image

JALANI SIDANG: Terdakwa Hadianto alias Kelik, menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Pekalongan dalam kasus pemerasan dan pengancaman terhadap truk jaminan fidusia. (suaramerdeka.com/Kuswandi)

14 Februari 2018 | 21:30 WIB | Suara Pantura

Tarik Paksa Truk, Tiga Deb Collector Diseret ke Meja Hijau

PEKALONGAN, suaramerdeka.com- Tiga terdakwa debt collector sekaligus terpaksa harus duduk di kursi pesakitan dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Pekalongan, Rabu (14/2). Ketiganya masing-masing Hadianto, Dimas Seto Pranata, dan Muhammad Khifdi. Kasus itu bermula ketika ketiganya menarik satu unit truk colt yang merupakan jaminan fidusia milik H Murip Warnaim warga Kelurahan Pekajangan RT 05 RW 05 Kedungwuni Pekalongan, yang waktu itu dibawa oleh sopirnya, Abdul Kholik.

Truk tersebut ditarik secara paksa di Jalan Raya Wonopringgo Kabupaten Pekalongan, karena belum membayar angsuran kredit selama tiga bulan. Kredit truk colt dengan type FE 120 PS warna kuning bernopol G-1626-JB tersebut diketahui dibiayai melalui perusahaan lising PT BFI Finance Pekalongan.

Sidang sendiri digelar dengan agenda mendengarkan keterangan para saksi. Masing-masing Abdul Kholik (sopir truk), Tarmuji (kernet), H Murip Warnaim (pemilik kendaraan), dan Didik Santoso (anak dari pemilik kendaraan). Sidang sendiri dihadiri jaksa penuntu umum (JPU) Kejari Kajen. Termasuk, ke tiga terdakwa dengan berkas perkara terpisah.

Di hadapan majelis hakim yang dipimpin hakim ketua, Ikhwanudin, salah satu saksi, Abdul Kholik menjelaskan, kejadian itu berawal ketika dirinya dengan mengendarai truk colt nopol G-1626-JB pada saat melintas di Jalan Raya Wonopringgo bulan April 2015 lalu, diberhentikan oleh sekelompok orang tak dikenal dengan jumlah sekitar 12 orang dengan menggunakan motor dan mobil. Kemudian, di antara orang dimaksud memaksa Abdul Kholik dan Tarmuji, untuk turun dari kendaraannya. Dan, mereka selanjutnya memaksa mengambil kunci kendaraan, kemudian merampas truk tersebut. 

"Waktu itu saya sedang mengemudikan truk, tiba-tiba diberhentikan dengan cara melintangkan motor mereka di depan truk. Dan, mereka memaksa saya untuk turun," tutur Abdul Kholik.

Selang kemudian, di antara mereka ada yang mengambil kunci kontak kendaraan. Dirinya mengaku sempat mempertahankan kuncinya, tetapi justru diambil paksa. Menurutnya, usai mengambil paksa kunci, truk kemudian dibawa oleh mereka yang dikemudikan oleh terdakwa Hadianto. Bahkan, disela-sela perebutan kunci, Abdul Kholik mengaku tangan kirinya sempat terjepit pintu truk.

Tarmuji sendiri dibawa dengan menggunakan mobil APV yang dibawa kelompok deb collektor. Sementara, Abdul Kholik dibawa menggunakan truk. Setibanya di Alun-alun Kota Pekalongan, ke duanya kemudian diturunkan paksa. Sementara, truk colt tersebut dibawa oleh kelompok deb collektor tersebut.

"Saya sempat diancam dan dipaksa untuk tanda tangan berkas. Tetapi, waktu itu saya tolak," tegas Abdul Kholik.

Sementara, Tarmuji, saksi lainnya mengemukakan hal yang sama. Dirinya pada waktu mendampingi Abdul Kholik, tiba-tiba diturunkan paksa, dan kendaraan dibawa oleh sekelompok tak dikenal yang belakangan diketahui deb collektor.

Sementara H Murip Warnaim menjelaskan, truk yang ditarik diakui kredit melalui PT BFI Finance Pekalongan dengan jangka waktu kredit selama tiga tahun. Dan, pada waktu ditarik, diakui dalam posisi terlambat tiga angsuran. "Truk tinggal tiga angsuran lagi lunas. Waktu itu sempat ada surat teguran dari lising, tetapi sempat ada kesepakatan. Tetapi, truk justru ditarik secara paksa," tutur Murip, yang diketahui merupakan pengusaha batu split itu. 

Atas keterangan saksi, terdakwa Hadianto menyatakan tidak keberatan apa yang disampaikan saksi. Namun demikian, kata dia, diakui usai truk ditarik, sempat dikemudikan oleh dirinya. Tetapi, di tengah jalan, kemudi truk digantikan oleh temannya. "Ada sebagian yang keliru. Kemudi truk di tengah jalan digantikan oleh teman saya," tutur Hadianto.

Usai mendengarkan keterangan saksi, majelis hakim menutup sidang. Dan, sidang akan kembali digelar pekan depan. Sementara, dalam sidang sebelumnya JPU membacakan surat dakwaan kepada ke tiga terdakwa dengan berkas terpisah. Mereka didakwa melanggar KUHP Pasal 368 Ayat (1) KUHP jo. Pasal 55 Ayat (1) Ke-1, di mana telah melakukan, atau turut serta melakukan kejahatan yakni dengan maksud menguntungkan dirinya atau orang lain dengan melawan hukum, memaksa seseorang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memberikan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang itu atau orang lain atau supaya membuat hutang atau menghapuskan piutang.

Dan KUHP Pasal Pasal 335 Ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1, di mana mereka patut diduga melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan, secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan, atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, atau memakai ancaman kekerasan, baik terhadap orang itu sendiri mau pun orang lain. 

(Kuswandi /SMNetwork /CN40 )