|
Mencermati geliat gerakan manusia tiap saat yang kerap mewarnahi ruang-ruang lingkup realitas mereka, tindakan pada sebagian mereka tidak lagi mencerminkan sebagai tindakan dari manusia yang bertakwa. Dalam arti kurang berhati-hati dalam melakukan aktivitas sehari-harinya sehingga banyak di antara mereka yang merasa bingung, susah, sedih serta diterpa himpitan dan kesulitan ekonomi yang terus berkurng; mereka tidak lagi menemukan alternatif jalan keluar.
Segala daya dan upaya untuk mengatasi hal itu telah dilakukan, strategi pun yang dilakukannya tidak lagi mampu keluar dari hiruk pikuk tersebut. Lalu, apa yang mereka lakukan pad langkah seterusnya, apakah ia harus diam seribu bahasa, putus asa dan tidak lagi punyak harapan masa depan untuk keluar dari jalur kesengsaran? Tidak...kesempatan di depan mata masih terbuka lebar untuk melakukan hal yang terbaik, menata dengan cermat hingga bisa keluar dari rongsokan kondisi tersebut yang tengah menghimpitnya.
Diingatkan bahwa kesengsaraan dan kesulitan apapun yang ia rasakan janganlah sampai membuat putus asa, kita yakin masih ada jalan keluarnya. Krisis semacam itu tentunya tidaklah mudah untuk mengatasinya, kita membutuhkan paya secara lambat laun namun pasti dan harus memilki prinsip dasar yang menjdi patokan.
Untuk itu, Allah SWT menawarkan satu tawaran kepada manusia yaitu “bertakwa”. Inilah yang saya sebutkan tadi sebagai function alternatif.
Allah SWT telah berjanji akan memberikan jaminan kepada siapa saja yang betul-betul melaksanakan tawaran tersebut keluar dari krisis multi deminsional termsuk krisis ekonomi dan kekecewaan. Kenapa takwa sebagai function alternatif? karena ini sebagi perinsip dasar yang akan menciptakan aktivitas yang idealnya mengacu pada kebahagiaan rohani dan jasmani.
Betapa urgennya takwa itu hingga banyak dalam ajaran islam menjelaskan tentang hal ini dan berkali-kali memerintahkan kepada kita untuk menanamkan konsep ini sehingga dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Takwa bukan sekadar kita berhati-hati dalam menjalankan aktivitas sehari-hari melainkan segala aktivitasnya sesuai dengan apa yang diajarkan dalam Islam, baik yang berbentuk perintah maupun larangan sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Di samping takwa dalam hati, harus ada upaya aktif dan komitmen pada konsep takwa secara kontinyu. Karena dengan konsep inilah manusia akan tahu eksistensi dirinya hidup di dunia, akan muncul sebuah keyakinan bahwa hanya Allah lah satu-satunya dzat yang memberikan jaminan kepada hambanya, memberikan pertolongan keluar dari kerisis tersebut dan manusia hanyalah berusaha. Hal inilah yang masih belum menjadi bahan instrospeksi diri di dalam diri manusia.
Namun kenyataannya, manusia banyak yang belum sadar dan belum tahu dari konsep tersebut sehingga terpaksa banyak yang ternodai dengan tindakan non-etis dan immoral. Implikasinya bukan hanya pada diri sendiri namun meluas pada masyarakat banyak bagaikan virus yang cepat menular menyebarkan penyakit. Oleh karena itu, jika mau keluar dari kondisi tersebut hendaklah kita mulai sekarang menanamkan aset spritual (takwa) pada diri kita sehingga kita dapat bertindak sesuai dengan haluan syariat.
Jika demikian maka krisis multi dimensionl yang selama ini menimpa kita cepat atau lambat dapat teratasi. Sebagimana Allah berfirman ”barangsiapa yang bertakwa kepda Allah maka Allah akan memberikan jalan keluar dan akan memebrikan rizki dari arah yang tidak terduga”. Dari pernyataan ini, marilah kita sama-sama membangun kehidupan diri kita di atas dasar ketakwaan, di mana pun dan dalam keadaan apapun janganlah sampai kita melepaskan takwa.
Rasulullah saw bersabda “bertakwalah kepada Allah di manapun Anda berada, dan ikutilah perbuatan jelekmu dengan perbuatan baik niscaya perbuatan baik itu dapat menghapus perbuatan jelek, berbudi pekertilah sesama manusia dengan budi pekerti yang baik”.
Insya Allah dengan takwa, rasa kecewa, sedih hati dan sulitnya ekonomi yang selama ini masih dirasakan akan tertolong.
Views: 3132
AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - All right reserved |