Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   
Mari Berdikari PDF Cetak E-mail
Penilaian Pembaca: / 3
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Heni Purwono   
24-10-2008,
Mungkin doa seperti itulah yang perlu kita panjatkan untuk nyolu Tuhan dalam kondisi negara yang seperti sekarang ini. Bagaimana tidak, pemerintah seakan tak lagi mendengarkan jeritan rakyat dan juga teriakan protes dari mahasiswa. Bahkan tak jarang aksi massa dihadapi dengan pentungan, meski terkadang dipicu juga gara-gara aksi yang anarkis dari massa.

Menurunkan harga BBM tentunya bukanlah perkara mudah bagi pemerintah. Selain harus menanggung malu karena menjilat ludah sendiri, juga tentunya pemerintah tak ingin kehilangan wibawa di hadapan rakyatnya dan tentunya tak ingin kehilangan “untung” dari penarikan subsidi BBM. Lagi pula dalam sejarahnya tak pernah ada BBM turun harga. Yang ada selalu naik, naik dan naik.

Dalam kondisi yang karut-marut semacam ini, menimpakan sepenuhnya kesalahan kepada pemerintah tentunya bukanlah sebuah sikap bijak, meski juga bukan sikap yang terlalu salah. Hal itu dikarenakan pemerintah seharusnya mengambil kebijakan yang berpihak kepada rakyat dengan mencarai solusi yang paling sedikit resiko bagi rakyat untuk menanggung derita dari imbas kebijakan yang diambil pemerintah, serta rakyat juga seharusnya mampu menopang program negara guna kesejahteraan bersama.

Coba bayangkan, seandainya sedari dahulu rakyat kita manut untuk hemat BBM dan membatasi jumlah kendaraan pribadi, tentunya konsumsi BBM tak akan melonjak seperti sekarang. Pemerintah pun sama, seandainya kilang-kilang minyak kita bisa secara optimal dikelola bangsa sendiri tanpa diberikan kepada swasta asing, tentunya kebutuhan dalam negeri tak perlu dipenuhi dari impor BBM.

Agak aneh rasanya ketika kita merasakan BBM mahal di tengah kondisi sumber daya alam kita yang berlimpah akan minyak bumi. Laiknya peribahasa, kita seperti tikus mati di lumbung beras.

Nasionalisasi dan berdikari
Untuk keluar dari krisis yang semacam ini, yang perlu dilakukan pertama kali adalah perbaikan mental bangsa. Mental-mental penjual negara, mental-mental pengemis, mental-mental pemborosan sudah seharusnya kita tendang jauh-jauh. Tambang-tambang bahan energi kita harus segera dinasionalisasi agar amanah UUD 1945 dapat terrealisasi secara konsisten dan konsekwen.

Bukankah sudah diamanatkan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang ada di dalamnya yang menyangkut hajat hidup orang banyak dikuasai negara dan digunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat? Tentunya kondisi seperti sekarang ini di mana tambang-tambang minyak kita justru banyak dikuasai swasta, bahkan perusahaan-perusahaan multinasional telah jauh menyimpang dari falsafah bangsa kita bukan?

Kita juga harus membuang mental pengemis. Meski bisa dikatakan sudah terlambat, terlebih dengan program BLT yang benar-benar telah menjadikan rakyat kita bermental ”pengemis”, namun tentunya mentalitas semacam itu sudah seharusnya kita buang jauh-jauh.

Bukankah founding father kita Soekarno senantiasa menekankan konsep hidup ”Berdikari”? Ya, berdiri diatas kaki sendiri. Kita harus bisa mandiri dalam menmghadapi tantangan global. Termasuk menghadapi mahalnya BBM akibat pasar global yang menghendaki hal itu, kita seharusnya bisa mengatasi. Hal itu dikarenakan kita memiliki sumber daya alam yang melimpah dan beragam guna pemenuhan kebutuhan energi.

Seharusnya kita tak terpengaruh sedikitpun akan naiknya harga minyak dunia, karena kita memiliki segalanya. Wajar jika di Inggris ataupun di Amerika harga BBM naik. Karena negara-negara tersebut memang tak mempunyai sumber-sumber minyak yang melimpah seperti negara kita.

Selain itu, kita juga bisa memanfaatkan bahan-bahan energi alternatif lainnya yang sedari dulu kebanyakan hanya seputar wacana tanpa pengembangan dan research yang serius dari pemerintah. Seandainya sedari dahulu kita telah menjalankan aneka program energi alternatif, bisa jadi disaat kenaikan harga BBM dunia, kita justru mengambil untung dengan mengeksport BBM kita keluar negeri dikarenakan untuk konsumsi dalam negeri kita cukup menggunakan bahan bakar alternatif. Mulai dari bahan bakar gas, panas bumi, batu bara, matahari, hingga bahan-bahan seperti jarak, sawit, bahkan aneka limbah tanaman yang bisa dijadikan beriket arang, dimiliki semua oleh bangsa kita. Namun sepertinya pemerintah mau enaknya saja dengan mengambil BBM dari perut bumi, dan menganggurkan ratusan pakar-pakar dibidang energi alternatif.

Hal lain yang patut mendapatkan penekanan tentu saja dalam hal mentalitas dan gaya hidup hemat energi. Aneka pemborosan harus segera kita hentikan. Kita harus menggalakkan untuk naik transportasi umum, mengkonversi bahan bakar dari energi yang tak dapat diperbarui kepada energi yaqng dapat diperbarui, dan tentu saja mengurangi konsumsi energi yang tidak perlu.

Kalangan pejabat sudah seharusnya memberikan keteladanan mulai dari jalanan. Mereka sudah seharusnya dibiasakan menggunakan transportasi umum, tak hanya ketika acara simbolis peresmian moda transportasi umum saja, namun juga sebagai pengguna transportasi umum yang setia. Selain untuk memberikan pelajaran egaliterisme, juga agar para
pejabat bisa merasakan dan sering melihat secara langsung bagaimana penderitaan rakyat yang ada di sekitar jalanan.

Memang susah untuk melakukan perubahan, namun bukankah tak ada yang tak mungkin di dunia ini? Sudah saatnya kita bangga dan mengagumi konsep hidup para negarawan kita dengan tak hanya memakai aneka atribut serta tempelan gambar pahlawan di tembok-tembok kamar serta sekolah kita, namun rasa kenegarawanan harus kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Terutama dalam hal kemandirian, tentunya kita bisa mengambil salah asatu pesan filosofis dari founding father
kita Soekarno, yaitu ”Berdikari”. Ya, mari kita berdiri diatas kaki kita sendiri.



Views: 2527

Komentar (12)
RSS comments
1. 15-05-2009 11:34, 11:34
mn
2. 15-05-2009 11:33, 11:33
kita perlu sebuah paradigma
budaya asing yang merusak telah banyak meracuni bangsa ini. kita perlu merubah cara pandang generasi muda, dari jiwa konsumtif/ instan. beralaih pada integritas sebAGAI mahluk yang otonom yang hidup di indonesia. perlunya integritas bukan hanya memperhatikan sebuah penghargaan tetapi dari perjuangan.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
3. 11-11-2008 15:28, 15:28
semua tu pasti berlalu
menurut saya se
Guest
4. 10-11-2008 11:28, 11:28
eksekusi hukuman mati via SMS
hukuman mati terhadap seorang atau bebberapa orang yang telah terbukti benar-benar membunuh manusia yang tidak bersalah adalah perbuatan biadab dan tidak berperikemanusiaan,bila eksekusi hukuman mati bisa diganti dengan alternatif via sms dan juga sebagai pengganti regu tembak yang mengeksekusi, sepertinya bebab moril regu tembak juga berkurang, walaupun mereka atas nama negara, tetapi regu tembak juga manusia yang punya hati nurani, sepertinya memang sudah teruji mentalnya, lalu bagaimana bila yang mengeksekusi atas nama rakyat dan juga atas nama pemerintah Republik Indonesia, dengan cara via sms, polling sms, dengan melibatkan seluruh operator telepon selular, lalu bagaimana caranya....." Aq punya konsepnya" saya yakin yang setuju akan banyak, dan eksekusi bisa cepat dilaksanakan,mau hukumn dengan cara ditembak bisa, dengan cara digantung juga bisa, dipenggal apalagi pasti sangat bisa dilaksanakan......tinggal undang-undang saja yang dibuat untuk mengakomodir semuanya itu.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
5. 07-11-2008 11:55, 11:55
realita
kalau kita belajar atau merujuk sejarah Negara-2 maju di dunia yang saat ini masuk dalam G 8 tdk ada yang 100% berdikari semuanya saling bergantung dan membutuhkan dalam segalanya terutama Ekonomi tapi dari mereka kita belajar kuncinya yaitu pemecahannya terdapat pada sistem pemerintahan yg demokratis dan secara sistemik menjamin atau mengutamakan kesejahteraan rakyatnya yg memilih dalam pemilu yg jg didukung oleh pers bebas karena kalau tdk sanggup maka para kandidat pemimpin atau wakil rakyat tdk akan dipilih pada pemilu selanjutnya, jadi saat pemilu pilihlah kandidat pemimpin dan wakil rakyat yang mempunyai kapabilitas yang mampu mewujudkan kebijakan yang memuliakan dan menyejahterakan rakyat diantaranya menurunkan secara drastis angka kemiskinan dan penggangguran, pemenuhan segala kebutuhan dasar rakyat secara menyeluruh, meningkatkan pendapatan dll.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
6. 04-11-2008 10:11, 10:11
cepet dong
peraturan perundang2an RI tidak konsisten untuk menghukum penjahat yang sangat meresahkan masyarakat indonesia berbelit2 dan terkesan di bela-belain dasar.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
7. 04-11-2008 08:37, 08:37
Setan menyerupai Tuhan
Itulah namanya kalau Baasyir dan pesantrennya, Amrozi,dkk-nya jika tidak berdoa dengan hati nurani. Yang mereka lihat dan rasakan adalah Tuhan padahal Setan....
 
Maka berhati-hatilah. Berani jadi kiyai ya berani menentramkan hati umat dan pesantrennya donk. Bukan membuat panas hati orang.
 
Kiyai apa teroris itu namanya.
 
Jangan jadikan akan sebagai kedok untuk bertindak seenaknya di sebuah negara merdeka yang namanya Indonesia.
 
Kalo ndak mau ikut-ikutan aturan di Indonesia ... bagi semua yang membela Amrozy, gampang koq. Cari aja daerah tak bertuan jadikan itu negara kalian. Jangan di indonesia.
 
Sekali lagi dalam Setan mampu merubah pandangan manusia seolah-olah melihat Tuhan.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
8. 30-10-2008 10:44, 10:44
Ini Indonesia Bung!!
Bung Gendhot, saya salut dengan tulisan Anda yang berani dan jujur. Saya yakin Anda pasti tahu konsekuensi apa yang akan timbul dengan menulis masalah yang \"peka\". Ibaratnya Anda sudah menebar angin dan menuai badai. Jadi ya saya harap Anda tabah dan tetap tegar hati apabila sambutan yang Anda peroleh cukup luar biasa. Tentu saja sambutan yang nadanya pro, kontra, mengecam, mendukung, dsb.dsbnya. Yah,rupanya mereka mereka terpancing dengan tulisan Anda. Saya cuman mau urun rembug bahwa kita hidup di Indonesia dengan kepribadian, budaya dan pola hidup spesifik. Jangan melihat ke Turki, Arab Saudi, Amerika, Australia atau di mana saja. Sebetulnya heran juga ya, lha wong mereka bisa kok kita enggak ya?Yah, masalah KTP Indonesia ya saya nikmati saja. Ada yang memerlukan tapi ada juga yang nggak butuh KTP. Dan lagi saya menilai seseorang bukan dari AGAMAnya tapi dari perilaku dan sepak terjangnya. Jadi nggak ada yang salah dengan agama cuman kita saja yang kadang salah menyikapinya. Akibatnya orang jadi menyelidik, menduga dan apriori dengan tulisan Anda. Wah, jangan jangan Bung Gendhot ini Islam phobia, orang nggak punya kerjaan, ada tendensi di balik tulisan dll.dll. Ya sudahlah wong nasi sudah jadi bubur. Nikmati saja komentar komentar tanpa harus membuat Anda patah semangat, nglokro atau mutung. Tetaplah menulis dengan pemikiran kritis tentu saja harus bisa dipertanggung jawabkan. Kalau saya sih lebih ke arah bagaimana supaya ngurus KTP itu bisa cepat dengan biaya ringan dan nggak di salah gunakan. Aneh kan ada penduduk kok punya 5 bh KTP dengan 5 nama padahal katanya sistem KTP sudah on line. Tapi Ini Indonesia Bung.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
9. 27-10-2008 11:35, 11:35
negeri gemah ripah
Kita sering membanggakan diri sebagai negeri gemah remah loh jinawi. Dan Koes Plus di lirik lagu Nusantara mengatakan bukan lautan hanya kolam susu, tongkat dan kayupun jadi tanaman. Tapi ironisnya untuk membeli minyak tanah harus antri. Beras juga impor. Ajakan untuk mandiri dan berdikari dianggap ajaran berbau ORLA. Sangat jarang kita temui Pejabat pejabat kita berperilaku sederhana dengan pola hidup yang sederhana pula. Ibu ibu Pejabat kita sering dianggap tukang shopping di luar negeri dan itu sudah dikenal oleh oraang manca negara. Sepertinys kits tsk pernah punya empati dan rasa prihatin dengan fakta semacam ini. Tengoklah India yang penduduknya lebih bayak dari ikita dan kaum miskinnya juga banyak dengan sumber alam yang minim. Mereka meneruskan perjuangan Mahatma Gandhi dengan ahimsa nya. Pejabat pejabat di Parlemen naik mobil yang tidak bisa dibilang mewah. Mereka bahkan sangat sederhana dipandang dari kaca mata kita. Seharusnya kita bisa berbuat lebih baik dari India. Masalahnya kita terbiasa menjadi bangsa yang manja, tidak mau bersusah payah, dan selalu berharap ada negara yang bisa menolong kita di saat kesulitan datang.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
10. 26-10-2008 02:42, 02:42
Seandainya saja....???
Tulisan yang BAGUS, namun lebih bagus lagi apabila yang sdri Heni Purwono tuliskan benar2 diterapkan dan dilaksanakan oleh seluruh warga Indonesia baik mulai dari para pemimpin sampai pada rakyat jelata, niscaya negara Indonesia kita tercinta ini akan mampu bersaing dengan Jepang, Korea, China ataupun negara adidaya Amerika bahkan kemungkinan menjadi no : 1 di dunia, karena kita mempunyai satu hal yg tidak mereka miliki yaitu Sumber Daya Alam yg melimpah. Tinggal bagaimana kita mengelola Sumber Daya Manusia nya, mungkin dengan pendidikan gratis mulai dari jenjang sekolah dasar sampai (terutama) ke perguruan tinggi. Dengan pendidikan gratis tersebut maka semua warga negara akan mendapatkan kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan tingkat tinggi dan akan menambah pula tenaga2 ahli dalam berbagai bidang untuk membangun Indonesia. Yang jadi pertanyaan bagi kita semua adalah KAPAN...??? akankah kita harus sampai menunggu SDA kita habis, dan kita tidak punya apa2 lagi untuk dibanggain kecuali kata2 : "yang penting kita bisa hidup."
Guest
RAKYAT MENGGUGAT


Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   
©2008 SuaraWarga - Suara Merdeka CyberNews Groups
Groups
Suara Merdeka

PENCARIAN
ANGGOTA





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
TERPOPULER
TERBAIK
POLING
Apakah Suara Warga ini memberikan manfaat bagi anda?
 
KOMENTAR TERBARU
angkatan berapa si, linda sbg sastrawan :zzz
selengkapnya...

saya berpendapat beda. guru harus tidak kopi paste ilmu dari...
selengkapnya...

pemkot hrs sosialisasi dl,,pasti warga terutama anak2 mudany...
selengkapnya...

Denagan hormat, saya sorang musafir yg di di bajak oleh petu...
selengkapnya...

Di rimah gue juga banyak tokek, bila yang berkepentingan but...
selengkapnya...

MASCOM WAWASAN CEMPAKA OLGA OTOSPEED SUARA SAKTI TRAX FM