11 Februari 2018 | Bincang-bincang

GAYENG SEMARANG

Sang Pengabar, Pembawa Pesan

  • Oleh Mudjahirin Thohir

SUATUhari, Rasul berkata kepada para sahabat, ”Sampaikan apa yang saya katakan ini kepada umat, sekalipun hanya satu ayat.” Ballighu anni, walau ayatan. Itulah awal peradaban Islam diperkenalkan. Di antara mereka yang mendengar perintah itu secara diam-diam menyampaikan pesan-pesan Rasul kepada sanak-saudara.

Diam-diam, karena waktu itu ada kekhawatiran kaum kafir Quraisy bakal berlaku kejam kepada siapa pun yang ketahuan mengajarkan paham baru, ketauhidan, keesaan Tuhan, yang disebut Allah. Allah yang satu, tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Sang Khalik, pencipta alam semesta, kepada-Nya makhluk bergantung. Bukan dewa-dewa, sebagaimana awal-mula bangsa Arab memercayai. Kendati, jauh sebelumnya, nabi sebelumnya, Ibrahim muda, berlaku heroik, memenggal patung-patung yang disembah sang ayah, termasuk Raja Namrud.

***

SANGpembawa pesan itu disebut Rasul. Manusia pilihan yang dipercaya menyampaikan firman Tuhan. Kalam ilahiah. Manusia pilihan itu sebagai contoh langsung bagaimana manusia mengejawantahkan keadaban; ucapan, tindakan, dan ketetapannya.

Dalam bahasa agama (Islam), siapa pun yang dalam hidup berpegang pada firman Tuhan dan contoh yang diberikan Rasul, dijamin tidak akan tersesat selamanya. Pada saat yang sama, Tuhan pun adil.

Memberi kesempatan pada setan, yang terusir dari surga karena kesombongannya, untuk menggoda siapa pun yang mudah digoda. Setan membawa spirit libido, berupa kesenangan- kesenangan duniawi, seperti kenikmatan seksual tanpa perlu nikah, sekalipun nikah siri.

Juga kemewahan duniawi, sekalipun lewat korupsi. Syarat memperoleh kenikmatan seperti itu mengingkari Tuhan dan rasul-rasul yang mengajarkan keadaban mulia.

Dari sinilah awal-mula kemunculan paham teis (percaya pada Tuhan) dan ateis (pengingkaran atas keberadaan-Nya). Dunia seisinya menjadi ajang perebutan, bahkan perlawanan, antara yang bertuhan dan para pengingkar. Itulah awal kehadiran konflik antarmanusia, yang tidak akan pernah berakhir. Sampai hari ini dan hari kemudian.

***

FIRMANTuhan sekaligus sabda Rasul bermuara ke kehidupan abadi pada hari akhir nanti. Hari Kebangkitan. Menunggu kenikmatan yang dijanjikan Tuhan seperti surga, misalnya, susah dilihat mata, sulit didengar telinga. Wa la ainun ro’at, wala udzunan sami’at.

Saat orang-orang tidak sabar menunggu, setan menawarkan jalan pintas untuk bisa mendapatkan segala kenikmatan duniawi. Jadilah apa yang harus terjadi.

Begitu banyak manusia terbius untuk memenuhi segala kemauan, tanpa mengindahkan lagi pesan Tuhan dan Rasul. Di balik kronik kehidupan manusia antahberantah seperti itu, ada sebagian orang terpanggil menjadi pewarta kebenaran dan kebaikan.

Mereka sadar akan tugas sebagai khalifah di bumi; menjalankan amal kebaikan dan berusaha mencegah amal keburukan. Tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi bagi banyak pihak. Di antara mereka memilih cara berbeda, salah satunya dengan media. Media adalah peranti untuk menyampaikan pesan kebaikan.

Menyampaikan pesan sebagaimana ungkapan ballighu anni walau ayatan. Mungkin ungkapan itu pula yang menginspirasi H Hetami, 68 tahun lalu, yang terbersit mendirikan media cetak di Jawa Tengah.

Kenapa memilih media cetak? Bisa jadi, seperti ungkapan sekali berenang dua pulau terlampaui, mengikuti pesan agama: menjadi pewarta kebaikan sekaligus menampung banyak tenaga kerja untuk berbagi rezeki. Dan, faktanya, Suara Merdeka sampai hari ini tetap menjadi pilihan bacaan utama orang Jawa Tengah.

Keberhasilan Haji Hetami mendirikan dan membesarkan Suara Merdeka sudah terbukti. Untuk keberlangsungan dan pengembangan Suara Merdeka ke depan, pada 11 Februari 1982, Hetami menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada sang menantu, Budi Santoso.

Kemudian sejak 2010, Suara Merdeka dipimpin Kukrit Suryo Wicaksono, anak sulung Budi Santoso. Untuk itu, selayaknya kita ucapkan selamat berulang tahun, semoga Suara Merdeka, sebagaimana ilmu padi, makin tua kian berisi. Juga makin arif dan makin dicintai.(44)

Berita Lainnya