14 Februari 2018 | Edukasia

LENTERA

Melawan Kekerasan Pelajar

  • Oleh Hadi Suyono

BELUMlagi kasus meninggalnya guru di Madura garagara mendapat perilaku kekerasan dari muridnya selesai, telah terjadi kasus lain. Peristiwa itu terjadi di Bengkulu dan ramai dibicarakan di dunia maya, siswi meninggal dunia dibunuh pacarnya yang sesama pelajar. Kasus demi kasus kekerasan pelajar terus berulang mewarnai dunia pendidikan Indonesia.

Berbagai kekerasan terjadi di berbagai daerah karena belum ada upaya secara komprehensif untuk menyelesaikannya. Selama ini yang dilakukan dalam menuntaskan masalah kekerasan pelajar sekadar parsial sehingga kebijakan yang diterapkan supaya tidak terjadi anarkisme di kalangan pelajar masih seperti memadamkan kebakaran. Dalam menghentikan kekekerasan pelajar hanya melihat dari satu sudut pandang pelajar yang melakukan kekerasan. Dia yang melakukan tindakan kekerasan mendapat hukuman, selesai.

Tetapi langkah penyelesaian ini hanya berlaku pada pelajar yang bersangkutan. Bagi pelajar-pelajar lain yang memiliki potensi melakukan kekerasan tak tertangani. Dengan begitu satu kasus kekerasan pelajar belum selesai, sudah terjadi lagi di tempat lain. Begitu seterusnya. Ini yang menyebabkan kasus kekerasan pelajar terus tumbuh.

Melihat realitas itu, melawan kekerasan di kalangan pelajar tidak bisa ditangani kasus per kasus. Menangani kekerasan pelajar perlu dilakukan secara komprehensif. Berbagai pihak harus dilibatkan agar pelajar tidak melakukan kekerasan. Pihakpihak yang bisa dilibatkan ikut membereskan kekerasan pelajar yakni guru, orang tua, tokoh masyarakat dan aparat keamanan.

Sebagai penggerak untuk menjalankan roda gerakan antikekerasan di kalangan pelalajar tentu dibebankan kepada instansi pendidikan. Dinas Pendidikan yang memiliki tongkat komando mengajak peran serta elemen yang peduli pada kualitas pendidikan untuk memikirkan langkahlangkah efektif membersihkan pelajar dari kekerasan.

Formula memikirkan penyelesaian di tingkat lokal ini dirasa mumpuni karena berbagai kasus kekerasan daerah satu dan lainnya tentu memiliki jenis, tingkat, aspek dan faktor kekerasan berbeda yang membutuhkan penanganan berbeda pula. Hasil kajian yang dilakukan berbagai pihak mengenai latar belakang terjadinya kekerasan dan cara mengatasinya bisa menjadi acuan untuk melakukan tindakan penanganan. Yang lebih penting menjalankan tindakan pencegahan.

Tindakan penanganan dan pencegahan yang dikerjakan tentu tidak hanya pekerjaan Dinas Pendidikan. Dalam merealisasikan gagasan bersama juga melibatkan pihak-pihak yang awalnya diajak memikirkan langkah efektif menyelesaikan kekerasan pelajar.

Elemen Penting

Orang tua merupakan elemen penting yang menjadi sandaran untuk melakukan tindakan pencegahan kekerasan pelajar. Orang tua perlu dibekali pemahaman pola asuh yang menanamkan nilai-nilai kasih sayang, empati terhadap orang lain dan melatih keterampilan sosial.

Penanaman nilai-nilai di dalam keluarga seperti ini dapat mengembangkan kepribadian anti kekerasan. Tokoh masyarakat memiliki peran menggerakkan partisipasi masyarakat untuk mengingatkan pelajar yang akan melakukan tindakan kekerasan di lingkungannya. Adapun peran guru membuat lingkungan sekolah terbangun suasana nyaman, hubungan interpersonal yang santun, tercipta kondisi saling menghargai dan saling mengayomi. Situasi seperti ini akan menjauhkan sekolah dari kekerasan pelajar.

Aparat keamanan menjadi garda depan ketika kasus kekerasan sudah terjadi. Dengan memberikan tindakan hukum secara proposional sesuai dengan kekerasan yang dilakukan oleh pelajar akan menimbulkan efek jera bagi pelakunya.

Dr Hadi Suyono SPsi MSi, Direktur Clinic for Community Empowerment Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Berita Lainnya