Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   

Indonesia dalam Belenggu Kaliyuga PDF Cetak E-mail
Penilaian Pembaca: / 5
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Musyafak   
19-09-2008,
Kaliyuga adalah wolak-waliking jaman. Sebuah babak kehidupan yang menurut Ranggawarsita (1802-1874) adalah zaman kehancuran: runtuhnya tatanan kehidupan dan kegelapan budi pekerti. Dimensi kehidupan yang berbalik arah, ibarat lautan yang balik mengalir ke sungai.

Ranggawarsita menggambarkan kondisi Kaliyuga dalam serat Kalatida atau puisi zaman gelap. Mangkya darajating praja/ kawuryan wus sunya ruri/ rurah pangrehing ukara/ karana tanpa palupi (tatkala derajat kerajaan sudah senyap, aturan kacau, tiada kejernihan nalar, suasana seperti gila).

Meskipun ikrar merdeka diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta saat era kejatuhan Jepang dari Sekutu, tetapi sampai kini zaman gelap tetap berlangsung. Enam puluh tiga tahun merdeka dan seabad Kebangkitan Nasional, Indonesia sebatas lepas dari penjajahan fisik.

Kini "Republik Bayangan" ini terjajah oleh dirinya sendiri: kedaulatan rakyat dirampas oleh negara-dalam artian para pemimpin dan pemerintah kita. Ini berbalik dengan cita-cita Moh Hatta, bahwa yang diinginkan ialah rakyat yang memiliki kedaulatan, bukan negara yang memiliki kedaulatan, (Harian Merdeka, 27 Oktober 1950).

Kebijakan yang tidak populis bertubi-tubi mendera rakyat. Tahun 2008 ini ditandai kenaikan BBM yang selalu menjadi kisruh politik bangsa. Elpiji yang dengan “gagah berani” ditampilkan sebagai "penghapus" minyak tanah justru menjadi beban rakyat kecil. Di tengah situasi ekonomi bangsa yang makin termehek-mehek, anehnya privatisasi lembaga usaha milik negara dikedepankan.

Siklus Kaliyuga
Menurut Dr. Sjahrir, istilah Kaliyuga sungguh tepat untuk menggambarkan keadaan Indonesia saat ini. Dalam pidato politiknya pada deklarasi perkumpulan politik Perhimpunan Indonesia Baru (PIB) 22 Maret 2001 silam, ia menyatakan bahwa Indonesia memang sedang menuju kehancuran total sebagai sebuah bangsa.

Bagi akademisi yang memahami sejarah secara spekulatif, Kaliyuga adalah siklus sejarah. Setelah zaman kehancuran itu akan hadir Kertayuga atau Kalakerta. Sebagian meyakini kalau Kaliyuga adalah prasyarat hadirnya jaman kertayuga: suatu zaman emas atau gemilang. Sebuah masa yang digambarkan dengan loh jinawi gemah ripah tata tentrem kerta raharja.

Negarakertagama karya Empu Sotasoma mencatat bahwa Kertanegara hidup dalam zaman Kaliyuga. Ia gila terhadap perluasan kekuasaan, tetapi politik domestik kacau-balau. Diterangkan dalam Kidung Panji Wijayakrama, bahwa Raja Singasari yang memerintah mulai tahun 1270 itu kehilangan watak ber budi bawa leksana.

Menurut Anwar Hudijono (2000), sejarah tidak selalu dipahami sebagai garis yang menghubungkan titik-titik kemajuan. Ada yang memahami sebagai cakra manggilingan (roda yang berputar). Zaman Kaliyuga sesuai kehendak jagat pernah hadir sebelum Kertanegara.

Oleh karenanya, dalam perspektif kontinuitas, sebagai sebuah siklus Kaliyuga terjadi secara berulang-ulang. Setiap pergolakan kepemimpinan, Kaliyuga bisa muncul.

Hal ini dapat dilihat dalam Kakawin Bharatayudha karya Empu Sedah dan Empu Panuluh yang sudah ada jauh sebelum Negarakertagama. Tewasnya Raja Suyudana dari Astina dalam perang Baratayuda melawan Pandawa adalah gambaran berakhirnya Kaliyuga. Hingga tak ada lagi kekhawatiran akan ulah penguasa yang berbuat "rusak".

Di zaman yang berbeda pula, H. J. De Graaf menggambarkan betapa rakyat Mataram hidup dalam teror di bawah kekuasaan Amangkurat I. Raja Mataram yang memerintah mulai tahun 1646 itu haus akan kekuasaan hingga menyingkirkan saudara-saudaranya besrta ulama dengan pertumpahan darah. Saat itulah sosok raja tidak lagi menjadi air bagi yang kehausan, juga bukan obor bagi yang kegelapan.

Sejarah Orde Baru adalah salah satu pertanda Kaliyuga di zaman pasca kolonial Indonesia. Sejarah politik penguasa kembali pada penidasan rakyat. Demokrasi dibungkam, yang berbicara hanya "sabda ratu" yang tidak manunggal dengan rakyat.

Sepuluh tahun Reformasi berjalan tak berhasil mengantarkan bangsa ke Kertayuga. Seolah tidak ada niatan yang bulat dan ikhlas untuk menyembuhkan bangsa yang sedang sakit ini. Sebaliknya, sebagian malah terninabobokkan kegelapan itu sendiri.

2008 disebut sebagai tahun korupsi karena sederet nama anggota dewan "Yang Terhormat" masuk dalam daftar penerima kucuran uang haram. Lebih menampar, Jaksa "Yang Mulia" pun kongkalikong dengan musuh hukum karena suap "menggiurkan".

Inilah Kaliyuga di zaman postmodern. Ironi bangsa tumbuh di mana-mana. Pemimpin yang seharusnya mengabdi justru menjajah rakyatnya sendiri.

Merebaknya Mesianisme
Yang lebih ironis, di tengah situasi politik bangsa yang karut marut tak menentu, banyak orang mengaku sebagai Satria Piningit atau Ratu Adil. Seperti inilah keyakinan politik bangsa Indonesia yang kental dengan mesianisme.

Menjelang Pemilu 2009 ini, para politisi sudah memproklamasikan dirinya mampu menjadi pemimpin bangsa yang sedang kalut ini. Bermodal rasa percaya diri –setengah angkuh— mereka berkampanye akan mengentaskan penderitaan rakyat.

Dalam konteks terkini, pantaskah para calon pemimpin menyandang gelar Satria Piningit atau Ratu Adil yang menyerupai kuasa Imam Mahdi atau Mesias –sosok yang diyakini oleh umat Islam dan Kristen sebagai pembebas manusia tatkala kezaliman mendominasi kehidupan di bumi.

Jawabannya tidak. Kebanyakan calon pemimpin –dan pemimpin yang ada sampai saat ini— tidak berwibawa. Dalam arti tidak mampu memberikan uswah (teladan) bagi rakyat. Idealisme pemimpin kita nihil, dan visi kerakyatannya patut dipertanyakan.

Makna politik makin sempit karena dalam prakteknya sebatas perebutan kekuasaan kaum elit. Sedangkan kesejahteraan rakyat kurang diperhatikan. Semua mengaku mampu menyelesaikan pekerjaan rumah bangsa yang menumpuk, tapi citra dan kualitasnya di lapangan tidak tertepis.

Persis seperti yang digambarkan oleh Ranggawarsita dalam Serat Kalatida pada pupuh (bait) 7: hamenangi jaman edan/ewuh aya ing pambudi/melu edan ora tahan/yen tan melu anglakoni/boya kaduman melik/kaliren wekasanipun (hidup di zaman edan/mengacaukan akal budi/ikut edan mana tahan/kalau  tak ikut tak dapat apa-apa/akhirnya kelaparan).

Menurut Pujangga asal Keraton Surakarta itu, ada tiga kegilaan manusia yang hidup di zaman edan. Yaitu gila harta, tahta, dan wanita. Tahta dan harta memang kini membius pemimpin-pemimpin kita. Buktinya perilaku korup dan menyimpang semakin subur.

Saatnya masyarakat mencerna jargon-jargon yang mengatasnamakan Ratu Adil secara kritis dan rasional. Mesianisme dalam panggung politik Indonesia terkini adalah dalil empuk untuk mengelabuhi masyarakat yang percaya dengan mitologi kepemimpinan itu.

Berkaitan dengan momentum kemerdekaan ini, lebih penting adalah memerdekakan diri dari penjajahan mental pribadi. Korupsi dan perilaku menyimpang –sekecil apapun, baik rakyat maupun pejabat— adalah tuan yang menjajah/memperbudak jiwa. Ia menjadikan jiwa menjadi tumpul, mata batin dibutakan. Permasalahan pemimpin kita sekarang adalah ketidakmampuan mengahalau nafsu kebendaan dan ingkar terhadap kebenaran manusiawi.

Hal ini sesuai dengan penutup puisi Ranggawarsita tadi: ndilalah karsa Allah/ begja-begjaning kang lali/ luwih begja kang eling lawan waspada. Bahwa yang paling beruntung adalah orang-orang yang selalu ingat terhadap keadaan serta sadar betul akan misi kemanusiaan yang diemban untuk menjaga kelangsungan bangsa. Jika tidak, Kaliyuga adalah zaman yang kekal.

Musyafak,
Staf di Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LeKAS) Semarang, Pemred Surat Kabar Mahasiswa AMANAT IAIN Walisongo Semarang.


Views: 3831

Komentar (4)
RSS comments
1. 24-08-2010 07:19, 07:19
keluhan
Denagan hormat, saya sorang musafir yg di di bajak oleh petuga Airpor Cengkaren (Sukarno Hata) yg memang mereka di restukan oleh pemerentah atau setidak tidaknya oleh Airport Autority, mereka itu kan suatu badan sekyuriti (Pengawas keteriban dan ke amanan resmi dan di bawah undng-undang tertentu). Kita semuanya tidak ber selisih dengan tugas serta kepatuhan para petugas serta musafir dalam kebang saan apa saja, tetapi yg saya Claim kan itu adanya pemereksaan di tempa yg para musafir terima denga rela atau tidak. Karena ketika saya minta untuk saya menghadap atasanya mereka tolak.
Singkat ceritanya sebagai berikut ; 
Saya mendapatkan undangan ke luar negeri, maka saya masuk sebagai musafir lewat pintu yg telah di tentukan, dan di depan pin itu tadi ada anggota ketertiban yg menganjurkan untuk saya serta yg lain berterti (antri) dan meletekan segala barang bawan kita di alat peme rik saan yg canggih itu. Ini semuanya berjalan dengan baik dan tertib.
Saya melihat kiri kana tidak ada pengumuman apapun yg menark perhatian atas larangan yg kelak di dalam kita hadapinya.  
Lalu saya menuju ke cheking cauter yg tertentu (pesawat apa yg saya gunakan) ini juga berjalan dengan baik dan tak ada ke sangsian apa pun. Saya melihat kiri kana tidak ada pengumuman apapun.
Masuklah saya di bagian Imgrasi Airport, ini juga tdak ada yg tercela bahkan saya sampaikan ucapan tertima kasih atas service tugas yg mereka lakukan dengan baik.
Kini kita para penumpang harus menuju Gate Pintu yg telah di tentuka di bording card. Di sinilah pembajakan yg di lakukan oleh petugas ke amanan Airport mereka pereksa kembali semua barang tentengan serta dopet dan HP yg semuanya berupa logam. Selepasnya saya dari mesin cheking itu maka saya di haruskan melempar barang-barang yg saya tenteng itu ke keranjang yg telah di siapkan, yg berupa : sampoo, odol , ninyak rambut mingak wangi bahkan madu serta air yg di botol yg saya beli di dalam Airport (sebagai persiapan saya untuk buka puasa di ruang tunggu yg di depan pintu masuk pesawat) itu semuanya harus saya buang, dengan sendirinya saya marah dan menganggap itu bajakan yg di resmikan oleh suatu badan pemeren tah.
Saya katakana pada mereka mengapa tidak di buatkan pengumuman di depa (di pintu masuk pertama) hingga kita dapat mengembalikan ke keluarga yg mengantar kita ke Airport. Saya minta untuk jumpa dengan Offisernya ia bilang saya yg berwenang. Ok saya minta untuk saya kembali ke pintu pertama ini pun di tolak, kalaupun di izinkan tentunya tidak akan di izinkan oleh petugas Imigrasi. Jadi singkat kata saya harus taat dari perenta mereka yg sebagai petualang Resmi.
Barang-barang itu sangat remeh harganya saya tahu tetapi mengapa kita di jebak, inilah yg saya anggap pembajakan. Kalau seandainya telah di peringatkan pd kita dan kita membangkang itu kita yg salah.
Saya berpikir bila saya membangkang tentunya mudah saja untuk saya dianggap TERORIS ini jelas sekali, hingga akan tersebar umpan baru di Airport Jakarta ada Teroris yg terjebak, bias saja di siapkan bukti-bukti hingga masuk dahulu dan gebukin dahulu, urusan gampang saipa sih yg bersedia membantu Teroris tertuduh itu? 
Kebetulan sekali saya orang yg ta`at dengan Agama saya dan membeli se botol air di dalam Airport Cengkarn untuk saya gunakan buka puasa ini normal.
Bapa-bapak serta Ibu-ibu dapat membayangkan betapa sakit hati sorang yg di rampas haknya begitu hak kebebasan enaati perentah agamanya soal barang-barang itu harganya remeh sekali.  
Saya percaya itu semuanya di kumpulkan dan selesai duty di bagi rata oleh mereka. Kalau tidak mungkin kan kita di tolak di awal pintu.
Siapakah yg berwenang atas peraturan yg demikian itu ????? 
Bapak serta anak saudara Bapak petugas tinggi tidak mungkin di perla kukan sebagai kita rayat jelata bahkan para tenaga kerja yg di aniaya di Airport Cengkareng itu, saya mengharap untuk para pers (penulis surat kabar) masuk dengan tanpa di ketahi untuk membuktikan segala pelanggaran Hak Asasi kita sebagai musafir. Sekian dan terima kasih atas sambutan yg mungkin bias di terima oleh kalian sebgai lisan kita yg telah ter bungkem dari tuduhan TERORISM  
Ali Supriadi.
Guest
2. 19-09-2008 15:15, 15:15
Harapan besar
Setuju ama Farih, kita harus slalu bangun dan bersemangat menuju kebaikan. Apalagi dengan Bp SBY cita2 untuk membangun bangsa dan mengemban amanat rakyat sudah terlihat, bp presiden kita sekarang ini tepat dipercaya buat meneruskan perjuangan menuju rakyat yg merdeka klo dibandingkan presiden2 sebelumnya, SBY punya tujuan sama dengan BP SOEKARNO, mencapai rakyat yg merdeka.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
3. 19-09-2008 15:15, 15:15
ujian pasti ada maksudnya
Ibarat orang sekolah, semakin tinggi sekolahnya, ujiannya semakin berat. Nah, sekarang ujian buat bangsa Indonesia, adalah berat sekali, berarti selangkah lagi akan diwisuda pada tingkatan yang paling tinggi. Tinggal siapa yang mempercayai dan mau melaksanakan prinsip ujian dengan sungguh2, yang akan diangkat oleh Alloh u pimpin Nusantoro "Indonesia" Jadi mercusuar "Jaya".
 
Selamat Berjuang
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
4. 19-09-2008 13:00, 13:00
Masih Ada Harapan
Keterpurukan Indonesia kini dalam keadaan yang sedemikian carut marut, semestinya sebagai manusia yang bertuhan rakyat Indonesia tetap harus memiliki harapan. Suatu saat akan ada perubahan kebaikan, jika rakyat mau belajar dan mau menjadi masyarakat ayng cerdas.  
Selama ini memang sebagian besar masyarakat masih berada dalam keadaan yang belum merdeka.
Semoga ada yang menggugah untuk segera bangun dari tidur, dari manekung (bersemedi) sehingga potensi segera dimanfaatkan untuk kebaikan.
Registered
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya

Beri Komentar
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Judul:
Komentar:



Kode:* Code


AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - All right reserved

Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   
©2008 SuaraWarga - Suara Merdeka CyberNews Groups
Groups
Suara Merdeka

PENCARIAN
ANGGOTA





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
TERPOPULER
TERBAIK
POLING
KOMENTAR TERBARU
apakah ini yang dinamakan cinta kadang terkadang bikin set...
selengkapnya...

untuk lamanya kuliah berapa lama ya? dan untuk biyaya masukn...
selengkapnya...

Tidak semua MLM itu haram,kita perlu mengamati dengan teliti...
selengkapnya...

Karena karyawan JNE cimone-tangerang menyempelekan komplain ...
selengkapnya...

Yang ingin diskusi tentang kebudayaan Jepang, bisa hubungi n...
selengkapnya...