image
11 Februari 2018 | Arsitektur

Sastra - Arsitektur yang Beradu Pandang

TIDAKbanyak sastrawan yang memanfaatkan arsitektur sebagai sebagai penyampai makna. Kafka, pengarang yang diperebutkan sebagai milik Republik Ceko, Austria, dan Jerman, adalah salah satu dari yang sedikit itu.

Itulah lontaran Triyanto Triwikromo mengawali sesi pertama pelatihan ”Jurnalisme Arsitektur”, yang diadakan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Daerah Jawa Tengah, Sabtu (3/2). Triyanto lalu mengajak peserta melihat arsitektur dari sudut pandang lain.

Melalui kutipan karya Franz Kafka (1883-1924), Triyanto membedah pemaknaan ruang oleh Kafka lewat teks novel atau cerpennya. Secara formal, Kafka sering mendeskripsikan ruang atau elemen ruang sebagai latar atau analogi peristiwa. Lebih dari itu, teks Kafka kerap membawa pembaca ke pemaknaan ruang lebih cair.

Lewat beberapa kalimat dalam novel Metamorfosis (1915) dan Proses (1925), Triyanto menunjukkan eksplorasi Kafka terhadap arsitektur sampai ke ruang-ruang sangat imajiner: ruang cahaya, ruang mimpi, ruang kemanusiaan, ruang kebebasan, ruang keterikatan.

”Mempersoalkan ruang mimpi dan ruang riil adalah membicarakan arsitektur. Mempersoalkan ruang kemanusiaan dan ruang kebinatangan juga memperbincangkan arsitektur.

Bahkan mempersoalkan waktu mimpi dan waktu terjaga adalah meributkan arsitektur. Perpindahan dari kebebasan ke keterikatan, perpindahan dari kebebasan dan keterpenjaraan, perpindahan dari kenyamanan ke penyiksaan adalah persoalan arsitektur juga,” tegas dia.

Lewat paparan singkat tentang karya Kafka, yang untuk sementara Triyanto sebut ”sastra arsitektural” atau karya sastra yang mampu membangkitkan imaji arsitektural pembaca, muncul pertanyaan: bagaimana dengan jurnalisme arsitektur?

Apakah jurnalisme arsitektur hanya didominasi reportase tentang seni dan ilmu merancang serta membuat konstruksi bangunan, jembatan, dan sebagainya?

Atau hanya pengabaran metode dan gaya rancangan bangunan? ”Arsitektur bukanlah dunia kering, melainkan terus bergerak dinamis. Karena itu, ia harus diwadahi dengan jurnalisme yang kreatif,” tutur Triyanto.

Triyanto kemudian berbagi teknik penulisan kreatif dan perubahan paradigma dalam jurnalisme kini. Dia menyimpulkan jurnalisme arsitektur adalah gabungan jurnalisme sastrawi dan kelenturan arsitektur yang terus begerak.

Pelatihan di Gedung C Hotel UTC Sampangan, Semarang, itu berlangsung sehari penuh. Peserta 30 orang, sebagian besar pengurus dan anggota IAI Daerah Jawa Tengah (17 orang), mahasiswa arsitektur dari beberapa perguruan tinggi di Semarang (sembilan), dan wakil jurnalis (empat).

IAI Jawa Tengah merasa perlu menyelenggarakan pelatihan itu untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan jurnalistik arsitek dan mahasiswa arsitektur yang berminat menulis soal arsitektur. Pelatihan juga untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan arsitek-tur para jurnalis.

Sebagai organisasi profesi arsitek, IAI Jawa Tengah bertanggung jawab membangun sistem informasi arsitektur yang baik. Dengan harapan, anggota mampu meningkatkan wawasan, menumbuhkan apresiasi masyarakat luas, sekaligus merepresentasikan perkembangan arsitektur Indonesia.

Secara bertahap tanggung jawab itu akan diwujudkan melalui penerbitan berkala: rubrik arsitektur di media massa umum, jurnal/majalah, yang akan terintegrasi dengan media online dan media sosial. Hal itu tentu butuh sumber daya penulis mumpuni.

Selain berguru pada Triyanto Triwikromo (sastrawan, jurnalis, dan Redaktur Pelaksana Suara Merdeka), IAI Jawa Tengah menghadirkan Imelda Akmal (penulis arsitektur, Chief Editor Archinesia Bookgazine, direktur Imaji Publishing) sebagai pemateri sesi kedua. Dia adalah arsitek yang memutuskan fokus meniti karier bidang penulisan dan publikasi arsitektur.

Pengaruh Publikasi

Imelda Akmal menggambarkan seberapa besar pengaruh publikasi arsitektur terhadap perkembangan arsitektur. Secara khusus dia mencontohkan salah satu jenis publikasi arsitektur: monograf.

Seperti dicatat Roland Hagenberg, dalam monograf Tadao Ando (arsitek Jepang) ”The Untouchable Architect Tadao Ando in 20 Japanese Architects” (2009): seorang arsitek Prancis telah memasuki hidup Ando lewat sebuah toko buku bekas di Osaka; katalog langka dari gambar Le Corbusier jatuh ke tangannya. Katalog itu menjadi kitab suci yang menuntun dia menuju arsitektur modern.

Dia juga memaparkan catatan Philip Jodidio dalam monograf Santiago Calatrava (arsitek Spanyol) ”Calatrava Complete Works 1979-2009”, ”Suatu hari saya pergi membeli beberapa barang di toko buku dan alat tulis di Valencia, dan saya melihat sebuah buku kecil.... lalu saya segera membeli.

Ternyata buku tentang Le Corbusier, yang karyanya merupakan penemuan bagi saya. ... hasil dari membeli buku kecil itu, saya memutuskan pindah ke sekolah arsitektur.” Imelda menunjukkan bagaimana publikasi arsitektur mampu berkontribusi terhadap perkembangan pemikiran dan gagasan para arsitek dunia.

Pengalaman menulis arsitektur di Femina (1993-1996) membawa dia menulis buku pertama, Menata Rumah Mungil (Gramedia, 1996).

Dia menceritakan buku itu lahir dari keresahan akan kemerabakan rumah tipe kecil waktu itu, yang tak didukung ketersediaan furniture setdan elemen interior yang sepadan di pasaran.

Lewat buku itu, Imelda memberikan prinsip penataan ruang rumah kecil, sehingga berfungsi optimal, berkesan lebih luas, dan nyaman dihuni, tanpa kehilangan unsur estetika.

Imelda lalu mendirikan Imaji Books Publishing, sebagai solusi di tengah keminiman penerbit di Indonesia yang mau menerbitkan buku arsitektur bermutu. Soal penulisan arsitektur, Imelda fokus ke jenis tulisan ulasan karya.

Dia memaparkan beberapa prinsip penulisan, termasuk tipologi ulasanberupa deskripsi, narasi sudut pandang paling menonjol, serta argumen/kritik. Dia juga membagi tips seputar penulisan dari jadi pembaca kritis ampai riset dan pengumpulan data yang cermat.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Daerah Jawa Tengah, Sugiarto, menggarisbawahi arti penting publikasi arsitektur bagi arsitek dan masyarakat luas. ”Publikasi arsitektur berperan penting menularkan pengetahuan, membagi informasi, membangun diskusi.”(63)

—Adji Nugroho,Sinfar IAI Daerah Jawa Tengah

Berita Lainnya