image

FOTO UDARA SIRONGGE : Dusun Sawangan Desa Sirongge tampak dari udara terancam longsoran karena jaraknya terdekat dari mahkota dan luncuran material longsoran.(suaramerdeka.com/dok)

15 Februari 2018 | 07:36 WIB | Suara Banyumas

Badan Geologi Cek Longsor Sirongge

  • Akses Warga Terhambat

BANJARNEGARA, suaramerdeka.com- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara meminta bantuan Badan Geologi untuk melakukan survei dan kajian terkait dengan bencana tanah longsor yang terjadi di Desa Sirongge, Kecamatan Pandanarum.

Bukit di atas permukiman warga Dusun Sawangan desa itu, longsor sehingga kini mengancam warga dusun tersebut. Rumah-rumah warga sudah dikosongkan dan pemiliknya sementara ini mengungsi. Demikian pula SD 2 Sirongge yang berjarak paling dekat dengan longsoran, siswanya sudah diliburkan hingga situasi aman kembali.

"Kami meminta bantuan Badan Geologi untuk melakukan kajian di lokasi longsor dan sekitarnya sehingga rekomendasinya dapat dijadikan pedoman. Wilayah mana yang masih rawan gerakan tanah dan mana yang masih aman. Hal ini menyangkut kelangsungan hidup warga sehingga ini perlu dilakukan segera," kata Kalak BPBD Banjarnegara, Arief Rahman.

Ditambahkan, karena kondisi pergerakan tanah yang masih terjadi maka pengamatan longsoran sejauh ini dilakukan dari jarak aman. Selain itu juga menggunakan drone untuk melakukan foto udara dan pemetaan wilayah sekitar longsoran. Penjagaan wilayah sekitar longsoran dilakukan secara ketat, agar warga atau para wisatawan bencana tidak mendekat ke lokasi.

Bila sampai ada yang menerobos hingga ke lokasi longsoran, hal itu dapat membahayakan orang tersebut. "Jalan masuk ke dusun kami portal, dijaga TNI, Polisi dan juga sukarelawan. Yang tidak berkepentingan kami larang masuk karena gerakan tanah masih terjadi," katanya.

Kades Sirongge, Warno, saat ditemui wartawan mengatakan bencana tanah longsor juga memutus akses warga di dusun tiga, empat, lima dan enam. Oleh karena itu, kini sedang dibuat jalan alternatif di atas mahkota longsoran berupa jalan setapak.

Sebab, anak-anak sekolah, guru dan pedagang juga warga perlu keluar dan masuk dusun-dusun tersebut dalam beraktivitas dan menunaikan tugasnya. Apalagi penerangan di dusun-dusun tersebut juga padam. Jika sampai tidak bisa ke mana-mana tentu akan sangat menyulitkan kehidupan warga.

 

(M Syarif SW /SMNetwork /CN26 )