13 Februari 2018 | Internasional

Trump Ragukan Perdamaian Israel-Palestina

  • Kritik Perluasan Permukiman

WASHINGTON- Untuk kali pertama Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan Israel soal aktivitas perluasan permukimannya yang kontroversial. Tak hanya itu, Trump juga meragukan niat Israel untuk berdamai dengan Palestina.

Kritikan itu dilontarkan Trump dalam wawancaranya dengan surat kabar Israel, Israel Hayom yang dirilis Minggu (11/2) waktu setempat. Sebelumnya Trump selalu mengecam Palestina yang dianggap tidak bersedia untuk berunding soal upaya perdamaian dengan Israel. Namun dia jarang mengkritik langsung Israel.

Dalam wawancara terbaru dengan Israel Hayom, Trump menekankan bahwa hubungan AS dan Israel saat ini ''hebat''. Namun menurut Trump, hubungan itu akan ''jauh lebih baik'' jika Israel dan Palestina mencapai kata damai. ”Kita akan melihat apa yang terjadi,” kata Trump. ”Sekarang, saya akan mengatakan Palestina tidak mengharapkan upaya perdamaian, mereka tidak mengharapkan upaya perdamaian. Dan saya tidak begitu yakin jika Israel tengah mengharapkan upaya perdamaian. Jadi kita akan melihat apa yang akan terjadi.”

Tolak Bahas Jerusalem

Lebih lanjut, Trump melontarkan peringatan kepada Israel soal permukiman Yahudi yang memicu kontroversi. Hal ini sedikit berbeda dengan sikap pemerintahannya yang tidak kritis mengomentari perluasan permukiman Yahudi di wilayah Palestina yang diduduki Israel.

”Permukiman menjadi sesuatu yang sangat memperumit dan selalu memperumit upaya perdamaian, jadi saya pikir Israel harus sangat berhati-hati dengan permukiman itu,” kata Trump mengingatkan Israel. Trump selalu menyatakan niatnya membawa Israel dan Palestina kepada kesepakatan utama yang akan menyelesaikan konflik selama beberapa dekade terakhir. Namun dalam wawancara ini, Trump justru meragukan apakah perundingan Israel-Palestina masih mungkin digelar.

”Jujur, saya tidak tahu apakah kita akan menjalani perundingan. Kita akan lihat apa yang terjadi, tapi saya pikir sungguh bodoh bagi Palestina dan saya juga berpikir sungguh bodoh bagi Israel jika mereka tidak mencapai kesepakatan,” tegas Trump. ”Ini menjadi satu-satunya kesempatan kita dan ini mungkin tidak akan pernah terjadi lagi setelah ini,” tandasnya. Kendati demikian Trump menandaskan bahwa masalah Jerusalem sudah tidak bisa ditawar lagi.

Menurutnya, keputusannya mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel dan pemindahan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke kota suci itu merupakan keputusan yang final. ”Dengan mengesampingkan soal Jerusalem di meja perindingan saya ingin mempertegas lagi bahwa Jerusalem adalah ibu kota Israel, sementara terkait perbatasan kedua negara, saya akan mendukung apa yang disepakati kedua pihak,'' ujar Trump.

Pernyataan Trump ini menegaskan kembali apa yang dia nyatakan dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss bulan lalu. ”Mereka bersikukuh membawa isu Jerusalem, sementara kami tidak lagi mau membahas masalah itu di meja perundingan,” kata Trump.(aljazeera,afp-mn-53)

Berita Lainnya