Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   

Mengimplementasikan Nilai-Nilai Agama PDF Cetak E-mail
Penilaian Pembaca: / 7
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Shodiq Adi Winarko   
27-10-2011,
Kini, model-model agama di Indonesia seakan hanyalah slogan belaka. Para pemeluk agama di Indonesia telah melupakan esensi dari agama itu sendiri. Mereka menghindar dari nilai-nilai agama, atau bahkan sengaja menjauhinya. Bagi mereka, agama hanya dijadikan legitimasi atas sebuah kepercayaan, atau hanya dijadikan citra sosial. Sehingga, keberadaan agama yang diharapkan mampu menjadi problem solving, justru berubah menjadi penghambat kerukunan masyarakat Indonesia.

Jika kita lihat, model masyarakat di Indonesia, masuk dalam kategori multirasial. Dalam model kemajemukannya ini, muncul lah berbagai macam agama yang menggurita di masyarakat Indonesia. Seperti 6 model agama yang telah resmi diakui di Negara ini. Islam, Kristen, Katolik, Hindhu, Budha dan Khonghucu. Belum lagi agama-agama model lain yang belum diresmikan. Jika dikalkulasikan, telah muncul puluhan model kepercayaan di Indonesia.

Seyogyanya, model masyarakat seperti ini tidaklah menjadi sebuah permasalahan besar, karena memang sudah menjadi karakteristik dari Bangsa Indonesia itu sendiri dan perlu untuk dihargai.  Secara historis, jika dilihat dari segi etnis, bahasa ataupun agama, Indonesia memang termasuk salah satu negara yang paling majemuk di dunia.  Hal ini disadari betul oleh para founding fathers kita, sehingga muncullah semboyan “Bhinneka Tunggal Ika.” Semboyan yang juga merupakan gambaran konsep pluralisme yang terdapat dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia. 

Konsep kemajemukan ataupun pluralisme yang terwujud dalam semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” itu didukung kembali oleh munculnya Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Maksud dari adanya Sumpah Pemuda itu, yakni kesadaran akan perlunya mewujudkan pluralisme di Indonesia, guna membina persatuan dalam menghadapi para penjajah Belanda.

Dalam sidang-sidang BPUPKI, konsep pluralisme juga sangat dijunjung tinggi. Hal ini dapat dipahami dari pencoretan “tujuh kata” dalam Pancasila, tepatnya dalam Piagam Jakarta. Maka benar, betapa para pendiri republik ini sangat menghargai keberagaman atau pluralisme, baik dalam konteks sosial maupun politik.

Sikap menghargai kemajemukan para founding fathers Indonesia memang sudah menjadi suatu keharusan. Karena model kehidupan seperti itu merupakan karakteristik khas yang dimiliki oleh Indonesia. Kemajemukan ini merupakan sunnatullah (hukum alam) yang harus tetap dijaga. Dalam model masyarakat majemuk, tentu saja terdapat budaya dan aspirasi yang beraneka. Maka, semestinya masyarakat Indonesia memiliki kedudukan yang sama, tidak ada superioritas antara satu suku, etnis ataupun kelompok sosial dengan lainnya. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk menjembatani adanya pertikaian yang muncul antar ummat beragama.

Namun ternyata, keberagaman inilah yang terkadang membuat para pemeluknya tak berdaya untuk mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sehingga bermunculan lah berbagai kasus pertikaian antarummat beragama.

Lihat saja, di sepanjang tahun 2008, tercatat 17 peristiwa konflik antarumat ber­aga­ma yang terjadi. Jumlah ter­se­but meningkat pada 2009 menjadi 18 kasus, dan pada perte­nga­han 2010, tercatat 28 kasus pengrusakan tempat iba­dah dan tindakan anarkis ter­hadap umat beragama. Yang lebih mencengangkan lagi, ternyata banyak kasus kekerasan yang dilakukan antar pemeluk agama yang sama. Sungguh sangat tragis.

Berbagai konflik di atas, sudah tentu tidak mencerminkan kehidupan antar-ummat beragama yang ideal. Memang, nilai-nilai agama apapun, diyakini setiap pemeluknya dapat membawa manfaat bagi kehidupannya.  Namun pada kenyataannya, mengapa nilai-nilai agama itu tidak mampu mewujudkan kehidupan yang harmonis?

 

Pribadi Beragama

Keragaman bentuk kepercayaan dalam kehidupan bermasyarakat, dapat dimaknai sebagai representasi dari kasih sayang Tuhan kepada manusia. Dengan keberagaman itu, manusia diajak untuk berpikir tentang bagaimana mencari kebenaran, tentu dengan cara-cara yang dibenarkan oleh agama maupun negara. Keberagaman juga dipahami sebagai simbol atau tanda kebesaran Tuhan. Sebagai sarana berinteraksi dan berkomunikasi antar sesama manusia. Sebagai ujian dan sarana manusia dalam berlomba menuju kebaikan. Dan yang terakhir, sebagai motivasi beriman dan beramal sholeh.

Tujuan-tujuan di atas pada akhirnya akan membentuk pribadi yang berani berjuang demi membela ideologi agamanya. Maka, yang harus digaris bawahi, sudah benarkah langkah-langkah yang ditempuh oleh para pemeluk agama itu?

Selama usaha memperjuangkan ideologi suatu agama tidak membebani antar pemeluk agama lain, itu sah-sah saja. Tetapi, saat usaha tersebut menjadi beban hidup pemeluk agama lainnya, maka hal itu patut untuk dipertanyakan. Karena perasaan terbebani itulah yang kadangkala menjadi bibit tumbuhnya pertikaian antar ummat beragama. Mereka saling mencerca, marah, dan membela kebenaran agamanya masing-masing.

Maka sebenarnya, tidak ada yang bisa merubah potret pertikaian antar ummat beragama,  selain para pemeluk agama itu sendiri. Jika bukan mereka, lalu siapa lagi? Haruskah mereka menyandarkan permasalahan agama kepada pemerintah? Atau mungkinkah mereka menyandarkannya kepada orang-orang yang tak beragama? Tentu tidak.

Di sinilah, perlu adanya pemahaman yang konkrit dan inklusif terhadap upaya memperjuangkan ideologi sebuah agama. Sebab, memang bagi setiap pemeluknya, agama merupakan nilai yang sangat mendasar dalam kehidupannya. Maka, wajar saja dirinya menjadi tersinggung atau marah jika nilai-nilai dasar tersebut terusik.

Setiap agama tentu mengajarkan nilai-nilai yang melahirkan norma atau aturan tingkah laku para pemeluknya, walaupun pada dasarnya sumber agama adalah nilai-nilai transenden. Jika keyakinan ini dapat ditransformasikan secara positif oleh para pemeluk agama, maka agamapun dapat dijadikan katalisator pencegah terjadinya disintegrasi dalam masyarakat.  Lebih tepatnya, saat para pemeluk agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, maupun Khonghucu serta model kepercayaan lainnya, mampu meneladani nilai-nilai ajaran agamanya masing-masing.

Dalam konteks ini, agama dapat dijadikan sebagai instrument integrative bagi masyarakat. Karena agama tidak hanya berupa sistem kepercayaan saja, melainkah juga sebagai perilaku individu dalam sistem social.

Mari kita wujudkan bersama, kerukunan antar ummat beragama, dengan selalu mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam agama yang kita anut.


Views: 3091

Komentar
RSS comments

Beri Komentar
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Judul:
Komentar:



Kode:* Code


AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - All right reserved

Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   
©2008 SuaraWarga - Suara Merdeka CyberNews Groups
Groups
Suara Merdeka

PENCARIAN
ANGGOTA





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
TERPOPULER
TERBAIK
POLING
KOMENTAR TERBARU
apakah ini yang dinamakan cinta kadang terkadang bikin set...
selengkapnya...

untuk lamanya kuliah berapa lama ya? dan untuk biyaya masukn...
selengkapnya...

Tidak semua MLM itu haram,kita perlu mengamati dengan teliti...
selengkapnya...

Karena karyawan JNE cimone-tangerang menyempelekan komplain ...
selengkapnya...

Yang ingin diskusi tentang kebudayaan Jepang, bisa hubungi n...
selengkapnya...