image

Foto-foto:SM/Gunawan Budi Susanto - BERSIH DAN HIJAU : Sungai Lasem yang bersih dengan gerumbul pohon bakau menghijau di kiri-kanan. (44)

11 Februari 2018 | Jalan-jalan

Ke Dasun, ke Pulo Gosong

  • Oleh Gunawan Budi Susanto

Suatu kali saya berkesempatan menyertai warga kampung saya, Gebyog RT03 RW 03 Kelurahan Patemon, Gunungpati, Kota Semarang, piknik. Ke mana? Tak jauh-jauh benar. Kami ke Dasun, sebuah desa di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang.

Apa yang istimewa dari desa di tepian pesisir pantai utara belahan timur Jawa Tengah itu? Dalam ”presentasi”, salah seorang penggerak desa wisata Dasun, Exsan Ali Setyonugroho (yang kini menjadi sekretaris desa), menyatakan di Dasun para ibu PKK dan warga RT 03 RW 03 Patemon bisa piknik sekaligus belajar dan menyelami ragam kehidupan yang berbeda. Ya, Dasun adalah desa nelayan, sedangkan warga Patemon kebanyakan petani.

Pemaparan berbekal dokumentasi audiovisual itu cocok benar dengan kebutuhan para ibu PKK RT 03 RW 03 Patemon. Ya, para ibu menginginkan bisa piknik bersama keluarga masing-masing dalam sehari saja, sehingga memilih objek tak terlalu jauh, ongkos terjangkau, dan persiapan tidak ribet.

Begitulah, akhirnya mereka memutuskan: berangkat ke Dasun. Lima puluh orang bapak, ibu, dan anak-anak mendaftar. Butuh satu bus besar untuk mengangkut kami. Iuran ditentukan, perbekalan disiapkan.

Nah, pada hari H, meluncurlah kami menempuh jarak dari Semarang ke Dasun sejauh 134 kilometer. Pukul 08.00 berangkat, pukul 11.30 tiba di Desa Dasun. Kepala Desa Sujarwo menyambut kami dengan senyum lebar dan keramahan yang menghangatkan perasaan. Antusiasme membuat kami melupakan pegal-pegal selama dalam perjalanan.

Namun Pak Sujarwo menyarankan kami beristirahat sejenak dan shalat zuhur. Beberapa saat kemudian, kami pun berangkat disertai pemandu sesuai dengan pilihan masing-masing.

Sebagian mengikuti susur Sungai Lasem, sedangkan sebagian lain memilih menangkap ikan bandeng di tambak. Ternyata peserta susur sungai membengkak dari perkiraan awal cuma separuh peserta, menjadi 40-an orang; bapak, ibu, anak, dan bahkan cucu.

Butuh dua perahu nelayan masing- masing bermuatan maksimal 20- an peserta plus dua awak perahu dan seorang pemandu. Peserta yang memilih tinggal di daratam, menangkap ikan bandeng di tambak tinggal 10 orang.

Kami, ber-40 orang, berbondong menuju ke semacam dermaga kayu sederhana sekaligus tempat menambatkan perahu. Setelah semua peserta naik, kedua perahu pun beriringan menghulu Sungai Lasem.

Elok! Kedua sisi sungai yang bermuara ke Laut Jawa itu betapa bersih. Tak ada sampah mengambang di air atau tersangkut akar pohon bakau yang berjajar di kedua tepian sungai. Di atas pohon-pohon bakau yang rimbun menghijau itu bertengger burung-burung.

Dan, lihatlah, di kebeningan air sungai di sesela akar pohon berseliweran ikan-ikan air payau ñ percampuran air laut yang asin dan air dari dataran lebih tinggi. Bakau, Anda tahu, juga mencegah abrasi sekaligus longsor. Sungai Lasem yang bersih di sepenggal wilayah Dasun adalah potret kesadaran warga mengenai kelestarian alam mereka.

Pulau Karang

Perahu meliuk-liuk mengikuti alur kelokan sungai melawan arus menuju ke hulu sejauh lebih dari 2 kilometer dari Dasun. Sepanjang perjalanan, cuaca cerah dan embusan angin membuat terik matahari siang bolong tak terasa. Perahu berbalik arah ketika tiba di depan Kelenteng Cu An Kiong.

Kami menghilir menuju ke muara sungai. Makin mendekati muara sungai kian lebar. Saat perahu tiba di muara, ombak Laut Jawa pun menerpa. Pemandu menyatakan kami tak perlu khawatir. Selain telah berbekal pelampung, awak kapal adalah para nelayan berpengalaman yang nyaris seumur hidup menaiki gelombang demi gelombang laut lepas.

Perahu lepas dari muara menuju Pulo Gosong. Itulah pulau karang tak seberapa luas, yang jika air laut pasang naik, permukaan seluruh pulau tertutup air. Kami pun tiba di pulau kecil tanpa tetumbuhan apa pun berjarak sejauh 1,5 kilometer dari bibir pantai itu.

Berdiri di permukaan pulau yang diseraki karang dan kulit kerang, kami merasakan sensasi: seolah-olah berdiri di atas permukaan air laut. Ke ketiga arah mata angin mata memandang, lautan luas pula yang membentang. Adapun pantai utara di balik punggung, hanya tampak seperti seleret garis di cakrawala.

Kami tak berlama-lama di Pulo Gosong. Tak lebih dari setengah jam, kami pun naik ke perahu dan kembali ke Dasun. Pemandu mengingatkan kami agar tak membawa pulang sebutir pun kulit kerang atau batu karang.

Kenapa? Ya, jika setiap pengunjung membawa sebutir karang atau kulit kerang, bukankah lamalama tinggi permukaan pulau bakal menurun dan terus menurun? Kurang-lebih dua jam kami menempuh perjalan pergi-pulang dalam susur sungai. Perjalanan yang mengasyikkan. Ketika kami sampai di rumah Kepala Desa, sebagian peserta yang menangkap bandeng sudah bersantai.

”Asyik menangkap bandeng di tambak. Tak gampang. Apalagi jika menangkap tanpa jaring,” ujar Kusriah. ”Namun kami senang. Kami jadi tahu, menjadi petambak atau nelayan penuh tantangan.”

Setelah semua berkumpul, tak ada perkara lain yang mesti kami lakukan: makan siang! Wow, di hadapan kami tersaji sekian ragam menu menggiurkan. Sajian utama tentu ikan bandeng: bandeng bakar, bandeng otak-otak, bandeng duri lunak, merica bandeng ekor, merica bandeng kepala. Ada pula urap latoh khas Dasun.

Minumnya? Jus buah, es teh, jahe hangat, air kelapa muda. Untuk pencuci mulut tersedia pisang dan mangga. Jangan khawatir, menu lebih komplet bisa Anda nikmati di warung apung Dasun dengan harga terjangkau.

Warung apung itu dikelola oleh badan usaha milik desa Karya Bahari. Kompleks warung apung itu dibuka sejak 15 November 2017. Menu yang tersaji sangat beragam, terutama khas pesisiran Lasem, Rembang.

Bangunan warung-warung itu berupa gazebo berlantai panggung yang berdiri di atas tambak. Sambil mengudap di warung apung, Anda bisa menikmati panorama Gunung Lasem di kejauhan berlatar depan hamparan sawah dan tambak garam.

Ya, sebagian besar wilayah di Dasun berupa tambak garam. Dasun adalah penghasil garam terbesar di Lasem. Namun saat musim hujan, tambak garam itu berubah menjadi tambak bandeng.

Para penggemar bandeng di Rembang pun memfavoritkan bandeng Dasun. Tekstur daging dan aroma bandeng itu khas. Boleh jadi kekhasan itu lantaran bandeng itu di hidup di atas tanah tambak yang merupakan komposisi dari pasir pantai dan tanah sawah. (44)

Berita Lainnya