Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   

Mencerdaskan Kehidupan Bangsa,Tugas Siapa?? PDF Cetak E-mail
Penilaian Pembaca: / 10
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Jalil Irfanartiko   
06-05-2012,

Hidup dalam kerangka Negara kesatuan Republik Indonesia membawa kita pada kehidupan kebhinekaan. Dimana terdapat ribuan perbedaan yang menjadi kekayaan bangsa. Kekayaan yang sekaligus rentan terjadi boomerang jika tak pandai mengelola dan memanajemen gesekan yang ada. Suku, bahasa, agama, budaya dan masih banyak lagi keragaman yang kita miliki. Tampak seperti pelangi yang indah di atas langit Lazuardi dan bak kumpulan bunga di taman pertiwi. Kebergaman itu membawa pola berpikir yang beragam pula. Wajar kiranya hal itu terjadi, karena beragam nya sudut pandang dan cara pandang yang berbeda. Namun dari segala keberagam itu harus disatukan dalam satu frame untuk kepentingan Negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. Jangan terlalu menuntut hak untuk golongan dan pribadi sebelum menunaikan kewajiban sebagai warga Negara. Kewajiban yang paling mendasar dan diatur dalam Undang Undang Dasar 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Mencerdaskan kehidupan bangsa, dalam UUD 1945 merupakan kewajiban Negara. Dalam definisi umum Negara melingkupi warga Negara, wilayah dan kedaulatan. Warga Negara adalah bagian terpenting dari sebuah Negara. Untuk itu pasal dalam UUD 1945 tidak hanya berlaku sempit kepada pemerintah semata, tapi seluruh warga Negara. Dengan kewenangan dan kewajiban yang lebih besar kepada pemerintah yang tengah berkuasa. Karena mengabaikan pendidikan atau upaya pencerdasan kehidupan bangsa merupakan pelanggaran terhadap UUD 1945. Pelanggaran terhadap konstitusi dasar dapat berakibat pada adanya pemakzulan terhadap presiden. Lantas apakah waga Negara yang lain tidak memiliki kewajiban yang sama dengan apa yang dipikul pemerintah? Jika melihat uraian sebelumnya, setiap warga Negara berkewajiban dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dalam artikel ini saya lebih suka mengartikan kehidupan bangsa dengan pendidikan. Dengan cakupan pendidikan formal dan pendidikan alam. Pendidikan formal lebih diarahkan untuk meraih keterampilan tapi tetap mengedepankan pembentukan karakter. Pendidikan formal ini seharusnya bisa di cover pemerintah secara menyeluruh dan dapat dirasakan seluruh masyarakat. Kondisi yang ada masih banyak masyarakat yang belum bisa merasakan pendidikan formal yang diberikan pemerintah.

Di sini lah peran serta masyarakat, tidak hanya menyalahkan pemerintah karena belum mampu melayani tuntutan masyarakat. Tetapi lebih bergerak untuk memberikan pelayanan yang sama dengan cara penciptaan iklim pendidikan. Dimana titik tekan dari pendidikan adalah penanaman nilai moral dan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang didapat dibangku pendidikan formal tak akan bisa maksimal tanpa ada nya praktikum di lapangan. Dan berinteraksi dengan masyarakat merupakan praktikum yang paling berhasil dan paling penting.

Lantas peran seperti apa yang paling bisa diberikan masyarakat untuk andil dalam memberikan sumbangsih pendidikan itu. Berperan sesuai profesi lah yang bisa dilakukan. Jika anda adalah petani, buruh, nelayan maka anda dapat memberikan sumbangsih berupa mengajarkan point positif yang anda dapatkan dari kegiatan bertani, buruh dan nelayan. Saya masih ingat peribahasa yang berbunyi jangan kamu lihat dari mana ilmu itu berasal, tapi lihat dan perhatikanlah kandungan dari ilmu itu. Begitupun dengan peran masyarakat yang dianggap kurang dalam hal pendidikan formal akan kurang memiliki peran dalam hal pendidikan formal dan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Seorang petani memiliki konsep menanam padi yang tak dimiliki seorang arsitektur bergelar guru besar sekalipun. Konsep menanam padi yang begitu sederhana namun kaya akan makna dan filosofi yang justru berasal dari pemikiran seorang petani. Dimana konsep itu mengajarkan bahwa jika kita menanamkan rumput (gulma) kita tidak akan menuai padi (hasil panen).

Namun jika kita menanam padi (kebaikan) pasti akan ada rumput (gulma,keburukan) yang ikut tumbuh, dan jika kita tidak bersihkan rumput itu maka pada yang kita tanam tidak akan membawa kebaikan secara utuh. Hal ini menunjukan bahwa ketika kita menanam kebaikan maka kita harus menjaga kebaikan itu dari gangguan niat buruk yang akan muncul di tengah eksekusi dan jika kita tidak meluruskan atau membersihkan nya maka kita tidak akan mendapatkan kebaikan dari kebaikan yang kita tanam. Itulah salah satu hal kecil yang kadang tak kita sadari tentang peran mencerdaskan kehidupan bangsa yang bisa kita lakukan untuk turut berbagi.

Peran pemerintah masih jauh lebih besar untuk memperjuangkan pendidikan untuk seluruh masyarakat. Karena mengabaikan pendidikan sama dengan mengorbankan masa depan bangsa dan setara dengan perbuatan makar. Tidak berlebihan jika pendidikan dianggap sebagai peran yang sentral dan harus diutamakan karena begitu penting nya posisi pendidikan dalam kehidupan bangsa. Warga Negara yang tidak cerdas akan membawa kerusakan pada bangsa ini. Sehingga para pendiri bangsa tak ragu memasukan sector pendidikan ke dalam dasar Negara. Harus benar benar dijalankan karena akan berdampak pada seluruh sendi sendi kehidupan bangsa.

Kondisi bangsa yang cerdas akan membawa kehidupan bangsa yang sehat dan sejahtera. Bukan saja untuk saat ini saja, tetapi juga untuk esistensi kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadi jika kita ingin Negara ini masih bisa bertahan dalam percaturan kehidupan bernegara, maka setiap warga Negara harus segera mengambil posisi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Sekali lagi bukan hanya sekedar kewajiban pemerintah sendiri, tetapi untuk seluruh warga Negara Republik Indonesia.


Views: 3663

Komentar (1)
RSS comments
1. 05-03-2013 15:49, 15:49
Lengkap bgt ya ,pazzz :grin
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya

Beri Komentar
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Judul:
Komentar:



Kode:* Code


AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - All right reserved

Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   
©2008 SuaraWarga - Suara Merdeka CyberNews Groups
Groups
Suara Merdeka

PENCARIAN
ANGGOTA





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
TERPOPULER
TERBAIK
POLING
KOMENTAR TERBARU
apakah ini yang dinamakan cinta kadang terkadang bikin set...
selengkapnya...

untuk lamanya kuliah berapa lama ya? dan untuk biyaya masukn...
selengkapnya...

Tidak semua MLM itu haram,kita perlu mengamati dengan teliti...
selengkapnya...

Karena karyawan JNE cimone-tangerang menyempelekan komplain ...
selengkapnya...

Yang ingin diskusi tentang kebudayaan Jepang, bisa hubungi n...
selengkapnya...