image
28 Januari 2018 | Rileks

London Love Story Lagi

  • Oleh Sofie Dwi Rifayani

Sejak awal film London Love Story (LLS) disiapkan sebagai trilogi. Pembikin film drama romansa itu seolah-olah tak khawatir menyajikan konflik yang bagi sebagian orang terasa seperti alur sinetron.

Pada 1 Februari nanti menjadi pemutaran perdana sekuel terakhir London Love Story. Film produksi Screenplay Productions itu melanjutkan kisah cinta Dave (Dimas Anggara) dan Caramel (Michelle Ziudith). Dua sejoli yang merasakan jatuh-bangun hubungan percintaan sejak LLS 1 itu akhirnya merasakan kebahagiaan pada LLS 3. Caramel akhirnya wisuda di sebuah universitas di London, Inggris.

Kegembiraan Caramel makin lengkap manakala sang kekasih, Dave, melamar. Tak ingin menyimpan sendiri, pasangan yang telah berpacaran dua tahun itu pun ingin segera pulang ke Jakarta. Mereka ingin mengabarkan perkara itu ke ibu Caramel. Namun sebelumnya Dave dan Caramel sepakat hendak terbang dulu ke Bali. Di sana, pasangan itu hendak mengenang kembali awal-mula pertemuan mereka.

Berniat liburan, tetapi justru membuat Dave dan Caramel kesal. Pasalnya, ada lelaki yang terus-menerus muncul di hadapan mereka. Laki-laki itu adalah Rio (Derby Romero). Dokter itu yang ternyata punya kepentingan untuk mencari Caramel. Setelah Dave dan Caramel berpikir urusan dengan Rio beres, hambatan kembali mengadang. Mereka mengalami kecelakaan. Mobil yang mereka tumpangi bertabrakan dengan truk, sehingga terperosok ke dalam jurang. Nyawa keduanya terselamatkan, tetapi Caramel lumpuh. Tak hanya secara fisik, batin Caramel pun terluka. Kecacatan itu membuat dia tak ingin Dave menderita. Karena itulah, dia meminta Dave melepaskannya. Saat itulah, cinta Dave dipertaruhkan. Penulis skenario Tisa TS membuat Dave dan Caramel menghadapi ujian berbeda. Dalam LLS 1 dan 2, cobaan itu ìhanyaî berupa kesalahpahaman dan keberadaan orang ketiga. Dalam LLS 3, ujian meningkat. Kali ini, giliran takdir yang menguji kesungguhan cinta mereka.

Kembali Jadi Pasangan

Soal chemistryDimas dan Michelle, tak perlu diragukan lagi. Dua bintang muda andalan kisah percintaan Indonesia itu sudah berkaliulang diplot menjadi sepasang kekasih. Debut kerja sama mereka adalah sinetron Love in Paris (2012) yang ditayangkan di SCTV. Karena laris, sinetron ityu berlanjut dalam dua sesi.

Selanjutnya, mereka diceritakan menjalin kasih dalam film Magic Hour (2015). Magic Hour merupakan film kelima terlaris 2015 dengan 850.000 lebih penonton. Perolehan itulah mungkin yang membuat Screenplay Productions kembali memasangkan Dimas-Michelle. Selain duet Dimas dan Michelle, formula dialog puitis dalam Magic Hourkembali dihadirkan dalam trilogi LLS. Yang membuat LLS menarik adalah strategi promosi cerita.

Kebanyakan film digarap berdasarkan kisah dalam novel. Atau, novel diterbitkan karena sebuah film laris. Namun LLS berbeda. Untuk memperkenalkan cerita LLS, novelnya lebih dulu terbit dua bulan sebelum penayangan film LLS 1.

Penulis skenario Tisa TS membuat cerita novel itu berdasarkan skenario film LLS serta permintaan penggemar. Untuk menyempurnakan cerita, Tisa dibantu Stanley Meulen (Magic Hour). Strategi itu tak lain agar calon penonton film LLS bisa mengetahui garis besar cerita. Namun mereka tetap tidak mengetahui akhir kisah karena penyelesaian dalam novel dibuat menggantung. Sayang, meski sukses menyedot penggemar fanatik dan sejuta lebih penonton, plot LLS kerap dikomentari sebelah mata. Di media sosial, misalnya, tak sedikit yang menyatakan kecewa karena merasa jalan cerita terlalu sinetron.

Ada pula yang menyayangkan sutradara Asep Kusdinar (Promise, I Love You from 38.000 Feet) yang berkali-ulang memakai aktor yang sama untuk proyek filmnya. Lalu, seperti apa ”hasil akhir” LLS 3? Masihkah penggemar setia penasaran dengan akhir kisah Dave-Caramel? Dan bagi penggarap, apakah hanya jumlah penonton yang menjadi patokan kesuksesan LLS 3?(63)

Berita Lainnya