Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   

Penanggulangan Banjir Semarang PDF Cetak E-mail
Penilaian Pembaca: / 35
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Achsin El-Qudsy   
12-02-2009,
Kejadian tersebut bukan terjadi tanpa ada sebab musababnya, tapi sebagai akibat dari akumulasi perbuatan mungkar dan serakah segelintir manusia dan sikap masyarakat secara umum yang tidak ramah terhadap lingkungan.

Peristiwa banjir ini telah memakan korban harta benda yang tidak sedikit, dan banyak masyarakat yang tidak mampu secara ekonomi merasakan akibat yang sangat merugikan kehidupannya sehari-hari.

Secara asumtif dan analisa fakta, ada beberapa faktor utama sebab musabab terjadinya banjir tersebut, antara lain adalah maraknya penebangan kayu liar.

Selain itu, kebiasan buruk masyarakaat yang membuang sampah di kolong rumah, bahkan masih ada sebagian masyarakat yang membuang sampah di sungai, apalagi sampah-sampah tersebut berwujud plastik yang sulit untuk hancur.

Bahwa akibat dari kebiasaan buruk ini langsung tidak langsung jadi faktor pendukung terjadinya pendangkalan sungai dan menghambat arus air serta membuat semakin meningginya air di rawa-rawa.

Seiring dengan semangat membangun daerah, maka sekarang inilah saatnya untuk memikirkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, khususnya penanggulangan banjir secara terpadu yang seharusnya dilaksanakan oleh pemerintah sebelumnya.

Pembangunan yang berkelanjutan minimal harus memenuhi empat kriteria yaitu, pertama, technically applicable, artinya secara teknik pembangunan dapat dilaksanakan. Kedua, economically profitable, pembangunan harus menguntungkan bagi masyarakat dan ketiga bermanfaat bagi mereka. Yang keempat, enviromental sound, artinya berwawasan lingkungan, di mana pembangunan yang dilaksanakan tidak mengurangi fungsi obyek lain dan lingkungan yang dimanfaatkan oleh masyarakat.

Dari uraian tersebut di atas, jelaslah untuk menanggulangi bahaya banjir perlu keterpaduan, jangan hanya mementingkan satu sektor saja, misalnya untuk meningkatkan penghasilan daerah, maka pemerintah daerah menarik pajak atau retribusi.

Terkesan pembangunan ini hanya sekedar mengejar target proyek dan hasilnya tidak begitu bermanfaat. Begitu juga proyek pengerukan sungai-sungai.

Kegiatan pembangunan yang tidak terpadu hanya akan membuang-buang anggaran tanpa memberi manfaat bagi masyarakat dan tidak tercapainya tujuan untuk menanggulangi banjir.

Di sini dapat kita lihat pemerintah daerah seolah-olah bekerja dan memikirkan diri sendiri, padahal masalah yang menjadi latar belakang banjir adalah masalah bersama. Semua instansi pemerintah dan aparat serta masyarakat seharusnya ikut dalam membuat kebijakan.

Dalam jangka waktu yang tidak lama, ada beberapa hal yang dapat menjadi solusi dalam menanggulangi masalah banjir, antara lain, pertama, pengerukan sungai-sungai yang menjadi aliran utama arus air yang berasal dari gunung maupun laut.

Kedua, pemerintah daerah harus menyediakan tempat sampah yang memadai bagi masyarakat yang tinggal di jalan-jalan kecil dan gang-gang di sekitar sungai, dan petugas kebersihan harus berdisiplin mengambil sampah-sampah tersebut.

Ketiga, memberikan kebijakan terbaik terhadap bangunan-bangunan yang berada di atas sungai. Tentunya harus diikuti dengan kampanye upaya penyadaran masyarakat terhadap lingkungan.

Upaya selanjutnya adalah melakukan reboisasi, dan pembangunan sarana dan prasarana, baik untuk penanggulangan banjir maupun antisipasi kekeringan dan kekurangan air bersih.

Achsin El-Qudsy, Alumni Madrasah Diniyyah Mu’awanatul Muslimin Kenepan Kudus dan HI UMY

Views: 13115

Komentar (12)
RSS comments
1. 23-02-2009 14:24, 14:24
hanya meratapi
memang di jaman sekarang yang namanya banjir bukanlah hal yang seolah-olah menakutkan atau menghebohkan di kalangan masyarakat. hal itu dikarenakan masyarakat sudah sering sekali mengalami musibah banjir. dalam hal tersebut pemerintahpun seolah-olah menutup mata dan telinga karena masyarakatpun cuma hanya bisa meratapi. memang banjir itu sendiri di karenakan oleh beberapahal yang diantaranya dikarenakan masyarakat yang kurang peduli dengan lingkungan sekitar atau dengan kata lain membuang sampah sembarangan, di sebabkan oleh ulah seseorang yang mempunyai kepentingan,menebang hutan dengan sembarangan namun dalam hal ini pemerintah sendiri harusnya tau jika penebangan hutan dengan sembarangan akan berdampak merugikan tapi yang pastinya pemerintah justru malah seolah-olah diam karena mendapat uang tutup mulu dan juga banjir bisa di sebabkan oleh karena gejala alam, karena gejala alam saat inipun sudah tidak bisa di perikdisikan seperti BMG, mereka sepertinyapun selalu salah dalam memperediksikan.
masyarakat hanya bisa meratapi nasibnya dengan mendapatkan musibah, sedangkan pemerintah setempat hususnya hanya diam dan bersuara. itukah yang namanya pemimpin ? memang dalam ha musibah tidak bisa secara 100% kita menyalahkan pemerintah karena kadang masyarakat juga bisa menjadi penyebab musibah. tapi setidaknya pemerintah bisa melakukan sesuatu hal yang pastinya bisa untuk penanggulangan musibah.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
2. 20-02-2009 11:14, 11:14
moral
:x  
 
mungkinkah banjir adl 'tradisi'alam semarang ? dan perlu dilestarikan ? 
 
ironis yach ...?
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
3. 14-02-2009 13:06, 13:06
KITA SEMUA HARUS PEDULI ...
Harus dimulai dari diri kita untuk mengatasi banjir .. dari hal yg kecil, mulai dr yg paling dekat dengan kita dan mulai sekarang juga....
 
untuk pemerintah ... sebenarnya seperti apa sih rencananya untuk mengatasinya.. coba dipublikasikan dong ... biar kami ini tahu sejauh mana usaha para pejabat terkait... jadi saya juga bisa menilainya lebih obyektif ... apa anda2 ini bener2 tulus memeras pikiran atau sebaliknya ... karena sepertinya saya mulai ragu untuk menggunakan hak pilih di pemilu 2009 nanti ...
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
4. 14-02-2009 09:02, 09:02
angels and the outsiders
kutatap dunia terasa perih luka di dada ..
pertempuran manusia yg buta indahnya perbedaan
Guest
5. 13-02-2009 09:41, 09:41
MARI MENJAGA KELESTARIAN HUTAN INDONESIA
:cry :x :( :zzz :p 8) ;)  
 
 
 
Apa yang telah terjadi dengan hutan di Indonesia, hutan yang sebagian besar berfungsi fungsi produksi (ekonomi), fungsi lingkungan (ekologi), serta fungsi sosial tetapi apa yang terjadi sekarang malah semakin lama makin mengkhawatirkan.
Beberapa faktor penyebab kerusakan lingkungan yakni transmigrasi dan kebakaran hutan, ladang berpindah dan illegal logging yang semuanya biasanya memiliki korelasi antara satu sama lain.
Pada awal tahun 1970- an sekitar 57% daratan Indonesia adalah hutan atau sekitar 108.573.300 hektar. Tetapi secara mengejutkan, menurut data satelit yang dipantau oleh Bank Dunia hutan Indonesia hanya tinggal 57 hektar dan hanya 15% diantaranya berada di dataran rendah.
Data Departemen Kehutanan pada tahun 2003 juga menyebutkan bahwa luas kerusakan hutan di Indonesia telah mencapai 43 juta hektar dari total 120,35 juta hektar dengan laju degradasi dalam tiga tahun terakhir mencapai 2,1 juta pertahun. Sejumlah laporan bahkan menyebutkan antara 1,6 sampai 2,4 juta hektar hutan Indonesia hilang setiap tahunnya atau sama dengan luas enam kali lapangan bola setiap menitnya.
Dampak kerugian ekonomi yang di tanggung oleh negara dapat dilihat dari penelitian yang dilakukan oleh David W. Brown pengamat ekonomi kehutanan dari Department mengakulisasikan kerugian finansial yang ditanggung pemerintah akibat perdagangan kayu liar (illegal timber trading) adalah sebesar US$ 1,632 miliar dan kerugian akibat penenbangan liar (illegal logging) di Indonesia mencapai US$ 5,7 miliar. Kerugian yang di timbulkan merupakan kerugian minimum karena belum termasuk kerugian yang disebabkan oleh punahnya spesies langka dan terganggu habitat satwa, bencana banjir dan erosi yang ditimbulkan serta biaya -biaya yang harus di tanggung pemerintah untuk merehabilitasi hutan.
Menurut beberapa pakar pemerhati lingkungan dampak kerusakan lingkungan akibat ilegal logging telah menimbulkan kerusakan flora dan fauna. Walupun Indonesia menempati 1,3% daratan bumi tetapi Indonesia kaya akan keaneragaman hayati karena memiliki 27% spesies fauna di dunia dan flora yang kaya dengan tanaman obat yang memiliki hampir 9.606 jenis dan diantaranya sangat terkenal di dunia.
Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia atau keanekaragaman hayati raksasa (megabiodiversity) juga memiliki flora dan fauna yang bersifat endemik, yaitu hanya berada di wilayah tersebut.Tetapi apa yang terjadi sekarang keanekaragaman hayati Indonesia lama kelamaan mulai mengalami kerusakan di iringi dengan kerusakan hutan (deforestasi).
Dari dunia flora, sekitar 37 spesies kayu di Indonesia terancam punah, termasuk kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) di Kalimanmtan Selatan dan salah satu jenis kayu keruing (Dipterocarpus hasselti) di Jawa, sawo kecik (Manilkara kauki) di Jawa Timur, Bali Barat dan Sumbawa; kayu hitam (Diospyros sp.) di Sulawesi; dan kayu pandak di Jawa. Pakis haji (Cycas rumphii) yang pernah popular sebagai tanaman hias kini sulit ditemukan di alam; demikian pula pakis hias (Ponia sylvestris). anggrek jawa (Phalaenopsis javanica) dan sejenis rotan (Ceratolobus glaucescens) kini hanya tinggal beberpa batang di pantai Selatan Jawa Barat. Disamping itu, punahnya varietas-varietas budidaya dan erosi keragaman genetik belum diketahui karena memang sulit untuk didata 
Kerusakan hutan juga sangat berhubungan dengan bencana alam yang terjadi beberapa di dataran indonesia seperti erosi dan banjir. Di Indonesia banjir sudah mencapai bencana alam yang biasa tanpa mengenal musim, ini tak lain disebabkan fungsi hutan sebagai penyerap air sudah musnah akibat krisis hutan di negara ini. Minimnya hutan kota juga dapat dipersoalkan dalam faktor penyebab banjir di kota-kota besar Indonesia .
Kerugian Indonesia akibat kerusakan hutan di Indonesia memang terlalu besar baik segi finansial (ekonomi) maupun kerusakan ekologi. Untuk itu diperlukan upaya yang lebih besar daripada sekedar melindungi ekosistem, yaitu konservasi spesies secara ex-situ serta mengatur pemanfaatan dan perdagangan fauna dan flora . Konservasi spesies secara ex-situ, yaitu diluar habitat alaminya, dilakukan dengan cara peternakan dan penangkaran, pembangunan kebun binatang, kebun botani (raya), dan taman safari serta pembangunan pusat pengembanagan satwa liar, misalnya Pusat pelatihan Gajah di lampung (TN. Way Kambas),. Saat ini, di Indonesia sudah banyak lokasi konservasi secara ex-situ, yang terdiri dari 23 kebun binatang, 17 kebun botani, 5 arboreta, 7 taman hutan raya, 31 peternakan hewan, 2 taman safari, 1 satu taman burung, dan 1 akuarium laut.
Salah satu metode penyelamatan hutan juga dapat dilakukan dengan reboisasi (penghijauan kembali) meskipun membutuhkan waktu yang relatif lama tetapi sangat penting dalam menjaga kelestarian hutan. dan kepedulian dari masyarakat dalam menanggapi masalah kerusakan hutan.
Kesimpulannya, sudah seharusnya pemerintah melakukan menajemen yang baik dalam pengelolaan sumber daya alam termasuk hutan dan memperbaiki penegakan hukum juga kebijakan terhadap masalah kerusakan hutan.
Sangatlah disayangkan apabila ini terjadi terus-menerus dan pemikiran-pemikiran, ide dan gagasan yang inovatif oleh semua rakyat Indonesia sangatlah diperlukan untuk memberi solusi dalam menjaga kelestarian hutan kita.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
6. 13-02-2009 07:59, 07:59
banjir
reeeeeeeeeeppppppppppooooooooooottttttttttttttttt.....................
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
7. 12-02-2009 19:25, 19:25
5th mendatang banjir Semarang
saya orng kecil yg tinggal dikampung mlayu darat merasakan sekali semua limbah spt dituangkan semua kekampung kami baik musim banjir maupun tidak banjir. sebagai orang awam ingin usul sbb: 
Semarang seyogjanya dibikin saluran besar pembuangan air banjir dan air kotor yg baru sbghalnya sungai yg lebar kira2 25 meter kedalaman 6-10 meter disepanjang lurus dari jl Pahlawan-Sp 5-JlGajahmada-Gendingan-menembus/menggusur pemukiman poncol-Jl Tambra-pabrik bolalampu-samapai laut.Untuk menampung dan membuang air dr kota atas dan bawah.Bisa sungai buatan ini dibikin disebelah kanan atau kiri jalan tsb.Atau ditengah jalan,dan jalan itu sendiri dikanan kiri kali.coba ini usul dan hanya pendapat saja.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
8. 12-02-2009 19:02, 19:02
study banding atau wisata?
Dari dulu banyak orang berkoar2 tentang rob di Semarang. hal ini gak akan selesai cuma dengan berkoar2. Siapapun yang terpilih kalau dari mentalitasnya memang gak ingin mengabdi ke sosial percuma. Banyak wacana belajar dari negeri Belanda yang notabene 80% wilayahnya dibawah permukaan lau. toh samapi sekarang mereka sangat pintar untuk mengatur aliran air agar tidak terendam air laut.
Banyak pejabat dikirim kemari dengan alasan study banding, tapi apa hasilnya? yang di study apa yang dibanding apa. mereka kebanyakan study bagaimana membelanjakan uang negara / uang rakyat dengan dalih yang untuk kepentingan sosial atau masyarakat. membandingkan apa? membandingkan gaya hidup doang.
Misalkan benar2 ada sesuatu yang diperoleh selama di sini(Belanda) juga kembali ke Indonesia tidak dapat merealisasikannya karena dana dari pemerintah juga kurang mengucur, misalkan ada juga dipangkas sana sini sehingga ya hasilnya masih saja Semarang makin terendam rob.
Marilah kita bercermin pada diri akan kemanakah bangsa ini dibawa kalau memang mentalnya bukan untuk kemajuan bersama tapi hanya untuk kepentingan kantong segelintir orang.
Di Belanda sini, semua serba teratur, masyarakatnya juga displin untuk tidak buang sampah di sungai2 meskipun sungai disini jumlahnya berkali2 lipat daripada di Semarang. JAdi mulailah dari disi sendiri dan beajarlah benar2 ambil ilmu dari negeri yang pernah menjajah negara kita selama 350 tahun ini.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
9. 12-02-2009 15:45, 15:45
10. 12-02-2009 14:29, 14:29
Pindahkan Semarang
Sejak dulu ketika menjadi mahasiswa Undip selalu saja rob dan banjir menggerus kota Semarang hingga mendekati pusat2 kota seperti Johar.
Pergantian pimpinan di pemkot dan pemda juga tidak selalu menyelesaikan persoalan publik ini. Publik berhak mendapatkan fasilitas baik karena mereka membayar pajak. Kami sering kebanjiran ketika di Stasiun Tawang bahkan kemarin mobil terjebak banjir dekat kaligawe hingga mesin mati. Kenyamanan fasilitas adalah public goods...tapi yang kami nikmati adalah public bads.
Kami sering dengar ada kunjungan studi banding pejabat untuk mengatasi public bads ini ke luar negeri, bahkan katanya teknologi pompa dan resapannya dibuat canggih..tapi semua seperti paralyzed...lumpuh..lesu...letih..lemas.
Bagaimana jika kita berpikir integral tapi out of the box sekalian.
Bagaimana jika kita pindahkan saja kota Semarang ke Gunung Pati atau ke Ungaran atau yg lain yg lebih tinggi sehingga rob tidak menjangkau? 
Mungkin dimulai dari fasilitas umum publik dulu, baru yg pemukiman diselamatkan secara berangsur...anak cucu kita akan menikmati public goods kelak.
Insya Allah.
Imam Nur Azis, 
www.wedangjae.com
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya


Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   
©2008 SuaraWarga - Suara Merdeka CyberNews Groups
Groups
Suara Merdeka

PENCARIAN
ANGGOTA





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
TERPOPULER
TERBAIK
POLING
KOMENTAR TERBARU
apakah ini yang dinamakan cinta kadang terkadang bikin set...
selengkapnya...

untuk lamanya kuliah berapa lama ya? dan untuk biyaya masukn...
selengkapnya...

Tidak semua MLM itu haram,kita perlu mengamati dengan teliti...
selengkapnya...

Karena karyawan JNE cimone-tangerang menyempelekan komplain ...
selengkapnya...

Yang ingin diskusi tentang kebudayaan Jepang, bisa hubungi n...
selengkapnya...