|
Halaman 1 dari 2 Mungkin doa seperti itulah yang perlu kita panjatkan untuk nyolu Tuhan dalam kondisi negara yang seperti sekarang ini. Bagaimana tidak, pemerintah seakan tak lagi mendengarkan jeritan rakyat dan juga teriakan protes dari mahasiswa. Bahkan tak jarang aksi massa dihadapi dengan pentungan, meski terkadang dipicu juga gara-gara aksi yang anarkis dari massa.
Menurunkan harga BBM tentunya bukanlah perkara mudah bagi pemerintah. Selain harus menanggung malu karena menjilat ludah sendiri, juga tentunya pemerintah tak ingin kehilangan wibawa di hadapan rakyatnya dan tentunya tak ingin kehilangan “untung” dari penarikan subsidi BBM. Lagi pula dalam sejarahnya tak pernah ada BBM turun harga. Yang ada selalu naik, naik dan naik.
Dalam kondisi yang karut-marut semacam ini, menimpakan sepenuhnya kesalahan kepada pemerintah tentunya bukanlah sebuah sikap bijak, meski juga bukan sikap yang terlalu salah. Hal itu dikarenakan pemerintah seharusnya mengambil kebijakan yang berpihak kepada rakyat dengan mencarai solusi yang paling sedikit resiko bagi rakyat untuk menanggung derita dari imbas kebijakan yang diambil pemerintah, serta rakyat juga seharusnya mampu menopang program negara guna kesejahteraan bersama.
Coba bayangkan, seandainya sedari dahulu rakyat kita manut untuk hemat BBM dan membatasi jumlah kendaraan pribadi, tentunya konsumsi BBM tak akan melonjak seperti sekarang. Pemerintah pun sama, seandainya kilang-kilang minyak kita bisa secara optimal dikelola bangsa sendiri tanpa diberikan kepada swasta asing, tentunya kebutuhan dalam negeri tak perlu dipenuhi dari impor BBM.
Agak aneh rasanya ketika kita merasakan BBM mahal di tengah kondisi sumber daya alam kita yang berlimpah akan minyak bumi. Laiknya peribahasa, kita seperti tikus mati di lumbung beras.
Nasionalisasi dan berdikari Untuk keluar dari krisis yang semacam ini, yang perlu dilakukan pertama kali adalah perbaikan mental bangsa. Mental-mental penjual negara, mental-mental pengemis, mental-mental pemborosan sudah seharusnya kita tendang jauh-jauh. Tambang-tambang bahan energi kita harus segera dinasionalisasi agar amanah UUD 1945 dapat terrealisasi secara konsisten dan konsekwen.
Bukankah sudah diamanatkan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang ada di dalamnya yang menyangkut hajat hidup orang banyak dikuasai negara dan digunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat? Tentunya kondisi seperti sekarang ini di mana tambang-tambang minyak kita justru banyak dikuasai swasta, bahkan perusahaan-perusahaan multinasional telah jauh menyimpang dari falsafah bangsa kita bukan?
Kita juga harus membuang mental pengemis. Meski bisa dikatakan sudah terlambat, terlebih dengan program BLT yang benar-benar telah menjadikan rakyat kita bermental ”pengemis”, namun tentunya mentalitas semacam itu sudah seharusnya kita buang jauh-jauh.
Bukankah founding father kita Soekarno senantiasa menekankan konsep hidup ”Berdikari”? Ya, berdiri diatas kaki sendiri. Kita harus bisa mandiri dalam menmghadapi tantangan global. Termasuk menghadapi mahalnya BBM akibat pasar global yang menghendaki hal itu, kita seharusnya bisa mengatasi. Hal itu dikarenakan kita memiliki sumber daya alam yang melimpah dan beragam guna pemenuhan kebutuhan energi.
Seharusnya kita tak terpengaruh sedikitpun akan naiknya harga minyak dunia, karena kita memiliki segalanya. Wajar jika di Inggris ataupun di Amerika harga BBM naik. Karena negara-negara tersebut memang tak mempunyai sumber-sumber minyak yang melimpah seperti negara kita.
Selain itu, kita juga bisa memanfaatkan bahan-bahan energi alternatif lainnya yang sedari dulu kebanyakan hanya seputar wacana tanpa pengembangan dan research yang serius dari pemerintah. Seandainya sedari dahulu kita telah menjalankan aneka program energi alternatif, bisa jadi disaat kenaikan harga BBM dunia, kita justru mengambil untung dengan mengeksport BBM kita keluar negeri dikarenakan untuk konsumsi dalam negeri kita cukup menggunakan bahan bakar alternatif. Mulai dari bahan bakar gas, panas bumi, batu bara, matahari, hingga bahan-bahan seperti jarak, sawit, bahkan aneka limbah tanaman yang bisa dijadikan beriket arang, dimiliki semua oleh bangsa kita. Namun sepertinya pemerintah mau enaknya saja dengan mengambil BBM dari perut bumi, dan menganggurkan ratusan pakar-pakar dibidang energi alternatif.
Hal lain yang patut mendapatkan penekanan tentu saja dalam hal mentalitas dan gaya hidup hemat energi. Aneka pemborosan harus segera kita hentikan. Kita harus menggalakkan untuk naik transportasi umum, mengkonversi bahan bakar dari energi yang tak dapat diperbarui kepada energi yaqng dapat diperbarui, dan tentu saja mengurangi konsumsi energi yang tidak perlu.
Kalangan pejabat sudah seharusnya memberikan keteladanan mulai dari jalanan. Mereka sudah seharusnya dibiasakan menggunakan transportasi umum, tak hanya ketika acara simbolis peresmian moda transportasi umum saja, namun juga sebagai pengguna transportasi umum yang setia. Selain untuk memberikan pelajaran egaliterisme, juga agar para pejabat bisa merasakan dan sering melihat secara langsung bagaimana penderitaan rakyat yang ada di sekitar jalanan.
Memang susah untuk melakukan perubahan, namun bukankah tak ada yang tak mungkin di dunia ini? Sudah saatnya kita bangga dan mengagumi konsep hidup para negarawan kita dengan tak hanya memakai aneka atribut serta tempelan gambar pahlawan di tembok-tembok kamar serta sekolah kita, namun rasa kenegarawanan harus kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Terutama dalam hal kemandirian, tentunya kita bisa mengambil salah asatu pesan filosofis dari founding father kita Soekarno, yaitu ”Berdikari”. Ya, mari kita berdiri diatas kaki kita sendiri.
Views: 2527
<< Awal < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >> |