Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   

Menyihir Kelas dengan Game PDF Cetak E-mail
Penilaian Pembaca: / 23
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Hernawan   
13-03-2009,
Kehadiran guru di dalam kelas mempunyai peran yang penting. Meskipun kemajuan teknologi memudahkan pembelajaran, namun tidak dipungkiri bahwa guru masih sangat menentukan keberhasilan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu juga tentunya karena faktor siswa sendiri sebagai subyek pembelajaran.

Kondisi sarana dan prasarana yang dimiliki antar sekolah tidak sama. Ada sekolah yang memiliki sarana lengkap sesuai standar yang diatur Departemen Pendidikan Nasional. Tidak sedikit pula sekolah yang hanya menyediakan sarana pas-pasan bahkan jauh dari kelayakan. Beragamnya kondisi yang ada di lapangan menyebabkan tantangan bagi guru sebagai sosok yang berinteraksi langsung dengan peserta didik.

Tantangan bagi guru yang berada di sekolah dengan fasilitas lengkap dan canggih harus mengikuti perkembangan metode dan media pembelajaran. Apalagi pembelajaran berbasis teknologi informasi sudah menjadi tuntutan masyarakat. Sebaliknya, tantangan yang dihadapi guru di sekolah dengan fasilitas apa adanya jauh lebih menyita pikiran dan tenaga. Gambaran umum dari sekolah kategori ini antara lain, siswa berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah; minat dan keinginan menguasai materi pembelajaran rendah; cenderung membuat kegaduhan di dalam kelas; dan kekurangan-kekurangan lain yang menantang kreatifitas dan kompetensi guru.

Manajemen kelas di sekolah kategori kedua, guru merancang, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran yang mengarahkan siswa memiliki kemampuan sebanding siswa dari sekolah dengan fasilitas lengkap. Guru membutuhkan ”sihir” untuk melecut kemampuan siswa di ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Sihir yang dimaksud bukan sihir atau sulap yang mengecoh perhatian peserta didik menjadi pasif dengan tertegun menyaksikan pertunjukan gurunya di depan kelas.

Mengadopsi game atau permainan dalam ruangan yang ditulis Mohammad Muhyi Faruq dalam 60 Permainan Kecerdasan Kinestetik, banyak permainan ringan yang dapat diterapkan dalam pembelajaran. Misalnya, fase pendahuluan mempraktikkan tepuk tangan dengan berbagai variasi. Sebatas pengalaman penulis, guru bertindak sebagai instruktur mencontohkan dan meminta siswa menirukan tepukan disambung dengan menyebut kosa kata materi sebelumnya. Untuk fase kegiatan inti bisa menggunakan permainan bongkar pasang puzzle. Guru hanya menyiapkan puzzle dengan susunan yang acak, siswa aktif membetulkan susunan bersama kelompoknya. Hal ini merupakan aplikasi pembelajaran kooperatif. Sedangkan untuk menutup kegiatan pembelajaran guru bisa menerapkan chicken dance sambil bernyanyi. Siswa dalam kelompoknya membuat gerakan yang sama diiringi lagu yang dinyanyikan bersama-sama juga.

Manfaat yang diperoleh yaitu pertama, berhasilnya pembelajaran di kelas sesuai mata pelajaran yang diampu. Kedua, mendorong dan meningkatkan kinestetik siswa yang berimbas pada kemampuan ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Ketiga, membentuk kecerdasan intelektual dan emosional siswa karena terbiasa belajar dan melakukan sesuatu berkelompok. Satu hal yang perlu diprioritaskan guru dengan mengaplikasikan permainan dalam kelas yakni bisa menjadi modal menulis buku. Tidak sekedar buku teks, namun buku teks dengan sentuhan permainan-permainan ringan yang mampu meletupkan kemampuan peserta didik yang luar biasa.

Hernawan, S.Pd, guru SMP St. Bellarminus, Trainer di Kontak Center Semarang.

Views: 13312

Komentar (11)
RSS comments
1. 05-08-2009 06:30, 06:30
setuju
setuju sekali bila ada kiat-kiat menghendel kelas supaya menyenagkan
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
2. 16-05-2009 19:06, 19:06
melihat pisik siswa
kita akan mempelajari melihat pisik siswa kita akan melihat wajah nya daya tahan tubuhnya dan pisik anak ini rendah atau sehat kuat :zzz :zzz :) :grin 8)
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
3. 16-05-2009 18:55, 18:55
sayang nya misalnya kalo banyak pembajak
tu kalo waktu jalan2 ke suatu tempat sama teman-teman tu ada yang pembajak tu kalo kita keliatannya banyak uang lang sung dibajak paksa sampai uang kita habis :cry :cry :cry :cry :cry :cry :sigh atau dikelas dimana tempat aman untuk bajak uang orang :eek :cry
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
4. 10-04-2009 09:00, 09:00
nice post
salam kenal ya,kunjung balik.oce
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
5. 10-04-2009 03:49, 03:49
lihat-lihat siswanya
tetapi juga harus diingat kondisi kelas dan bagaimana sifat2 siswa siswinya. jika hal ini tidak dipertimbangkan, hanya akan terjadi keramaian dan kegaduhan dalam kelas. jangan sampai siswa merasa hal ini hanya jadi lelucon belaka.
terimakasih.
semoga bermanfaat
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
6. 08-04-2009 15:50, 15:50
sippp buangetsss
:zzz :) :upset  
tapi kayaknya klo di buat gitu susah juga,,,,... memang sebagian faktor da sisi positifff, but...pasti da sisi negatifnya juga,,, jd,, klo seperti demikian kita harus menghilang kan sisi negatif tersebut dengan keseimbangan........
:zzz
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
7. 15-03-2009 20:07, 20:07
,
sayangnya banyak mafia dalam bidang sarana prasarana, sehingga model pembelajaran seperti iu sulit dilaksanakan..seandainya dipaksakan biasanya hanya timbul kegaduhan :grin :grin
Guest
8. 14-03-2009 10:56, 10:56
Asalkan..
Benar juga sih.. Tapi semua sptnya tergantung anak didik dan gurunya.
 
soalnya murid malah keasikan mainnya, inti pelajaran malah jadi kabur. Yah mungkin gitu jg yah klo namanya jg anak didik
Guest
Pemerhati
9. 14-03-2009 09:29, 09:29
Pengelolaan waktunya gimana ?
Tidak dipungkiri pemanfaatan kelas sebagai satu kesatuan grup "orkestra" adalah menarik dan layak dilaksanakan. Namun sering kali kita kembali dihadapkan pada keterbasan waktu yang mampat, juga sarana masing-masing institusi yang beragam. Perlu keraifan serta kebijakan siapapun juga operator serta praktisi pendidikan. :upset
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
10. 13-03-2009 23:00, 23:00
Boleh dicontoh.
:) :) akan aku contoh di kegiatan pembelajaranku
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya


Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   
©2008 SuaraWarga - Suara Merdeka CyberNews Groups
Groups
Suara Merdeka

PENCARIAN
ANGGOTA





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
TERPOPULER
TERBAIK
POLING
KOMENTAR TERBARU
apakah ini yang dinamakan cinta kadang terkadang bikin set...
selengkapnya...

untuk lamanya kuliah berapa lama ya? dan untuk biyaya masukn...
selengkapnya...

Tidak semua MLM itu haram,kita perlu mengamati dengan teliti...
selengkapnya...

Karena karyawan JNE cimone-tangerang menyempelekan komplain ...
selengkapnya...

Yang ingin diskusi tentang kebudayaan Jepang, bisa hubungi n...
selengkapnya...