Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   

Membangun Masyarakat Islami PDF Cetak E-mail
Penilaian Pembaca: / 1
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Shodiq Adi Winarko   
22-02-2012,
          Tentu sangat sulit membangun masyarakat Islami di tengah kondisi bangsa yang sedang terpuruk, kaya dengan segudang permasalahan. Berapa banyak kasus-kasus kekerasan yang mencuat di berbagai media. Aksi demonstrasi, pertikaian antar desa, perebutan tanah, hingga penyegelan Pelabuhan Sape di Bima. Sehingga Indonesia pun menjadi bangsa yang krisis akan masyarakat Islami.

  Namun, di tengah badai keterpurukan Indonesia, nyatanya kehidupan damai tetap tercermin pada masyarakat Kabupaten Temanggung, khususnya Kelurahan Kowangan. Eksistensi ini lah yang menghantarkan penulis untuk ber-opini.

            Masyarakat Kowangan-Temanggung. Tentu sangat mengherankan, rutinitas sosialnya selalu dikomando oleh kumandang adzan dari area masjid. Segala jenis aktivitas warga akan segera berakhir, manakala suara adzan telah menggema.

            Potret masyarakat seperti ini lah yang sangat dirindukan oleh bangsa Indonesia. Tanggung jawab moral sebagai seorang muslim yang taat, menghantarkan anggota masyarakat Kowangan Temanggung pada kehidupan yang harmonis. Semua itu menjadi solusi untuk menjauhkan masyarakat dari tindakan kriminal atau pembangkangan terhadap kebijaksanaan pemerintah.

            Meminjam penjelasan Jalaluddin Rumi, “Jangan  pernah bertengkar dan berdebat, karena bagi Tuhan tidak ada pertengkaran dan alasan. Bagi Sang Maha Esa, segalanya adalah cinta; segala sesuatu dalam bentuk cinta, kasih, dan kebenaran.”

            Dari pesannya, seakan Rumi ingin berujar, masyarakat Indonesia sangat komplek dengan perbedaan. Tapi bukan berarti dijadikan alasan timbulnya tindak kekerasan atau pertengkaran. Justru ruh keharmonisan lah yang patut dijunjung dalam setiap kehidupan bermasyarakat.

Menuju Keharmonisan Temanggung

            Tentu masyarakat Indonesia telah mengetahui, bagaimana kondisi Temanggung saat didera berbagai konflik. Mulai dari kasus penistaan agama, demonstrasi UU tembakau, hingga kasus terorisme yang mencuat beberapa tahun silam. Dimana Temanggung menjadi target Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88). Tepatnya di Desa Beji, RT 01 RW 07, Kelurahan Kedu, Kecamatan Kedu, Temanggung, Jawa Tengah.

            Namun berbagai cobaan yang menerpa masyarakat Temanggung, nyatanya tidak membuat ciut nyali mereka untuk bangkit. Lihatlah, Masyarakat Kabupaten Temanggung yang notaben-nya bekerja sebagai petani, dinilai cukup berhasil menaiki tangga perubahan ke arah kemajuan.

Semua ini tentu didukung lokasi Temanggung yang menjadikan pertanian sebagai sektor unggulannya. Tak ayal jika struktur perekonomian Kabupaten Temanggung didominasi oleh sektor pertanian, yang memberikan kontribusi terhadap PDRB sebesar 37,47 % dibandingkan sektor lainnya, seperti perdagangan, jasa, maupun pengangkutan.

            Belum lagi prestasi-prestasi di luar sektor pertanian. Dari tahun 2008-2009 saja, Kabupaten Temanggung telah menyabet 35 penghargaan dalam berbagai macam bidang. Di antaranya: bidang keagamaan, pendidikan, industri, sosial, lingkungan hidup, serta olahraga. Sungguh menakjubkan.

            Nilai plusnya, seiring memperoleh banyak prestasi, namun kehidupan masyarakat Temanggung tetap harmonis. Potret ini menjadi bukti komitmen masyarakat Temanggung menghadapi berbagai terpaan badai konflik sosial. Sejalan dengan itu, Drs. H. Hasyim Afandi, selaku Bupati Temanggung, pantas bangga atas segala prestasi Kabupaten Temanggung. Ini lah yang tentunya menjadikan Afandi berani memposisikan masyarakat Temanggung sebagai tatanan masyarakat yang patut ditiru masyarakat lain.

Islam sebagai solusi

            Sangat tepat jika suatu masyarakat memposisikan Islam sebagai solusi atas segala permasalahan. Nilai-nilai moral yang dibawa Islam tidak lain adalah representasi dari harapan sistem demokrasi yang selama ini diidolakan banyak orang. Begitu pun dengan konsep harmonitas sosial yang dijadikan syarat pembangunan masyarakat Islami, dalam buku “Qur’anic Society,” karya Ali Nurdin.

            Ada empat hal yang menjadi syarat terwujudnya masyarakat Islami. Pertama, Musyawarah. Dalam tatanan kepemerintahan, musyawarah dijadikan sebagai media untuk membiasakan rakyat mengeluarkan pendapat serta mempraktikkannya. Senada dengan pandangan Muhammad ‘Abduh, bahwa secara fungsional, musyawarah untuk membicarakan kepentingan masyarakat dan masalah-masalah kepemerintahan.

            Kedua, keadilan. Upaya menegakkan keadilan dan menghilangkan kezaliman merupakan sebuah keniscayaan dalam hidup bermasyarakat. Langkah ini akan melahirkan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat. Begitu pula bagi masyarakat Kabupaten Temanggung khususnya, mempunyai pemimpin yang adil adalah sebuah keniscayaan. Bagi mereka, kepemimpinan bukan hanya sekedar hasil kesepakatan bersama, tetapi sebuah komitmen untuk menegakkan keadilan.

            Seorang imam masjid misalnya. Posisinya di mata masyarakat Temanggung sangat terhormat. Bukan hanya dipandang sebatas imam, namun sosoknya mampu menyerupai Gus Dur sebagai teks. Seorang Gus Dur, dimana setiap perkataan dan perbuatannya selalu dijadikan teks rujukan oleh para akademis. Pemikiran sosial politiknya selalu dijadikan bahan rebutan media massa.

Ketiga, persaudaraan. Membangun masyarakat dengan dasar persaudaraan, akan menghasilkan masyarakat yang solid, rentan oleh tindak-tanduk kekerasan. Setiap individu akan selalu mengedepankan pemenuhan kewajibannya, daripada penuntutan hak. Sehingga mereka akan terus saling berlomba-lomba dalam kebaikan.

Keempat, toleransi. Nilai rohmatan lil’alamin yang diajarkan Islam, patut untuk diteladani. Bahkan ternyata, bukan hanya golongan Islam saja yang mempraktikkannya. Di abad ke-lima, masyarakat Athena sudah mempunyai pandangan ideal mengenai kehidupan bermasyarakat. Mereka berasumsi, masyarakat dengan segala kekurangannya harus memperhatikan hak-hak dan keadilan kodrat serta menentang kedudukan berdasarkan kebiasaan yang hanya secara kebetulan saja.

 Di mata Tuhan, setiap manusia sama, tidak ada perbedaan di antara mereka, melainkan ketakwaannya. Di mata pemerintah, setiap warga negara mempunyai kebebasan sama. Tidak ada perbedaan agama, suku, ras, atau pun etnik. Mari bersama kita ciptakan masyarakat Islami.

Salam Demokrasi!

 

Email: Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya

Telp: 0856 4044 5593


Views: 2508

Komentar
RSS comments

Beri Komentar
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Judul:
Komentar:



Kode:* Code


AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - All right reserved

Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   
©2008 SuaraWarga - Suara Merdeka CyberNews Groups
Groups
Suara Merdeka

PENCARIAN
ANGGOTA





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
TERPOPULER
TERBAIK
POLING
KOMENTAR TERBARU
apakah ini yang dinamakan cinta kadang terkadang bikin set...
selengkapnya...

untuk lamanya kuliah berapa lama ya? dan untuk biyaya masukn...
selengkapnya...

Tidak semua MLM itu haram,kita perlu mengamati dengan teliti...
selengkapnya...

Karena karyawan JNE cimone-tangerang menyempelekan komplain ...
selengkapnya...

Yang ingin diskusi tentang kebudayaan Jepang, bisa hubungi n...
selengkapnya...