image

FOTO-FOTO SM/Agung Mumpuni : Patung Dewi Kwam Im tertinggi di Asia Tenggara

28 Januari 2018 | Jalan-jalan

Menyapa Dewi Kwam Im di Siantar

  • Oleh Agung Mumpuni

SELAMAini kota pematangsiantar atau biasa disebut Siantar di Sumatera Utara dikenal sebagai kota asal tokoh nasional. Adam Malik, mantan menteri dan wakil presiden pada masa pemerintahan Soeharto, misalnya, lahir di kota itu.

Di luar popularitas sebagai kota kelahiran para tokoh, Siantar juga menyimpan potensi besar wisata. Jika selama ini Siantar hanya berperan sebagai daerah transit atau persinggahan bagi wisatawan yang ingin berwisata ke Parapat, Samosir dan destinasi lain sekarang berubah menjadi salah satu kota tujuan wisata. Karena itu jika Anda berwisata ke danau Toba, jadwalkan kunjungan ke kota itu. Kota itu kaya dengan kultur multietnik, antara lain Simalungun, Toba, Karo, Mandailing, Nias, dan suku lain.

Kota Pematangsiantar juga memiliki tempat wisata seperti Museum Simalungun, makam Raja Siantar Sang Naualuh, patung Dewi Kwan Im, taman hewan, taman bunga, dan tempat berbelanja di pusat Pasar Horas. Kekayaan kuliner juga menjadi kebanggaan tersendiri kota itu. Kita mudah mendapatkan makanan tradisional yang sudah turun-temurun seperti pecel, rujak, mi sup, bakso, dan mi goreng. Roti ganda merupakan salah satu jenis roti tawar dengan selai khas yang cukup terkenal juga berasal dari kota itu.

Jika sudah berada di Siantar, tempat pertama yang seyogianya Anda singgahi adalah Museum Simalungun. Museum itu dibangun pada 10 April 1939 oleh raja-raja Simalungun untuk menjaga benda cagar budaya dan sejarah. Tercatat, pembangunan museum yang diresmikan pada 30 April 1940 itu menghabiskan biaya 1.650 gulden. Saat memasuki halaman museum, sebuah patung batu menyambut pengunjung. Di belakang patung batu terlihat bangunan berupa rumah adat Simalungun yang memiliki ciri khas, yaitu konstruksi bagian bawah atau kaki bangunan berupa susunan kayu gelondongan yang masih bulat-bulat, yang bersilangan dari sudut ke sudut. Ciri khas lain adalah bentuk, dengan anjungan diberi limasan berbentuk kepala kerbau lengkap dengan tanduk.

Di samping itu, bagian-bagian lain rumah itu diberi hiasan berupa lukisan berwarna merah, putih, dan hitam. Pada 1968, Bupati Radjamin Purba merenovasi Museum Simalungun. Sebab, banyak kerusakan di sana-sini. Namun perbaikan museum itu tidak bertahan lama karena keseluruhan bangunannya terbuat dari kayu. Untuk menyelamatkan benda-benda koleksi, pada 1982 Bupati Letkol (Purn) JPSilitonga meruntuhkan museum dan membangun kembali dengan bahan dari semen tetapi tetap meniru bentuk asli.

Bangunan baru berukuran 8 x 12 meter itu berdiri di atas lahan seluas 1.500 meter persegi. Koleksi Museum Simalungun berjumlah 860 buah. Koleksi itu meliputi peralatan hidup, gerabah, keramik, mata uang, koleksi arkeologis, dan kerajinan tangan. Ada juga naskah kuno yang mengandung berbagai aspek ilmu pengetahuan, seperti astrologi, astronomi, dan ramuan obat tradisional. Sayang, benda dan barang purbakala peninggalan kerajaan-kerajaan di Simalungun kini lusuh dan kusam. Sejarah pendirian museum ini berawal dari disertasi Dr ANJ Th Van Der Hoop berjudul Megalitich Remains in South Sumatera (1932). Karya itu mengupas tentang perdaban megalitik di Sumatera Selatan.

Berdasarkan hal itulah, Kontrolir Simalungun GLTichelman meneliti di Simalungun. Dia mengundang Raja Marpitu dan menyarankan agar melaksanakan harungguan bolon, rapat akbar, untuk membicarakan warisan megalitik di Simalungun. Pada 5 September 1935 dilaksanakanlah harungguan bolondengan kesepakatan menunjuk M Purba untuk survei ke setiap daerah yang memiliki warisan megalitik. Warisan megalitik yang sangat berharga pada masa itu adalah patung (batu) Silapalapa dari daerah Partuanon Hutabayu Marubun.

Atas izin Tuan Hutabayu Marubun Radja Ihoet Sinaga pada 1938 patung Silapalapa dibawa Voorhoeve ke Belanda dan disimpan di Museum Rijks Amsterdam. Museum Simalungun merupakan lembaran sejarah sangat penting bagi Simalungun. Itulah wujud nyata kepedulian para raja Marpitu terhadap generasi yang akan datang agar tak melupakan sejarah Simalungun. Dewi Welas Asih Dari Museum Simalungun, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Vihara Avalokitesvara. Sangat mudah menemukan vihara itu. Bangunan itu berada di kawasan strategis, jantung Kota Pematangsiantar.

Tepatnya di Jalan Pane, Kecamatan Siantar Selatan. Di vihara itu terdapat patung Dewi Kwan Im setinggi 22,8 meter. Itulah patung Dewi Welas Asih tertinggi di Indonesia dan Asia Tenggara. Dewi Kwan Im adalah sosok dewi penuh cinta kasih yang dipuja umat Buddha.

Dia adalah Bodhisattva atau calon Buddha, yakni manusia yang hampir mencapai kesucian dan kesempurnaan. Nama vihara itu merupakan sebutan Dewi Kwan Im yang berarti mendengar suara dunia. Patung Dewi Kwan Im itu terbuat dari batu granit. Proses pembuatan dikerjakan di Tiongkok memakan waktu sekitar tiga tahun. Patung itu berada di lantai atas bangunan berlantai dua. Sebelum masuk dan menaiki tangga, Anda akan disambut dua patung di dua sisi tangga. Itulah patung catur mahadewa-raja alias malaikat pencatat kebaikan dan keburukan. Keindahan patung Dewi kwan Im makin elok dengan keberadaan lampion- lampion yang menghiasi bagian depan bangunan.

Di depan patung terdapat lonceng besar dengan bangunan yang memesona. Kecantikan kawasan vihara itu dilengkapi pula dengan patung-patung shio sesuai dengan kepercayaan masyarakat Tionghoa. Patung shio berjejer rapi. Matungatung itu berwujud hewan-hewan simbol shio, seperti tikus, kerbau, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi. Vihara sebagai tempat peribadatan bagi umat Buddha iu memang dibangun untuk tujuan keagamaan. Namun karena keunikan dan keindahannya, vihara dengan patung Dewi Kwan Im itu menjadi daya tarik wisata religi. Tidak hanya bagi penganut Buddha, tetapi juga bagi penganut agama lain yang hendak melihat dan mengagumi kemegahan dan keindahannya. Tak cuma turis dalam negeri yang mengagumi patung Dewi Kwan Im itu.

Banyak turis mancanegara menyempatkan diri datang untuk mengagumi dan mengabadikan kemegahan patung itu. Situasi vihara yang tenang dan penataan lokasi yang asri memberikan kenyamanan bagi pengunjung untuk beribadat atau berwisata. Kolam ikan yang yang mengelilingi kompleks vihara menambah suasana makin tenang dan damai. Empat pilar berbentuk naga membuat bangunan vihara terlihat makin kukuh. Keempat pilar itulah yang menyangga patung Dewi Kwan Im di lantai dua.(44)

Berita Lainnya