image

Bupati Brebes Idza Priyanti menegur Kepala Puskesmas Sidamulya, Kecamatan Wanasari, saat melakukan sidak pelayanan atas kejadian yang menimpa pasien Icha Selvia (7 bulan). (Suaramerdeka.com/ Bayu Setiawan)

12 Desember 2017 | 13:50 WIB | Ibu dan Anak

Tak Ada Penolakan, Kesalahan Terjadi di Loket Pendaftaran

BREBES, Suaramerdeka.com -  Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes, dr Sri Gunadi Parwoko membantah, telah tejadi penolakan terhadap pasien Icha Selvia (7 bulan) untuk berobat di Puskesmas Sidamulya, Kecamatan Wanasari. Dari hasil klarifikasi terhadap kasus yang menimpa bayi itu, diketahui tidak ada penolakan terhadap pasien, tetapi ada kesalahan dan miskomunikasi di loket pendaftaran puskesmas.

"Perlu saya luruskan, sebenarnya tidak ada penolakan pasien. Namun kami akui memang terjadi miskomunikasi di loket pendaftaran. Petugas loket meminta orang tua pasien untuk mengambil identitas diri, tetapi malah ke bidan desa dan tidak kembali," ungkapnya saat mendampingi Bupati Brebes Idza Priyanti melakukan inspeksi mendadak pelayanan di Puskesmas Sidamulya, Selasa (12/12).

Dia menjelaskan, saat pasien datang ke puskesmas tidak dalam kondisi darurat. Pasien masih dalam kondisi segar dan orang tua juga tidak panik. Di sisi lain, masyarakat yang datang ke Puskesmas Sidamulya itu dianggap untuk mendapatkan pelayanan rawat jalan dan bukan rawat darurat, karena status puskesmas sementara ini hanya untuk rawat jalan.

Dengan kondisi pasien yang biasa itu, petugas meminta orang tua pasien mengambil identitas diri. "Karena pasien ini kondisinya tidak darurat, maka petugas loket meminta untuk mengambil identitas diri. Ini karena orang tua pasien saat datang tidak bawa identitas, baik KTP, KIS, KK atau lainnya," jelas dia.

Di tingkat puskesmas, tandas dia, pelayanan tidak dibedakan antara yang kaya dan miskin. Warga yang datang mendapat pelayanan sama dan semua gratis. Ketika pasien datang dalam kondisi darurat, lebih diutamakan terhadap penanganan pasien, dan masalah administrasi dapat dikesampingkan.

"Jadi, semuanya ada SOP, baik di loket pendaftaran hingga penanganan medis, dan ini harus dipatuhi semua petugas kesehatan. Kami akui memang terjadi misskomunikasi di loket pendaftaran, sehingga soelah-olah pasien ditolak. Padahal tidak ditolak karena hanya diminta mengambil identitas diri, tetapi pasien tidak kembali," terangnya.

Hal itu juga ditegaskan Kepala Puskesmas Sidamulya, Kecamatan Wanasari, dr Arlinda. Menurutnya, tidak ada kesenggajaan pihak puskesmas menelantarkan pasien. Orang tua bersama pasien datang ke puskesmas dan mendaftar di loket pendaftaran dengan tidak membawa identitas apa pun. Sedangkan kondisi pasien tidak dalam keadaan darurat dan orang tua juga tenang-tenang saja.

"Orang tua pasien ini sebenarnya sering datang ke puskesmas, karena semua anaknya juga berobat di sini (puskesmas-red). Namun setiap kali datang berobat, selalu tidak membawa identitas diri dan ini sudah berulang kali diingatkan. Sehingga, petugas kami menganjurkan untuk mengambil identitas diri baik kartu BPJS, KIS atau KK. Jadi tidak ada yang menolak," ungkapnya.

Setelah itu, kata dia, orang tua bersama pasien justru pergi mendatangi Polindes di Balai Desa. Lantaran bidan di polindes tidak ada, ia kemudian datang rumah bidan dan yang bersangkutan ternyata sedang berada di puskesmas. Bahkan, suami bidan desa sempat juga diarahkan orang tua pasien ke puskesmas karena masih jam kerja.

"Petugas kami menganjurkan orang tua mengambil identitas diri ini, karena kondis pasien tenang dan tidak ada kegawatdarutatan. Tapi, ditunggu lama malah tidak kembali ke puskesmas. Kami tidak tahu kenapa tidak kembali," sambungnya.

"Atas kejadian ini, kami langsung melakukan evaluasi. Semua petugas di loket pendafataran kami geser ke dalam kantor diganti petugas lain. Idealnya, di loket pendaftaran ini petugas jaga berasal dari rekam medis, tetapi kami belum mempunya tenaga rekam medis ini dan sudah diajukan ke Badan Layanan Umum serta Dinas Kesehatan," pungkas Arlinda. 

(Bayu Setiawan /SMNetwork /CN33 )