Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   

Makna Tembang Ilir ilir PDF Cetak E-mail
Penilaian Pembaca: / 100
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Bambang Kuncoro   
06-09-2008,
Tembang ini sering dianggap sebagai tembang dolanan atau lagu yang dinyanyikan saat bermain-main oleh anak-anak pada saat terang bulan. Bahkan di daerah Jogja dan sekitarnya tembang ini dinyanyikan pada saat bermain Nini Thowok, atau Jalangkungan.

Tak banyak yang menyadari bahwa sesungguhnya tembang ini bukan sekedar tembang dolanan biasa. Ada makna mendalam terkandung dalam tembang sederhana ini. Sekalipun demikian tidak ada yang tahu pasti siapa yang menciptakan tembang ini. Karena tembang ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Ada yang berpendapat penciptanya adalah salah seorang dari Wali Sanga atau Sembilan Wali yang terkenal sebagai para penyebar Islam di tanah Jawa. Dari kesembilan waliyullah itu ada dua orang yang disebut-sebut sebagai penciptanya yaitu Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga.

Pendapat itu bisa dimengerti, dilihat dari kedekatan Sunan Kalijaga dengan budaya Jawa dan fakta bahwa beliaulah pencipta beberapa kesenian Jawa yang digunakan sebagai alat syiar agama Islam, maka bisa dianggap bahwa Sunan Kalijagalah yang merupakan pencipta tembang ini.

Berikut ini adalah penjabaran dari makna yang terkandung dari tembang Ilir-ilir itu, baik berupa makna harfiah atau terjemahan langsungnya dalam bahasa Indonesia (BI), maupun makna sesungguhnya (MS) yang tersirat di dalamnya.

Ilir-ilir

Ilir-ilir, Ilir-ilir, tandure (hu)wus sumilir
(BI) Bangunlah, bangunlah, tanamannya telah bersemi
(MS) Kanjeng Sunan mengingatkan agar orang-orang Islam segera bangun dan bergerak. Karena saatnya telah tiba. Karena bagaikan tanaman yang telah siap dipanen, demikian pula rakyat di Jawa saat itu (setelah kejatuhan Majapahit) telah siap menerima petunjuk dan ajaran Islam dari para wali.

Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar
(BI) Bagaikan warna hijau yang menyejukkan, bagaikan sepasang pengantin baru
(MS) Hijau adalah warna kejayaan Islam, dan agama Islam disini digambarkan seperti pengantin baru yang menarik hati siapapun yang melihatnya dan membawa kebahagiaan bagi orang-orang sekitarnya.

Cah angon, cah angon, penek(e)na blimbing kuwi
(BI) Anak gembala, anak gembala, tolong panjatkan pohon belimbing itu.
(MS) Yang disebut anak gembala disini adalah para pemimpin. Dan belimbing adalah buah bersegi lima, yang merupakan simbol dari lima rukun islam dan sholat lima waktu. Jadi para pemimpin diperintahkan oleh Sunan Kalijaga untuk memberi contoh kepada rakyatnya dengan menjalankan ajaran Islam secara benar. Yaitu dengan menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima waktu.

Lunyu-lunyu penek(e)na kanggo mbasuh dodot (s)ira
(BI) Biarpun licin, tetaplah memanjatnya, untuk mencuci kain dodot mu.
(MS) Dodot adalah sejenis kain kebesaran orang Jawa yang hanya digunakan pada upacara-upacara atau saat-saat penting. Dan buah belimbing pada jaman dahulu, karena kandungan asamnya sering digunakan sebagai pencuci kain, terutama untuk merawat kain batik supaya tetap awet.

Dengan kalimat ini Sunan Kalijaga memerintahkan orang Islam untuk tetap berusaha menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima waktu walaupun banyak rintangannya (licin jalannya). Semuanya itu diperlukan untuk menjaga kehidupan beragama mereka. Karena menurut orang Jawa, agama itu seperti pakaian bagi jiwanya. Walaupun bukan sembarang pakaian biasa.

Dodot (s)ira, dodot (s)ira kumitir bedah ing pingggir
(BI) Kain dodotmu, kain dodotmu, telah rusak dan robek
Saat itu kemerosotan moral telah menyebabkan banyak orang meninggalkan ajaran agama mereka sehingga kehidupan beragama mereka digambarkan seperti pakaian yang telah rusak dan robek.

Dondomana, jlumatana, kanggo seba mengko sore
(BI) Jahitlah, tisiklah untuk menghadap (Gustimu) nanti sore
(MS) Seba artinya menghadap orang yang berkuasa (raja/gusti), oleh karena itu disebut 'paseban' yaitu tempat menghadap raja. Di sini Sunan Kalijaga memerintahkan agar orang Jawa memperbaiki kehidupan beragamanya yang telah rusak tadi dengan cara menjalankan ajaran agama Islam secara benar, untuk bekal menghadap Allah SWT di hari nanti.

Mumpung gedhe rembulane, mumpun jembar kalangane
(BI) Selagi rembulan masih purnama, selagi tempat masih luas dan lapang
(MS) Selagi masih banyak waktu, selagi masih lapang kesempatan, perbaikilah kehidupan beragamamu.

Ya suraka, surak hiya
(BI) Ya, bersoraklah, berteriak-lah IYA
(MS) Disaatnya nanti datang panggilan dari Yang Maha Kuasa nanti, sepatutnya bagi mereka yang telah menjaga kehidupan beragama-nya dengan baik untuk menjawabnya dengan gembira.

Demikianlah petuah dari Sunan Kalijaga lima abad yang lalu, yang sampai saat ini pun masih tetap terasa relevansinya. Semoga petuah dari salah seorang waliyullah kenamaan ini membuat kita semakin bersemangat dalam menjalankan ibadah kita di bulan yang penuh rahmat ini. Amin, amin, amin.

Views: 24350

Komentar (19)
RSS comments
1. 04-06-2011 10:42, 10:42
ilir ilir
sudah saat nya dari mulai hari ini smpai nanti kita harus bisa bangkit.... semangatlah..........! :) :)
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
2. 19-06-2010 16:39, 16:39
Ilir ilir
Yakin artinya kaya gitu? 
:?  
kalo menurut yang saya pelajari kok kayagini ya.. (sepotong) 
lir ilir : telahh datang embusannya 
tandure wis sumilir : telah datang pedoman hidup yang sempurna 
tak ijo royo2 : ajaran tsb tumbuh subur 
tak sengguh temanten anyar : kubuat tempat hijrah yang membahagiakan lahir batin dunia akhirat....
ma'af sebenernya arti dalam bahasa jawa dalam banget..berhubung diterjemahkan dlm bhs indonesia jadi kurang.. :)
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
3. 30-09-2009 00:01, 00:01
ilir-ilir
menurut saya arti tembang itu sebenarnya oleh Kanjeng Sunan digunakan untuk memperingatkan ulama-ulama dan rakyat agar bersiap-siap melawan untuk menghadapi kompeni, yang telah merusak tatanan bumi Indonesia , 
supaya semua perlu membangun kebersamaan dan saat itu sudah waktunya untuk bangkit. Achirnya perang kemerdekaan menghasikan kemenangan kita dan Indonesia merdeka di tahun 1945
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
4. 10-09-2008 13:29, 13:29
yang benar lunyu apa lonyo
Lunyu-lunyu penek(e)na kanggo mbasuh dodot (s)ira 
(BI) Biarpun licin, tetaplah memanjatnya, untuk mencuci kain dodot mu.
 
yang benar lunyu (LICIN) atau lonyo (MATANG) 
biar licin tetap memanjat,atau panjatlah belimbing matang itu? 
 
ada yang dapat memberi penjelasan yang valid? 
tks,
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
5. 08-09-2008 10:28, 10:28
Jati Diri
Pakaian adat Jawa ( termasuk Sunda), wah itu sangat Islami sekaligus memiliki jari diri bangsa.
Lihat Blankonnya atau Bendo dalam bahasa Sunda, menutup rambut dengan sangat indahnya, seperti serban yang ditata penuh pernak pernik batik, kemudian baju beskafnya, perpaduan baju cina lama dan barat, kainnya waw..indah sekali bercorak batik dan diwiru....memenuhi syarat menutupi aurat lelaki, indah dipandang penuh dengan sentuhan seni dan makna filosofi, ada truntum, sido mukti, sido luhur, parang curigo. kawung dll.
Lagu Ilir2 dan pasti ada banyak lagi lagu lainnya yang juga memiliki nilai dakwah, yang juga pasti dimiliki oleh suku bangsa lainnya di Indonesia. Ayo kita gali dan kita perkenalkan kepada anak-anak kita....
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
6. 08-09-2008 08:01, 08:01
Kemabali Kepada Jati Diri
Setuju dengan pendapat pak Abu Hasan dalam komentarnya terhdap perkembangan "orang Islam" pada masa kini. Pada masa sekarang ini orang Jawa sudah lupa akan Jati Diri. Kearifan orang Jawa telah diganti oleh kebringasan Arab Wahabi yang mengagungkan kebiadapan Jahiliyah dengan berkedokkan agama. Tembang Ilir-Ilir ini semoga mengingatkan kembali kepada Orang Islam Jawa teladan leluhur yang tetap mempertahankan jati diri dalam beraga Islam. Ingatlah para leluhur Jawa yang selalu berpesan bahwa "Agomo kuwi Ageming Ati", Agama adalah pakaian bagi jiwa. Memaknai agama dengan cara orang Arab seperti akan membawa kehancuran.
Guest
7. 08-09-2008 06:58, 06:58
Gali terus Budaya Jawa yg Islami
Banyak ciptaan / karangan para Wali / Ulama dan para cerdik pandai jaman dahulu yang saat ini menjadi tradisi tetapi para penerus umumnya tidak mengerti maknanya. terlebih orang yang tidak tahun tata cara jawa, terus menuduh / memvonis klenik, kejawen, musrik dan lain2 yang bersifat negatip. Contoh orang jaman dahulu melarang sesuatu dengan menakut-nakuti seperti ada sumber mata air dan disitu ada pohon besar, agar tetap terjaga kelestariaanya maka digunakan cara seperti apa penunggunya yang berbentuk ular, gendruwo dll. adat kebisaan nyadran sebenarnya ada makna yang dimaksud waktu diciptakan dulu, hanya sekarang orang banya yang tidak tahu maksud dan tujuan yang sebernarnya. dan masih banya lagi yang perlu digali dan sampaikan makna dan maksud sebenarnya.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
8. 07-09-2008 20:32, 20:32
sakpinter pintermu wong
jaman saiki mas bukan jaman 100 th lalu jaman dulu masarakat gam pang diapusi,la jaman sekarang sak pinter pintermu wong.
Guest
9. 06-09-2008 21:22, 21:22
Lagu ilir-ilir
Meski lagu tersebut boleh-boleh saja diartikan sebagai "sangat islami", tetapi saya tidak terlalu yakin, bahwa yang mengarang bermaksud mendakwahkan Islam waktu itu. Tetapi memang ada nilai-nilai baik yang bisa diidentikkan dengan Isalam. So, silakan saja. Seperti halnya wayang, yang dulu mengatakan "DEWA", sekarang disebut "GUSTI", menghindari paham yang menyembah dewa, padahal aslinya wayang memang demikian. Jadi bebas-bebas mawon, tetapi sebaiknya tidak diclaim sebagai pendapat yang paling benar.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
10. 06-09-2008 21:21, 21:21
lirrrrrrrrr melek
smg lagu tsb.dg maraknya TV,KOMPUTER di jaman teknologi modern sekarg ini.org tua khususnya,jgn sampai tdk berdaya dalam mendidik anak2nya.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya


Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   
©2008 SuaraWarga - Suara Merdeka CyberNews Groups
Groups
Suara Merdeka

PENCARIAN
ANGGOTA





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
TERPOPULER
TERBAIK
POLING
KOMENTAR TERBARU
apakah ini yang dinamakan cinta kadang terkadang bikin set...
selengkapnya...

untuk lamanya kuliah berapa lama ya? dan untuk biyaya masukn...
selengkapnya...

Tidak semua MLM itu haram,kita perlu mengamati dengan teliti...
selengkapnya...

Karena karyawan JNE cimone-tangerang menyempelekan komplain ...
selengkapnya...

Yang ingin diskusi tentang kebudayaan Jepang, bisa hubungi n...
selengkapnya...