Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   

Artis dan Jalan Baru Partai Politik di Indonesia PDF Cetak E-mail
Penilaian Pembaca: / 5
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Fatkhuri   
05-11-2008,
Hak artis untuk berpolitik dijamin Undang-undang. Namun dalam kontek membangun kemandirian parpol, femonena kemunculan artis dalam kancah politik merupakan sebuah dilema bagi tatatan perpolitikan Indonesia di masa yang akan datang. Ada berbagai macam alasan mengapa kemunculan artis menjadi dilema dalam membangun tatanan arah politik di Indonesia ke depan.

Pertama, parpol merupakan pilar dari bangunan demokrasi. Kita semua mafhum, demokrasi mengandaikan wujud nyata perhatian pemimpin dengan kekuasaan yang dimilikinya untuk bisa membela kepentingan rakyat. Kalau artis yang diandalkan sebagai anggota dewan, maka bukan tidak mungkin, peran parpol sebagai penyangga demokrasi semakin kehilangan arah.

Pernyataan ini tanpa bermaksud menilai buruk atau bahkan menggeneralisasi bahwa artis semuanya tidak pandai berpolitik, apalagi mempunyai tendensi meremehkan mereka. Namun, kita mestinya realistis bahwa dunia artis sangat kontras dengan dunia politik. Dengan kata lain, latar belakang keartisan tanpa didukung dengan pengalaman berorganisasi serta pengetahuan politik hanya akan menjadikan parpol semakin mandul. Alih-alih memperjuangkan rakyat, malah hanya akan menjadikan parpol semakin tidak punya peran yang jelas dan jauh dari rakyat.

Dalam persepktif kepentingan politik jangka pendek, tentu sangat jelas bahwa parpol sangat diuntungkan dalam kontek mobilisasi masa untuk meraup suara sebanyak-banyak sehingga mempunyai perwakilan yang cukup banyak di DPR maupun DPRD. Namun menurut hemat saya, hal tersebut hanya untuk menyelamatkan kepentingan dan keuntungan sesaat, karena pada kontek jangka waktu yang panjang, deretan artis hanya akan membikin sinar kritisisme parpol semakin redup.

Kedua elitisme artis ditambah dengan gaya hidup glamour merupakan fakta paradoksal yang jauh dari cermin kehidupan rakyat. Artis yang maju sebagai Caleg sudah semestinya merefleksikan kehidupan nyata masyarakat karena memang mereka yang nantinya akan mewakili masyarakat. Kalau cara berfikir dan gaya hidup artis tidak banyak mengalami perubahan, bukan tidak mungkin, kepentingan rakyat akan semakin mengendap, sehingga fungsi anggota dewan hanya sebatas apa yang seperti dikenal selama masa orde baru sebagai 4 D (datang, duduk, diam dan terima duit). Sudah menjadi keniscayaan bahwa kedekatan emosional dengan rakyat harus menjadi pekerjaan rumah tangga bagi para artis mengingat mereka selama ini hanya dikenal lewat media.

Ketiga, fenomena rekrutmen artis sebagai Caleg merupakan wujud ketakutan partai politik tidak bisa meraup suara secara masif. Seandainya kenyataan ini yang menjadi dasar parpol merekut artis, maka sangat jelas bahwa parpol saat ini hanya lebih mengutamakan memperbanyak caleg dari pada membikin terobosan bagaimana membela kepentingan rakyat di masa 5 tahun mendatang.

Parpol terlihat sangat pragmatis dimana kepentingan kekuasan menjadi faktor yang sangat fundamental. Mestinya parpol harus mawas diri dan berfikir jangka panjang dan tidak seharusnya parpol asal comot artis tanpa melihat rekam jejak mereka.

Keempat, ramai-ramainya artis direkrut oleh elit-elit parpol untuk menjadi caleg, bukti nyata bahwa parpol gagal melakukan kaderisasi di internal parpol itu sendiri. Kalau asumsinya selama ini kaderisasi dianggap sukses, pertanyaan yang muncul kemudian, mengapa parpol harus menyewa artis untuk mendulang suara? Mestinya parpol harus percaya diri bahwa mereka mempunyai kader yang militan, cerdas dan siap untuk berlaga di pemilu.

Terakhir, menjamurnya fenomena partai membuka ruang yang cukup lebar untuk para artis merupakan bukti nyata bahwa saat ini elit partai politik belum bisa membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat terutama konstituen. Sudah menjadi keniscayaan bagi seluruh kader parpol, dimana mereka harus bisa membangun hubungan yang baik dengan masyarakat. Dengan banyaknya artis terlibat sebagai caleg dimana motivenya jelas untuk mendulang suara, maka publik akan menilai bahwa hubungan elit partai dan masyarakat belum tercipta secara kuat dimana elit partai politik belum bisa dekat dengan konstituen dan rakyat secara umum.

Fenomena di atas bisa kita simpulkan bahwa parpol di Indonesia mempunyai karakteristik weak institution atau lemah secara institusi dimana performa individu menjadi faktor yang fundamental dalam diri parpol. Kenyatan tersebut paralel dengan tesis yang dikatakan oleh O’Donnell bahwa dalam dunia demokrasi partai yang lemah (weak party) mempunyai kecenderungan melakukan apa yang dia sebut sebagai “delegative characteristic”, dimana salah satunya bercirikan meningkatnya personalisme yang menjadi tumpuan utama partai politik.

Terlepas dari kondisi diatas, tentu kita semua beharap bahwa peran artis di kancah politik nantinya tidak mengulang tradisi KKN seperti para anggota dewan yang baru-baru ini terjerat dalam kasus tersebut karena bagaimanapun KKN masih menjadi fenomena yang susah untuk dibasmi sehingga kehadiran artis diharapkan bisa memberikan warna baru bagi arah demokrasi di Indonesia.

 

 


Views: 5316

Komentar (12)
RSS comments
1. 04-04-2009 05:41, 05:41
politikus rakus
pada dasarnya semua warga dari kalangan manapun berhak mengikuti dan menyalonkan diri sebagai jabatan politik, sesuai haknya, tetapi sayang politikus-politikus di negara yang kita cintai ini banyak politikus Rakus bin tamak, ambisi tak abis-abis,semua merasa hebat dan mampu mengurus negara, untuk artis saja banyak kawin cerai,para caleg banyak juga yang esde emnya pas-pasan malah mengandalkan hanya ijazah paket (maaf bukan merendahkan) back round para Caleg yang kurang menunjang kita punya kesan bahwa jabatan legislatif di buat tujuan mencari kerja pantas kalau setelah menjabat tak terdapat jiwa juang yang tinggi terhadap negara dan bangsa, hanya tujuan pinansial berjuang untuk keluarga dan partainya (klompok nya ) masing-masing,untuk di besarkan lalu kapan membesarkan bangsa dan negara.
Saya sangat prihatin keadaan sekarang, saya sendiri mantan pejuang sbg. Purn. TNI AD yang telah banyak makan garam dalam berkorban, hanya satu harapan yaitu sejahterakan rakyat dan negaranya.
Sekarang sudah pada lupa diri, dan kalau ini berlangsung tak sadar-sadar kami khawatir azab akan kembali menerjang bangsa kita.ini adalah keluhan rakyat kecil dan protes mantan anggota TNI yang terlupakan. INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI'UN. YA SALLAM semoga semua sadar diri. :( 8)
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
2. 28-11-2008 20:35, 20:35
Artis dalam politik, mampukah???
Setuju.Pencalonan artis hanyalah sebagai pemanis gula parpol sekligus pembuktian kongkrit gagalnya fungsi kaderisasi parpol. Aplagi dibenturkan dengn pemilu langsung yang sarat dengan populritas tokoh dan tingkat kecerdasan politik masy awam yang sangat minim. Sudah barang tentu artislh yang lebih berpeluang. Disinilah masy dituntut cerdas memilih berdasarkan kapabilitas bukan popularitas. Perlu di ingat analisis politik beberapa artis yang mencalonkan CALEG dibrbagai media pun patut dipertnyakan!alias msih diragukan. Serahkanlah pada yang ahlinya.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
3. 21-11-2008 01:28, 01:28
Jauhi Kehancuran
Banyaknya artis yang jadi caleg jelas merupakan kegagalan pengkaderan partai, yang jadi korban adalah orang2 yang sudah lama berjuang dengan partainya namun tidak mendapat tempat pada saat pemilu, partai ingin mendapat banyak suara dengan cara instant...ini suatu kemunduran terhadap pembelajaran berpolitik SEMOGA BANGSA KU JAUH DARI KEHANCURAN amin....
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
4. 18-11-2008 22:58, 22:58
kok nekat!!!
apa sih wujud pengabdian nyata yg udah di lakukan para "Aleg" 
Artis sin nyaleg 
kok yo NEKAT!!!
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
5. 12-11-2008 13:40, 13:40
Parpol Tidak Menggairahkan
parpol yang menjadi kontestan pemilu 2009 memang tidak memiliki visi dan misi yang jelas. semuanya mengambang dan nampak tak bersentuhan dengan kebutuhan rakyat. jadi tidak heran kalau mesti dipadukan dengan gaya dan lgak para artis sehingga menambah daya tarik masyarakat. tetapi dengan demikian parpol justeru kehilangan makna esensialnya.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
6. 09-11-2008 16:48, 16:48
numpang aja
parpol jaman skrg memang lah komedi,setelah rame2 artis dijadikan caleg....nanti bisa2 inul/dewi persik ikut dijadikan ketua DPR RI.ngeri deh politik negara indonesia
Guest
7. 06-11-2008 22:44, 22:44
jangan salah pilih
artis maen sinrtron itu biasa tapi klo jadi anggota dewan, ya aji mumpung 2....sekedar cari jodoh 2...lo liat 2 adji masaid sama angelina sondahk...bukannya mikir nasib rakyat malah mikir kawin....dasar artis nyari sensasi doang....
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
8. 06-11-2008 12:53, 12:53
Parpol nggak punya kader
Suatu bukti bahwa Parpol sekarang nggak bisa melahirkan kadernya sendiri. Akhirnya ya jalan pintas mencomot artist yang sudah punya nama tanpa diusut dulu masa lalunya. Yang penting bisa menjaring suara. Lha nanti kalau berhasil jadi anggota legislatif ya pinter main drama sesuai order dan scenario. Gimana kalau kita ambil sikap untuk lebih hati hati memilih dan tidak tergiur dengan nama besar sang artis, atau ketampanan/kecantikannya serta kemampuan aktingnya. Kan anggota legislatif kita sekarang banyak yang lebih lucu dan lebih pinter akting katimbang artis sinetron. Kenapa harus artis??
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
9. 06-11-2008 08:33, 08:33
pilih bukan comot
setuju dengan penulis. sebaikkan pencalekan artis melalui seleksi ketat pilihan ketat masalah kemampuan politiknya dan rencana penempatannya.Lebih klop artis yang teruji politikny ump mantan kepala daerah/walikota. indonesia bukan Amerika atau Philipina.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
10. 06-11-2008 04:39, 04:39
Antara dua pilihan
Biarlah yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Kalau benar artis mo nyaleg karena popularitas, maka bersiap-siaplah DPR menjadi Dewan Persinetronan Rakyat. Dan apabila memang karena mereka punya talenta dan keinginan untuk membangun bangsa Indonesia tercinta, semoga mereka mampu untuk mengemban amanat dari rakyat dan mampu menghilangkan praktek KKN di negeri Indonesia ini.
Guest
RAKYAT MENGGUGAT


Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   
©2008 SuaraWarga - Suara Merdeka CyberNews Groups
Groups
Suara Merdeka

PENCARIAN
ANGGOTA





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
TERPOPULER
TERBAIK
POLING
KOMENTAR TERBARU
apakah ini yang dinamakan cinta kadang terkadang bikin set...
selengkapnya...

untuk lamanya kuliah berapa lama ya? dan untuk biyaya masukn...
selengkapnya...

Tidak semua MLM itu haram,kita perlu mengamati dengan teliti...
selengkapnya...

Karena karyawan JNE cimone-tangerang menyempelekan komplain ...
selengkapnya...

Yang ingin diskusi tentang kebudayaan Jepang, bisa hubungi n...
selengkapnya...