11 Februari 2018 | Serat

PUISI

A Warits Rovi

Jarum-Jarum Gerimis dari Langit Palo’lo’an

bening runcingmu merajah pagi
derap lirih di bunga sepatu
menumis tanah dan rumputan
dengan dingin yang mengekal,

basah benang airmu
serabutan berkawin rambut
menyaruk sanggul akar di kulit kepala
bisikkan umur langit yang semakin tua,

kau datang berpengantin angin
aku dan ibu dicucup hening
sepetak harap di sepasang telapak tangan
diangkat bertangkup sebagai doa
semoga lekas reda
semoga rencana selamat di jalan basah.

Palo’lo’an, 24.01.18

 


Dapur

lidah api dalam tungku
menjilat sakit kayu
selang kausorong
sebilah dari yang kaukapak
di iga nyamplung,

asap di tutup panci
melukis butiran air
didih dalam rebusan
bercerita hidup yang lekang,

tapi semua akan manis di meja makan
asap lengang, butir air hilang
hidup sempurna dalam kata matang.

Gapura, 01.18

 


Migrasi Desa

tinggal pohon-pohon renta
menapis getahnya
dengan karbondioksida,

menangis sepanjang waktu
dalam goresan kuku suhu,

ada isak batu
menampung rindu di jalan baru
mencari moyang di lorong waktu
kepada besi-besi memanggil ibu.

Dik-kodik, 2018



Pintu Kamar

datar bercat biru
zaman terapung menjamah waktu,

saat aku datang dan pergi
ia hanya berbicara dengan diri sendiri,

segantung kunci di lubang engkol
menjaga wasiat moyang dengan cara diam,

saat aku menutup dan membuka
waktu berubah jadi rahasia.

Gaptim, 01.18



Ingin

ingin sibak mulut kembangmu
alamat terakhir angin menderu,

ingin kaki anginmu jauh
menebar butir musim di kenyal pipimu,

ingin pipimu bersentuhan dengan kembangmu
menunggu musim dari dadaku,

ingin nyatanya lebih bahaya dari angin.

Pangabasen, 30.01.18

 

- A Warits Rovi,lahir di Sumenep, 20 Juli 1988. Menulis puisi, cerpen, esai, artikel, dan naskah drama. (44)

Berita Lainnya