Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   

Puasa Dalam Budaya Jawa PDF Cetak E-mail
Penilaian Pembaca: / 15
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Bambang Kuncoro   
10-09-2008,
Budaya yang berlaku dalam suatu bangsa-–yang mencakup paradigma, sikap, dan pola tindakan– merupakan cerminan nilai budaya bangsa tersebut. Budaya terus berkembang seiring dengan bergulirnya waktu, namun nilai budaya yang telah ada tidak akan hilang sama sekali pada masa selanjutnya. Nilai budaya itu akan menjadi unsur pembentuk, unsur yang mewarnai, mendasari, bahkan dapat mendominasi nilai-nilai budaya sesudahnya.

Menurut sejarahnya, unsur pembentuk nilai budaya Jawa masa sekarang berasal dari 3 jaman terdahulu, yaitu jaman pra Hindu-Buddha, jaman Hindu-Buddha, dan jaman kerajaan Jawa-Islam. Sejak jaman pra Hindu-Buddha, orang Jawa telah mengenal bentuk organisasi desa (Suseno, 1984). Saat itu mereka telah menjalani  kehidupan dalam masyarakat yang tertata rapi sehingga terbentuk nilai-nilai sosial-kemasyarakatan yang bertahan sampai sekarang.

Konsep pergaulan masyarakat Jawa tak dapat dilepaskan dari cita-cita mistik. Etika kebatinan menyatakan bahwa cita-cita mistik yang menyatakan kemanunggalan dan keharmonisan antara manusia dan Tuhan itu adalah model bagi hubungan manusia dengan  masyarakat (Mulder, 1983). Oleh karena itu masyarakat Jawa memiliki konsep pergaulan dalam dua prinsip: rukun dan hormat.

Prinsip rukun menuntun agar bersikap sedemikian rupa agar tidak menimbulkan konflik. Prinsip ini menurunkan sikap gotong-royong, tolong-menolong, dan solidaritas. Sedangkan prinsip kedua (hormat) berhubungan dengan cara bicara dan membawa diri yang selalu menunjukkan hormat dengan orang lain. Sikap-sikap yang diturunkan oleh prinsip ini adalah memiliki isin (rasa malu), akrab, dan musyawarah (Suseno, 1984; Geertz, 1961).

Bagi orang Jawa, hakikat manusia sebagai makhluk sosial adalah berbudaya. Ketika tidak menunjukkan sikap dan tingkah laku seperti kedua prinsip di atas, maka akan dikatakan durung njawa (belum jadi orang Jawa yang sebenarnya) (Mulder, 1983).
 
Spiritualitas Jawa
Sejak jaman awal kehidupan Jawa (masa pra Hindu-Buddha), masyarakat Jawa telah memiliki sikap spiritual tersendiri. Telah disepakati di kalangan sejarawan bahwa, pada jaman jawa kuno, masyarakat Jawa menganut kepercayaan animisme-dinamisme. Yang terjadi sebenarnya adalah: masyarakat Jawa saat itu telah memiliki kepercayaan akan adanya kekuatan yang bersifat: tak terlihat (gaib), besar, dan menakjubkan. Mereka menaruh harapan agar mendapat perlindungan, dan juga berharap agar tidak diganggu kekuatan gaib lain yang jahat (roh-roh jahat) (Alisyahbana, 1977).

Hindu dan Buddha masuk ke pulau Jawa dengan membawa konsep baru tentang kekuatan-kekuatan gaib. Kerajaan-kerajaan yang berdiri memunculkan figur raja-raja yang dipercaya sebagai dewa atau titisan dewa. Maka berkembanglah budaya untuk patuh pada raja, karena raja diposisikan sebagai ‘imam’ yang berperan sebagai pembawa esensi kedewataan di dunia (Simuh, 1999). Selain itu berkembang pula sarana komunikasi langsung dengan Tuhan Sang Pemilik Kekuatan, yaitu dengan laku spiritual khusus seperti semedi, tapa, dan pasa (berpuasa).

Jaman kerajaan Jawa-Islam membawa pengaruh besar pada masyarakat, dengan dimulainya proses peralihan keyakinan dari Hindu-Buddha ke Islam. Anggapan bahwa raja adalah ‘Imam’ dan agama ageming aji-lah yang turut menyebabkan beralihnya agama masyarakat karena beralihnya agama raja, disamping peran aktif para ulama masa itu. Para penyebar Islam –para wali dan guru-guru tarekat- memperkenalkan Islam yang bercorak tasawuf. Pandangan hidup masyarakat Jawa sebelumnya yang bersifat mistik dapat sejalan, untuk kemudian mengakui Islam-tasawuf sebagai keyakinan mereka.

Spiritual Islam Jawa, yaitu dengan warna tasawuf (Islam sufi), berkembang juga karena peran sastrawan Jawa yang telah beragama Islam. Ciri pelaksanaan tasawuf yang menekankan pada berbagai latihan spiritual, seperti dzikir dan puasa, berulang kali disampaikan dalam karya-karya sastra. Petikan serat Wedhatama karya K.G.A.A. Mangku Negara IV:

Ngelmu iku kalakone kanthi laku. Lekase lawan kas, tegese kas nyamkosani. Setya budya pangekese dur angkara (Pupuh Pucung, bait I)

Artinya:
Ngelmu (ilmu) itu hanya dapat dicapai dengan laku (mujahadah), dimulai dengan niat yang teguh, arti kas menjadikan sentosa. Iman yang teguh untuk mengatasi segala godaan rintangan dan kejahatan.(Mengadeg, 1975).

Di sini ngelmu lebih dekat dengan ajaran tasawuf, yaitu ilmu hakikat atau ilmu batin, karena dijalani dengan mujahadah  laku spiritual yang berat (Simuh, 1999). Dalam masyarakat Jawa, laku spiritual yang sering dilakukan adalah dengan tapa, yang hampir selalu dibarengi dengan pasa.

Puasa dalam Masyarakat Jawa

Pada saat ini terdapat bermacam-macam jenis puasa dalam masyarakat Jawa. Ada yang sejalan dengan fiqih Islam, namun banyak juga yang merupakan ajaran guru-guru kebatinan ataupun warisan jaman Hindu-Buddha. Kata pasa (puasa) hampir dapat dipertukarkan dengan kata tapa (bertapa), karena pelaksanaan tapa hampir selalu dibarengi pasa.

Di antara macam-macam tapa dan pasa:
- pasa di bulan pasa (Ramadhan)
sama dengan puasa wajib dalam bulan Ramadhan. Sebelumnya, akhir bulan ruwah (sya’ban ) dilakukan mandi suci dengan mencuci rambut

- tapa mutih (a)
hanya makan nasi selama 7 hari berturut-turut

- tapa mutih (b)
berpantang makan garam, selama 3 hari atau 7 hari

- tapa ngrawat
hanya makan sayur selama 7 hari 7 malam

- tapa pati geni
berpantang makan makanan yang dimasak memakai api (geni) selama sehari-semalam

- tapa ngebleng
tidak makan dan tidak tidur selama 3 hari 3 malam

- tapa ngrame
siap berkorban/ menolong siapa saja dan kapan saja

- tapa ngéli
menghanyutkan diri di air (éli = hanyut)

- tapa mendem
menyembunyikan diri (mendem)

- tapa kungkum
menenggelamkan diri dalam air

- tapa nggantung
menggantung di pohon

Selain yang telah disebutkan di atas, masih banyak lagi jenis lainnya seperti tapa ngidang, tapa brata, dan lainnya.
 
Untuk memahami makna puasa menurut budaya Jawa, perlu diingat beberapa hal. Pertama, dalam menjalani laku spiritual puasa, tata caranya berdasarkan panduan guru-guru kebatinan, ataupun lahir dari hasil penemuan sendiri para pelakunya. Sedangkan untuk mengetahui sumber panduan guru-guru kebatinan, kita harus melacak tata cara keyakinan pra Islam-Jawa.

Kedua, ritual puasa ini sendiri bernuansa tasawuf, dalam arti, mistik. Sehingga penjelasannya pun memakai sudut pandang mistis dengan mengutamakan rasa dan mengesampingkan nalar.

Ketiga, dalam budaya mistik Jawa terdapat etika guruisme, di mana murid melakukan taklid buta pada Sang Guru tanpa menonjolkan kebebasan untuk bertanya. Oleh karena itu, interpretasi laku spiritual puasa dalam budaya Jawa tidak dilakukan secara khusus terhadap satu jenis puasa, melainkan secara umum.

Sebagai penutup, dapatlah kiranya dituliskan interpretasi laku spiritual puasa dalam budaya Jawa yaitu:
1. Puasa sebagai simbol keprihatinan dan praktek asketik
Ciri laku spiritual tapa dan pasa adalah menikmati yang tidak enak dan tidak menikmati yang enak, gembira dalam keprihatinan. Diharapkan setelah menjalani laku ini, tidak akan mudah tergoda dengan daya tarik dunia dan terbentuk pandangan spiritual yang transenden. Sehingga dapat juga dikatakan bahwa pasa bertujuan untuk penyucian batin dan mencapai kesempurnaan ruh.

2. Puasa sebagai sarana penguatan batin
Dalam hal ini pasa dan tapa merupakan bentuk latihan untuk menguatkan batin. Batin akan menjadi kuat setelah adanya pengekangan nafsu dunia secara konsisten dan terarah. Tujuannya adalah untuk mendapat kesaktian, mampu berkomunikasi dengan yang gaib-gaib: Tuhan ataupun makhluk halus.

Interperetasi pertama dan kedua di atas acapkali berada dalam satu pemaknaan saja. Hal ini karena pandangan mistik yang menjiwainya, dan berlaku umum dalam dunia tasawuf. Dikatakan oleh Sayyid Husein Nasr, ”Jalan mistik sebagaimana lahir dalam bentuk tasawuf adalah salah satu jalan di mana manusia berusaha mematikan hawa nafsunya di dalam rangka supaya lahir kembali di dalam Ilahi dan oleh karenanya mengalami persatuan dengan Yang Benar” (Nasr, 2000)

3. Puasa sebagai ibadah
Bagi orang Jawa yang menjalankan syariat Islam. puasa seperti ini dijalankan dalam hukum-hukum fiqihnya. Islam yang disadari adalah Islam dalam bentuk syariat, dan kebanyakan hidup di daerah santri dan kauman.


Views: 9303

Komentar (7)
RSS comments
1. 20-09-2010 04:06, 04:06
tentang puasa
ki selama ini saya tidak sadar bahwa dalam hidup saya saya telah menjalankan puasa tapa mendem.. :grin
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
2. 15-08-2010 07:27, 07:27
Nanya
:) Pak, bisakah dijelaskan makna kegunaan puasa untuk tanggal-tanggal tertentu penanggalan jawa? 
Terima kasih
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
3. 06-04-2010 10:32, 10:32
keterlaluan...,
;) :zzz :cry :?  
gitu aja koq bingung...  
lurusin dlu shalatny....
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
4. 02-07-2009 22:45, 22:45
keterlaluan...,
cara jalani ilmu penghilang pengasihaan
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
5. 28-05-2009 20:44, 20:44
coba-komentar
Assalamualaikum P.Ustat 
 
saya baru aja masuk Islam (menjadi muslim) jadi ma'af belum berani kasih komentar apa-apa,,,,,,, 
syukkron- Wassalam..........
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
6. 10-09-2008 21:33, 21:33
Arti Jawa, Kejawen.
Arti Jawa sudah bergeser menjadi Ketertinggalan. Bagi orang Jakarta, Jawa = remote area yang tertinggal jauh dari modernisasi. Kejawen = agama purba, Shirk yang harus ditaubatkan. Semua sudah lupa akan akarnya, akan tempat dimana kakinya berpijak, akan udara yang dihirupnya. Malukah mengakui akarnya?
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
7. 10-09-2008 20:52, 20:52
Numpang Ide
Fakta-fakta sosial berkaitan dengan puasa dalam konteks kebudayaan Jawa memang ada seperti terungkap dalam tulisan di atas. Hal-hal semacam itu sering dipuja-puji oleh para penulis sebagai kebudayaan adiluhung dan mungkin bisa disajikan berderet-deret puja-puji yang lain. Agaknya kita atau siapapun harus mulai memetakan lagi seperti apa kebudayaan Jawa sekarang ini, supaya bisa mengerti beberapa perilaku ekstrim seperti pengeboman di Bali atau sikap-sikap ekstrim lain yang sangat destruktif. Agaknya menggunakan paradigma harmoni dalam meneropong orang Jawa dan kebudayaannya pada saat ini, kita sedikit terhambat untuk memahami fenomena sosial yang sedang berubah.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya

Beri Komentar
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Judul:
Komentar:



Kode:* Code


AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - All right reserved

Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   
©2008 SuaraWarga - Suara Merdeka CyberNews Groups
Groups
Suara Merdeka

PENCARIAN
ANGGOTA





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
TERPOPULER
TERBAIK
POLING
KOMENTAR TERBARU
apakah ini yang dinamakan cinta kadang terkadang bikin set...
selengkapnya...

untuk lamanya kuliah berapa lama ya? dan untuk biyaya masukn...
selengkapnya...

Tidak semua MLM itu haram,kita perlu mengamati dengan teliti...
selengkapnya...

Karena karyawan JNE cimone-tangerang menyempelekan komplain ...
selengkapnya...

Yang ingin diskusi tentang kebudayaan Jepang, bisa hubungi n...
selengkapnya...