image

Mendiang Nurhadie Irawan. (suaramerdeka.com/dok)

15 Januari 2018 | 13:52 WIB | Sinema

Sutradara Film Tutur Tinular Wafat.

JAKARTA, suaramerdeka.com-- Sutradara film senior Nurhadie Irawan (72), hari Senin (15/1) pukul 02.42 WIB wafat di rumahnya. Nurhadie dikenal sebagai sutradara film "Tutur Tinular", "Menggapai Matahari", " Bayi Tabung" dan sejumlah film lainnya, dimakamkan Senin (15/1) pukul 10 pagi di pemakaman umum dekat pintu masuk KB Ragunan, Jakarta Selatan. 

Sebagaimana dikatakan Ilham Bintang, wartawan senior dan kawan dwkat Nurhadie, kabar meninggalnya mendiang datang dari putera sulungnya, Dafi, "Ayahnya belakangan menderita berbagai penyakit, termasuk Parkinson.

Semalam masih sempat makan malam, tetapi setelah itu kondisinya lemah. Bapak  mengembuskan nafas terakhir di pangkuan saya," tutur Dafi sebagaimana diceritakan pemilik tabloid Cek n Ricek itu di Jakarta. "Nurhadie saya  kenal sejak masih di Makassar, hubungan kami sudah seperti keluarga.

Bud, begitu panggilan akrabnya,  sebenarnya sahabat abang saya Zainal Bintang," imbuh Ilham. Dalam catatan Ilham Bintang, Nurhadie Irawan, lahir  72 tahun lalu di Bondowoso, Jawa Timur, menghabiskan masa remajanya di Makassar.

Namanya dikenal secara luas setelah menyutradaeai sejumlah film Indonesia. Film "Satria Bergitar" yang dibintangi oleh Rhoma Irama adalah salah satu film garapannya. Nurhadie pernah mengecap pendidikan  di Fakultas Hukum sampai tingkat III, kemudian masuk Akademi Sinematografi LPKJ (sekarang Institut Kesenian Jakarta) pada tahun  1974.

Alhatlrmum mengawali debutnya sebagai seniman dengan menulis di berbagai media massa Jakarta, terutama mengenai film Indonesia dan pernah mendapatkan penghargaan dari kongres KFT tahun 1974. Kariernya di dunia film di mulai ketika ia menjadi asisten sutradara  Wim Umboh di film "Sesuatu Yang Indah" ( 1976). Selanjutnya bersama Wim Umboh terlibat dalam film "Kugapai Cintamu" (1977), dan "Kembang-Kembang Plastik" (1977).

Karirnya terus menanjak hingga akhirnya menjadi sutradara penuh untuk film pertamanya, "Bulu-Bulu Cendrawasih" (1978), yang di bintangi oleh Rahadian Yamin, Farouk Afero, Rahayu Effendi, Menzano, dan Aedy Moward. Namanya semakin di kenal di dunia perfilman setelah ia menyutradarai film "Satria Bergitar" (1983).

Dalam film yang di bintangi oleh Rhoma Irama dan Ricca Rachim tersebut, ia juga bertindak sebagai penulis skenario. Selain itu, ia juga turut terlibat sebagai penulis naskah di sejumlah film yang juga di bintangi oleh si Raja Dangdut, Rhoma Irama, di antaranya Menggapai Matahari (1986) dan Menggapai Matahari II (1986).

Kiprahnya sebagai sutradara di dunia film kembali diperhitungkan ketika ia meraih penghargaan khusus dari Dewan Film Nasional Festival Film Indonesia 1989 sebagai sutradara terbaik lewat film "Bayi Tabung" (1988). Film yang di bintangi antara lain oleh Widyawati, Dedy Mizwar, dan Ade Irawan, ini juga mengantarkan nama Widyawati meraih penghargaan khusus Dewan Film Nasional FFI 1989 sebagai pemeran wanita terbaik.

Tahun 1989, ia menyutradarai film "Tutur Tinular" (Pedang Naga Puspa) seri pertama dari empat seri film Tutur Tinular yang di buat ketika itu. Tutur Tinular awalnya merupakan judul sebuah sandiwara radio karya S. Tidjab yang kemudian diangkat ke layar lebar.

Film lainnya yang pernah ia tangani yakni adalah "Jangan Renggut Cintaku" yang di sutradarainya pada tahun 1990. Film ini meraih nominasi dalam Festival Film Indonesia 1990 untuk Pemeran Pembantu Pria (Deddy Mizwar).

Film ini juga meraih Piala Citra untuk Penata Musik dan Pemeran Pembantu Pria, Rachman Arge. Pada tahun 1991 kembali menyutradarai film Badai Laut Selatan, yang dibintangi antara lain oleh Fitria Anwar dan Dede Yusuf.

 

 

 

(Benny Benke /SMNetwork /CN40 )

ENTERTAINMENT TERKINI