Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   

Kemanusiaan dan Kematian Sang Kucing PDF Cetak E-mail
Penilaian Pembaca: / 12
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh MT Ardiansyah   
23-04-2008,
 Rabu, 17 April 2008. Sore itu saya berniat berolahraga. Kaos dan celana pendek beserta sepatu kets, itu yang saya kenakan. Di tepi jalan raya Taman Siswa yang ramai, sekonyong-konyong saya melihat sesosok anak kucing berbulu putih dan bertubuh kurus kering tinggal tulang menerobos menyeberang jalan raya yang ramai oleh hilir mudik sepeda motor dan mobil.

Firasat saya mengatakan bahwa saya terlambat sepersekian menit di tepian jalan raya itu. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, kucing kecil itu terlindas sepeda motor yang melintas. Hati saya berdegup kencang. Di tepian jalan raya tersebut, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri saat kucing kecil tersebut menggelepar dan berdarah-darah, menunggu waktu untuk meregang nyawa. Saya pindahkan kucing malang itu dari tepian jalan ke dekat halte bercat merah.

Saya hanya diam terperangah dan tertegun. Saya pernah mempelajari pertolongan pertama pada kecelakaan, tapi teori yang saya pelajari itu untuk manusia, bukan untuk hewan! Ada panduan untuk menghentikan perdarahan di leher, tapi itu untuk manusia! Saya tidak tahu menghentikan perdarahan di leher kucing kecil tersebut karena kucing itu terlindas di bagian leher. Sekali lagi saya tertegun melihat kejadian itu dan tak kuasa memberikan pertolongan. Di hadapan saya, kucing itu meregang nyawa. Bukan sekali ini saya melihat kematian, apalagi kematian hewan, tapi yang ini berbeda! Saya pernah sekali waktu memegangi kepala kambing jantan untuk disembelih dan melihat kambing itu meregang nyawa. Kambing ini memang disembelih untuk kurban, tetapi kucing kecil yang terlindas itu mati di hadapan saya. sungguh suatu proses kematian yang berbeda.

Tak lama, pengemudi sepeda motor yang melindas kucing kecil tersebut menyusul ke belakang saya dan menanyakan apa yang terjadi. Saya bisa merasakan wajahnya begitu pucat. Bukan rahasia lagi bagi orang Jawa, ada semacam kepercayaan bahwa menabrak kucing sampai mati akan membawa sial. Itu kalau menabrak, dalam kasus ini pengemudi melindas, bukan lagi menabrak. Bisa dua kali lipat sialnya, barangkali. Kebetulan pengemudi ini berboncengan dan dua-duanya adalah perempuan. Dua wajah perempuan yang pucat dan sedikit ketakutan memandangi tubuh kucing malang yang sudah berhenti menggelepar itu.

Sesaat saya sadar bahwa saya adalah seorang Pandu dari Kepanduan Praja Muda Karana (Pramuka). Saya belum dan tidak pernah lupa salah satu satya dari Tri Satya yang saya ulangi melafalkan setiap tahun pada malam 14 Agustus, potongan salah satu satya itu berbunyi "menolong sesama hidup". Dengan perasaan agak bersalah karena tidak bisa menolong kucing kecil tersebut, saya memutuskan untuk memberikan sebuah penghormatan terakhir yang bisa saya berikan yaitu menguburkanya dengan layak. Tubuh kucing yang telah membeku itu saya angkat dan saya bawa ke sawah di dekat Joglo Sekaran Gunungpati. Dua orang perempuan pelaku "tabrak tidak lari", untuk membedakanya dengan tabrak lari, mengikuti saya dari belakang.

Saya putuskan meminjam cangkul dan mencari lokasi yang cukup baik untuk menguburkanya. Dengan berbekal kemampuan mencangkul, saya membuat lubang yang kira-kira kedalamanya cukup untuk mengubur kucing tersebut. Belum lagi selesai mengubur, tiba-tiba ada orang yang menghampiri dan menyampaikan bahwa apabila menabrak kucing sampai mati maka saat menguburkanya harus dibungkus dengan kain putih. Tak ayal, dua perempuan tadi mengiyakan dan langsung bergegas mencari kain putih. Entah beli entah meminjam saya tidak tahu dan tidak mau tahu.

Kain putih itu pun datang. Saya masukkan kucing malang tersebut ke dalam kain lalu saya kubur. Dua perempuan tadi pun mengucapkan terimakasih dan segera menghilang dari pandangan. Sebelum itu saya menenangkan hati mereka agar tetap tenang dan tidak berpikir negatif mengenai kesialan setelah melindas kucing sampai mati. Saya merenung setelah penguburan tadi. Ini baru kucing yang kecelakaan, bagaimana kalau manusia? Hal apakah yang bisa kita bantu saat ada sosok manusia yang mengalami kecelakaan? Akankah kita hanya berpangku tangan atau menunggu orang lain yang menolong? Sedetik awal pertolongan pertama sepengetahuan saya sangat berarti dalam menolong korban kecelakaan, tapi kita kadang membiarkan detik-detik itu berlalu begitu saja dengan dalih menunggu bantuan. Membiarkan detik berlalu dengan alasan menunggu bantuan itu sama saja seperti kejadian saya di atas yang akhirnya menyaksikan kucing itu meregang nyawa.

Itu baru mengenai pertolongan awal. Saya belum dan tidak memikirkan kepercayaan orang Jawa mengenai kesialan akibat menabrak kucing sampai mati. Begitu juga dengan ritual-ritual yang harus dilakukan, entah itu tahlilan 7 hari berturut-turut atau apa. Bukan apa-apa, saya terus terang saja tidak tahu dengan kepercayaan seperti itu. Saya memang orang Jawa, tapi mungkin saja belum "njawani", terbukti dari ketidaktahuan saya tentang ritual-ritual semacam itu.

Akhir kata, saya ingin memberikan pertanyaan kepada pembaca. Sudahkah kita peduli dengan sesama hidup yang sama-sama diciptakan oleh Sang Maha Pencipta? Hari ini apakah kita sudah menolong orang lain? Ah, saya jadi ingat prinsip dalam memberikan pertolongan. Sebelum menolong orang lain, tolonglah dirimu sendiri terlebih dahulu. Ternyata menolong orang lain tidak mudah.





Views: 15973

Komentar (12)
RSS comments
1. 21-08-2009 08:11, 08:11
Saya salut terhadap orang yang memiliki kepedulian yang tinggi seperti mas MT Andriansyah. Semoga Allah selalu meridhoi anda.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
2. 04-08-2009 06:26, 06:26
kemanusiaan dan kematian sang kucing
ada dua hal yang saya tanggap dari cerita di atas : 
pertama, menolong sesama makhluk hidup dan rasa tanggung jawab. passs banget. pertanyaannya? apakah akan dilakukan hal yang sama bila korbannya hewan lain bukan kucing. misal anjing.
kedua, soal kepercayaan. ini hal penting yang harus diluruskan. jelas sekali dalam deskripsi cerita bahwa wanita yang menabrak pucat pasi dan bahkan bersedia mencari kain putih (kain kafan) untuk si kucing. pertanyaannya : apakah wanita itu pucat pasi karena rasa bersalah atau karena rasa takut akan mengalamai kesialan di kemudian hari? jika rasa bersalah okelah, tapi jika takut sial, INI MASALAH BESAR. Dan ini kepercayaan yang salah. dan saya lihat kepercayaan yang salah macam ini bukan cuma milik orang jawa, tapi masyarakat Indonesia pada umumnya
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
3. 21-05-2009 17:09, 17:09
kucing imut
kucingnya lucu banget bikin gemes deh ;)
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
4. 25-04-2009 08:51, 08:51
kemanusiaan dan kemuliaan kucing
saya juga sering membantu kucing
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
5. 31-03-2009 14:26, 14:26
http://peringkatsatu.net
:x :sigh :? :( :x ;) :eek :sigh :p :x  
 
Lucu banget
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
6. 07-03-2009 15:15, 15:15
KEMULIAAN
Saya sng krn and MENOLONG kucing trsbt.mngkin jk tdk ada anda kucing trsbt hanya trgltk diJalanan :) :grin
Guest
7. 26-02-2009 10:08, 10:08
kucing yang malang.....
huuuuu terharu aku :cry ,emang bener tuh kalau nabrak kucing bawa sial? :upset :? .kyny g deh
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
8. 19-02-2009 10:42, 10:42
whhhhhhh
lucu2 yah kucingnya :) sangat mengemaskan :zzz  
tapi aq tak mampu membeli kucing anggora karna mahal :cry aq sedih sekali 
tapi aq sangat happy :grin
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
9. 31-10-2008 22:05, 22:05
whhhhhhh
kisah itu hampir sama dgn aku, hanya saja pd sebab kematiannya. Saat itu, ku punya kucing kebetulan dy sakit krn ada luka d lehernya, wktu itu aku smpat ngasih betadine k lehernya ternyata malah bertambah parah, melihat hal itu aku berhenti tuk memberinya obat itu lg. Singkat cerita, sTLH beberapa hari kemudian tepat tgl 28 oktober 2008 jam 23.50 ia mati, wkt itu aku melihat prosesnya sungguh menyedihkan d saat terakhir dy mash bisa berdiri utk minum namun ternyata itu minum yg terakhir,tuk minum j dy gak kuat, Sektika aku lngsng membaringkannya k sofa. Namun, beberapa menit kemudian dy teriak seperti kesakitan air keluar dari mulutnya n ternyata itu hembusan terakhirya. Mlh kejadiannya saat hujan2 aku miris melihatnya. Spontan aku lngsng nangis sekaligus keluargaku. D malam yg dingin aku nangis hingga jam 2 pagi, aku menyesal tidak berusaha mencari dokter hewan.Hidup hampa rasanya, kosong, sepi, malez bawaannya lbh2 bljr. Aku hrap dy maw maafin aku, n smoga dy tenang d sana. Amin.
Dari kisah ini, aku mengambil hikmah bahwa pencabutan nyawa kucing menurutku sama dengan manusia. Smoga dari kisah ini bisa kita ambil hikmahnya. Sebetulnya msh bnyk yg aku pengn ceritaain tp mungkin smp d sini j. Trims.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
10. 25-05-2008 17:22, 17:22
amalan mulia
saya begitu terharu...sampai nyaris kehilangan kata2 pujian.
saya termasuk penggemar binatang lucu itu, tp kalau sy kebetulan di posisi anda saat itu...mungkin saya tidak akan mampu berbuat semulia anda.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya


Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   
©2008 SuaraWarga - Suara Merdeka CyberNews Groups
Groups
Suara Merdeka

PENCARIAN
ANGGOTA





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
TERPOPULER
TERBAIK
POLING
KOMENTAR TERBARU
apakah ini yang dinamakan cinta kadang terkadang bikin set...
selengkapnya...

untuk lamanya kuliah berapa lama ya? dan untuk biyaya masukn...
selengkapnya...

Tidak semua MLM itu haram,kita perlu mengamati dengan teliti...
selengkapnya...

Karena karyawan JNE cimone-tangerang menyempelekan komplain ...
selengkapnya...

Yang ingin diskusi tentang kebudayaan Jepang, bisa hubungi n...
selengkapnya...