04 Februari 2018 | Arsitektur

Menyongsong Bangunan Hijau Di Kota Semarang

  • Oleh Robert Rianto Widjaja

PERKEMBANGANKota Semarang lima tahun terakhir ini, banyak diwarnai oleh pertumbuhan gedung-gedung bertingkat (high rise building). Hal ini tentunya sangat menggembirakan, karena menunjukkan perkembangan kota yang positif, tidak hanya melebar tetapi juga bergerak ke arah vertikal. Seperti umumnya perkembangan di kota-kota besar lainnya, fungsi apartemen, hotel dan perkantoran mendominasi fungsi bangunan-bangunan tinggi tersebut.

Melihat maraknya bangunan tinggi yang bermunculan tersebut paling tidak ada tiga hal yang perlu dicermati, yaitu hal teknis, psokologis dan filosofis. Secara teknis, bangunan tinggi memiliki permasalahan umum berupa panas matahari yang menerpa langsung badan bangunan dan mengakibatkan suhu ruang dalam menjadi tinggi. Berbeda dengan bangunan berlantai rendah yang mudah diberi penghijauan peneduh bangunan.

Secara psikologis, gedung berlantai banyak memberikan perbedaan persepsi bagi penghuninya, karena perbedaan antara ruang yang membumi (landed room) dan ruang yang melayang (hanging room).

Secara filosofis, bangunan berlantai banyak memiliki tanggung jawab untuk tetap memberikan kenyamanan tanpa merusak lingkungan (keseimbangan). Perancangan bangunan tinggi yang baik, pada hakikatnya adalah kegiatan yang holistik (menyeluruh), mempertimbangkan semua aspek kehidupan manusia mulai dari yang paling teknis hingga filosofis.

Nilai Bangunan Hijau

Bangunan hijau (Green building) merupakan wujud fisik dari nilai-nilai kepedulian akan lingkungan. Dengan demikian, pembahasan tentang green building harus dimulai dari kesadaran akan nilai-nilai tersebut. Secara alami, nilai-nilai peduli lingkungan telah melekat dalam diri manusia. Di zaman purba ketika manusia menusia menggantungkan hidupnya pada kosmos (mitis), manusia sudah bergumul dengan alam dan menyatu hati dengan alam.

Alam adalah sumber kekuatan, baik itu berkah ataupun malapetaka yang melahirkan banyak ritual di dalam kehidupan manusia. Manusia purba dengan kemampuan pikirannya yang terbatas telah berhasil menciptakan karya rumah tinggal yang selaras dengan alam. Desa Waerebo di Flores misalnya, mampu menciptakan rumah bermukim yang menyatu dengan alam.

Selama 1.200 tahun 7 buah rumah inti yang berdiri di sana telah mengalami renovasi berulang-ulang tanpa merubah tatanan, bentuk maupun posisinya. Kekuatan alam yang diyakini, bahan bangunan yang digunakan, serta teknik sederhana tanpa paku (hanya ikat) mampu merangkum nilai-nilai holistik yang ada pada alam.

Semangat yang sama juga ditunjukkan oleh banyak karya arsitektur nusantara yang sangat kaya. Saat ini, manusia modern tidak lagi mempercayai mitis (sekalipun kepercayaan mitis tersebut tidak hilang). Kemajuan teknologi dan berbagai dampaknya lebih memberikan peluang bagi pengembangan rasionalitas yang terukur.

Sebagai akibatnya, kepedulian tentang alam lingkungan juga dimengerti secara rasional. Manusia mulai mengukur, menghitung, bereksperimen dan mengurai alam semesta. Alam yang dahulu dimengerti secara holistik utuh kini mulai banyak diurai bagian per bagian untuk dimengerti secara rasional. Kesibukan manusia modern adalah melakukan eksperimen tanpa henti terhadap alam semesta tempat tinggalnya. Upaya ini membuahkan hasil ketika nilai peduli lingkungan akhirnya dapat diukur melalui parameter yang rasional.

Perencanaan bangunan kemudian dapat dihitung secara menyeluruh, baik ukuran, bentuk, bahan dan juga kebutuhan energinya. Berbagai perangkat dan instrumen dapat diadakan untuk mempermudah realisasi pelaksanaannya. Sekalipun demikian, hal ini bukanlah sesuatu yang mudah, karena nilai peduli lingkungan harus dikembalikan pada kontribusinya bagi alam dan kepastiannya bahwa kegiatan yang dilakukan tidak memberikan dampak negatif bagi keberlanjutan alam semesta.

Inti dari nilai peduli lingkungan adalah pada pemahamannya yang holistik dan tidak parsial. Cara pandang mitis maupun rasional semestinya dapat disandingkan agar saling menopang dan memperkaya wawasan. Arsitektur sebagai cerminan budaya manusia memikul tugas berat untuk meramu kedua cara pandang tersebut dalam satu kesatuan karya yang berkualitas.

Peraturan Bangunan Hijau

Gerak perkembangan bangunan hijau yang mulai marak bermunculan di kotakota besar ditanggapi oleh lahirnya Peraturan Menteri Pekerjaan Umun dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia No 02/PRT/M/2015 tentang Bangunan Gedung Hijau.

Menurut peraturan tersebut, secara definitif, bangunan hijau dimengerti sebagai bangunan gedung yang memenuhi persyaratan bangunan gedung dan memiliki kinerja terukur secara signifikan akan penghematan energi, air dan sumber daya lainnya melalui penerapan prinsip bangunan gedung hijau sesuai dengan fungsi dan klasifikasi dalam setiap tahapan penyelenggaraannya (pasal 1 ayat 2).

Definisi ini memberikan penekanan bahwa bangunan hijau, selain menjalankan fungsinya sebagai sarana pemenuhan kebutuhan pemakai, juga mengemban tugas untuk menyelenggarakan penghematan energi, air dan sumber daya secara terukur dan terpantau. Melalui peraturan ini pemerintah memberikan gambaran menyeluruh mengenai persyaratan dan kriteria bangunan yang layak menyandang predikat sebagai bangunan hijau.

Persyaratan bangunan ini melekat dalam setiap tahapan penyelenggaraan bangunan yang meliputi tahap pemrograman, tahap perencanaan teknis, tahap pelaksanaan konstruksi, tahap pemanfaatan bangunan dan tahap pembongkaran. Sebagai upaya memberikan dorongan untuk terlibat dan melaksanakan bangunan hijau, pemerintah memberikan sertifikasi untuk bangunan hijau yang memenuhi syarat dan memberikan insentif kepada pihak yang layak mendapatannya.

Insentif yang ditawarkan berupa kemudahan perijinan, dukungan teknis dan kepakaran, promosi dan publikasi. Insentif berupa publikasi dan promosi adalah modal yang sangat menguntungkan bagi investor karena bernilai jual sangat tinggi. Pembinaan tentang bangunan hijau ditawarkan oleh pemerintah kepada setiap pihak yang memerlukan dan menjadi bagian dari pembinaan bangunan gedung.

Hal ini untuk mempercepat proses pembelajaran dan pemahaman tentang bangunan hijau. Pemerintah juga menghimbau masyarakat untuk turut ambil bagian dalam penyelenggaraan bangunan hijau melalui peranannya sebagai pendamping dan membantu sosialisasi tentang bangunan hijau.

Prospek Bangunan Hijau di Kota Semarang

Semarang adalah sebuah kota besar yang luas dengan beragam jenis bangunan. Bangunan berskala besar bersanding dengan bangunan-bangunan kecil, bangunan konservasi bersanding dengan bangunan-bangunan modern. Kemajemukan bentuk dan fungsi bangunan dalam kota menjadi ciri kota Semarang. Seyogyanya kemajemukan tersebut dipayungi oleh semangat ber-arsitektur yang sama, yaitu lingkungan binaan ramah lingkungan.

Sementara investor masih menimbang-nimbang tentang besarnya investasi untuk sebuah bangunan hijau, sudah saatnya pemerintah kota memberikan keyakinan bahwa bangunan hijau adalah investasi masa depan. Biaya pembangunan adalah investasi awal untuk menuai efisiensi pada masa pemanfaatan dan pemeliharaan gedung.

Peraturan Menteri PUPR no 02/PRT/M/2015 perlu segera ditindaklanjuti dengan peraturan walikota dan peraturan operasional yang mendukung, sehingga status pilihan untuk penyelenggaraan bangunan hijau lambat laun dapat dapat berubah menjadi wajib. Perancangan holistik dan berwawasan lingkungan memang bukan hanya diperuntukkan bagi bangunan-bangunan tinggi saja, semua produk arsitektur seyogyanya memiliki kualitas holistik dan berwawasan lingkungan.

Berkaca dari peliknya merencana bangunan hijau untuk bangunan tinggi, maka semangat bangunan hijau pada bangunan rendah (landed building) dapat lebih ditingkatkan untuk memberikan kontribusi pada keseimbangan lingkungan. Semarang, sebagai kota yang terus berkembang, memiliki masa depan bangunan hijau yang baik, sekalipun saat ini baru tercatat beberapa calon gedung hijau yang akan direalisasikan. (63)

_Robert Rianto Widjaja| Staf Pengajar Fakultas Arsitektur dan Desain Unika Soegijapranata; Wakil Ketua Bidang Sistem Informasi Arsitektur IAI Daerah Jawa Tengah

Berita Lainnya