Ahmad Dhofiri mengungkapkan, Suliono menjual ponsel untuk membeli pedang yang digunakan untuk melukai Romo Karl Edmund Prier, seorang polisi Aiptu Aal Munir, dan beberapa umat Gereja St Lidwina.(D19,dtc-50)

Berita Lainnya