11 Februari 2018 | Serat

ESAI

Menakar Etos Gusjigang

  • Oleh Imam Khanafi

Keluarga Kudus Yogyakarta (KKY), Minggu (4/2) malam, menggelar acara kolaboratif antara musik, drama, dan tari Ngaji Budaya bertema “Gusjigang Nyawiji ing Sukma” di lapangan parkir Balai Jagong, Wergu Wetan. Acara, yang merupakan bagian dari peringatan HUT ke-50 KKY, itu sangat dekat dengan filosofi warga Kudus.

Filosofi itu adalah gusjigang, yang memiliki arti penting dalam kehidupan masyarakat. Ajaran gusjigang dipahami dan merasuk dalam perilaku pedagang di Kudus.

Gusjigang dipengaruhi oleh pemaknaan orang Kudus terhadap filosofi gusjigang itu sendiri. Dalam konteks ini, makna mengacu ke pola interpretasi dan perspektif bersama yang terekspresikan dalam simbol-simbol.

Ada beberapa makna gusjigang dalam kehidupan orang Kudus. Pertama, makna gus (berakhlak bagus) biasanya dipakai anak kiai sepuh. Gus dari kata “agus”, kata sapaan untuk anak laki laki kiai.

Orang Jawa sering hanya menggunakan suku kata terakhir, gus. Kata sapaan gus untuk kalangan elite pesisir dari golongan agamawan atau kiai dari masyarakat nonpriayi. Dari golongan priayi disebut ki.

Makna gus akan berbeda dari pengungkapan makna ji (mengaji, belajar, menuntut ilmu), dengan pemaknaan gang (pandai berdagang). Namun ketiga unsur itu merupakan kesatuan.

Artinya, seseorang (pedagang) menjalankan ji dan gang yang menjalankan praktik berdagang dengan baik. Dalam konteks ini, seorang pedagang dapat disebut memiliki gus. Tjokroaminoto menyatakan, etos kerja antarsegmen masyarakat berbeda.

Karena itu, perilaku ekonomi pedagang dalam bingkai gusjigang bisa diartikan pada pedagang yang berdagang cukup menonjol di Kudus seperti usaha konfeksi, kain bordir, dan jenang kudus.

Di Kudus banyak pengusaha pemilik usaha (konfeksi, bordir, jenang), pedagang penjual eceran dan borongan (konfeksi, bordir, jenang), pedagang pengusaha dan eceran etnik Tionghoa, Arab, dan Jawa.

Bahkan ada yang menyebut untuk bisa disebut wong Kudus, seseorang harus memiliki perilaku gus; bagus rupa dan bagus laku. Meski lazimnya gus dari kata “agus” yang kebanyakan dipakai untuk anak kiai sebagai sebutan.

Merugikan Usaha

Dalam soal etos kerja, jika seseorang buruk laku tentu berakibat panjang. Paling tidak akan mengurangi kepercayaan orang lain dan selanjutnya akan merugikan usaha dagangnya. Orang yang berperilaku bagus disebut saleh.

Kesalehan seseorang disimbolisasikan dengan kaji, orang yang sudah beribadah haji. Mengapa kaji? Haji adalah simbol spiritualitas seseorang yang sudah melewati berbagai tahapan, seperti syahadat, shalat, puasa, dan zakat.

Tentu secara ekonomi seorang kaji sudah masuk kategori mampu, karena ongkos naik haji tidak murah. Jadi status kaji identik dengan identitas pengusaha. Dagang merupakan karakter khas yang hendak dibangun Sayyid Ja’far Shadiq.

Bisnis perdagangan yang hendak ditradisikan Sayyid Ja’far Shadiq adalah perdagangan yang jujur: jika berbicara tidak bohong, jika berjanji tidak mengingkari, jika dipercaya tidak berkhianat, jika membeli tidak mencela, jika menjual tidak memuji, jika berutang tidak lalai, dan jika punya piutang tidak mempersulit. Jadi perilaku gusjigang secara umum berciri unsur-unsur kewiraswastaan.

Umumnya mereka memiliki kejelian membaca peluang, kreatif, dan senantiasa menundukkan rasa takut, sehingga mampu bertahan dalam oposisi sosial. Di Kudus, tidak hanya kaum lakilaki yang harus bertanggung jawab memenuhi kebutuhan ekonomi.

Namun juga kaum wanita. Itu memang bukanlah fenomena yang berlaku atau yang terjadi hanya di masyarakat Kudus. Namun keterlibatan seluruh anggota keluarga dalam menjalankan usaha yang dikembangkan di masyarakat Kudus sangatlah dominan.

Istri pedagang kain bordir, misalnya, berkeahlian membordir. Sebagai contoh lain, sistem borongan dalam pembuatan bungkus rokok kretek merupakan cara yang telah mentradisi di kalangan wanita Kudus.

Peran itu mereka lakukan bersamaan dengan peran lain. Demikian juga laki-laki pengusaha atau pekerja sering mempunyai peran ganda dalam berusaha. Itu semua menggambarkan tingkat keuletan dan kerajinan menghadapi industrialisasi.

Gusjigang memang hanya sebutan karena tidak ada kitab atau ajaran yang secara khusus disampaikan atau ditulis, misalnya, oleh Sunan Kudus.

Gusjigang bisa disebut merupakan penerapan dari ajaran dan tuntunan Sunan Kudus dalam soal kemasyarakatan di seputaran Kudus.

Gusjigang baru populer setelah reformasi, dilontarkan oleh seorang narasumber dalam seminar menyongsong hari jadi Kudus. Sejatinya dokumen literasi tentang istilah gusjigang belum ada. Hanya berseliweran sebagai sumber lisan.

Mbah Sya’roni, misalnya, adalah salah seorang sesepuh yang sering menyebut istilah itu. Bahkan banyak yang menyatakan mengenal istilah gusjigangí justru dari dia saat pengajian Jumat bakda subuh di Masjid Menara Kudus.(44)

-Imam Khanafi,warga Kudus, pemimpin redaksi Buletin Sastra Keloepas, serta blogger dan penulis lepas

Berita Lainnya