Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   

Hilangnya Tradisi Sambatan PDF Cetak E-mail
Penilaian Pembaca: / 15
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Joko Suprayoga   
12-01-2010,
Sambatan merupakan suatu sistem gotong royong di kampung dengan cara menggerakkan tenaga kerja secara masal yang berasal dari warga kampung itu sendiri untuk membantu keluarga yang sedang tertimpa musibah atau sedang mengerjakan sesuatu, seperti membangun rumah, menanam serta memanen padi dan menyelenggarakan pesta pernikahan. Tujuannya meringankan pekerjaan seseorang secara benar.
 
Ayah saya bercerita, jaman mudanya dulu, di dalam masyarakat dikenal adanya tolong menolong secara kolektif yang disebut dengan sambatan. Sambatan merupakan suatu sistem gotong royong di kampung dengan cara menggerakkan tenaga kerja secara masal yang berasal dari warga kampung itu sendiri untuk membantu keluarga yang sedang tertimpa musibah atau sedang mengerjakan sesuatu, seperti membangun rumah, menanam serta memanen padi dan menyelenggarakan pesta pernikahan. Tujuannya meringankan pekerjaan seseorang secara benar.

Contohnya, ada salah seorang warga yang mau membangun rumah. Hal-hal seperti membongkar dinding (papan atau bilik bambu), menurunkan genteng, melepas kerangka rumah, dan memasangnya kembali dikerjakan secara bersuka rela. Saat istirahat tengah hari mereka makan siang beramai-ramai menyantap hidangan sederhara yang sudah disiapakan. Menu yang sering dijumpai yakni nasi brokohan dengan lauk tempe tahu “diopor”. Setelah berhenti sejenak pekerjaan kembali ditunaikan dengan gembira dan tertawa. Wah, pokoknya semua terlihat guyub rukun.

Undangan sambatan pun melalui sistem dari mulut ke mulut. Tidak perlu rapat ataupun panitia. Tuan rumah tinggal minta tolong seseorang, dan orang inilah sebagai duta yang menyampaikan informasi sambatan ke tetanga lainnya.

Dalam perkembangannya, menurut Koentjaraningrat, terdapat pergeseran sistem gotong royong dengan sambatan menjadi sistem upah. Dalam bidang pertanian nampak jelas terjadi pergeseran itu. Sekarang ini warga masyarakat  yang terlibat dalam tandur dan derep  diberi upah oleh pemilik atau petani penggarap sawah.Pergeseran sistem sambatan dalam pertanian tidak terlepas dari tuntutan hidup di zaman moderen ini, di mana lapangan kerja semakin sempit dan kebutuhan hidup makin tinggi.

Warga masyarakat yang dulunya murni bergotong royong menggarap sawah  kini menjadikan sawah sebagai lapangan pekerjaan. Warga yang terlibat dalam menggarap sawah  itu disebut dengan buruh tani.Akibatnya lambat laun, tradisi sambatan pun memudar.

Di jaman facebook ini, susah sekali menemukan budaya sambatan di sekitar kita. Memudarnya tradisi ini bisa jadi karena: pertama, adanya sebagian warga yang tidak memiliki ketersediaan waktu untuk sambatan karena kesibukan kerja. Kedua, sebagian warga merasa tidak memerlukan sambatan karena lebih mempercayakan kepada orang yang profesional atau ahlinya. Namun begitu, di jaman yang serba “lu-lu, gue-gue” esensi sambatan perlu terus dipupuk dan dilestarikan.

Percayalah, sambatan dilakukan oleh warga kampung dengan sukarela tanpa mengharapkan upah atas pekerjaaannya itu karena didasari oleh asas principle of reciprocity, yaitu siapa yang membantu tetangganya yang membutuhkan maka suatu saat pasti ia akan dibantu ketika sedang membutuhkan. Bukankah sapa nandur kabecikan, mesti bakal ngunduh?



Views: 5274

Komentar (12)
RSS comments
1. 24-02-2010 08:46, 08:46
sambatan
Kalau sambatan seh masih ada di terutamanya di daerah pedesaan baik itu untuk mbangun rumah atau perbaikan jalan. Tapi untuk yang namanya tandur dan panen jamansekarang susah nyari orangnya, padahal juga dengan upah. padahal ini juga mata pencaharian, sayangnya datangnya cuma 4 bulan sekali.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
2. 07-02-2010 05:49, 05:49
sambatan
sambatan artine sling tolong mnolong bikin inget waktu umur 23 thn smbatan di rmh mbah modin kakiku kna paku luorooo :p
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
3. 02-02-2010 05:57, 05:57
Wah..bener tuh polisi tidur itu sialan
saya paling sebel dg polisi tidur !! seolah2 manusia berperangai buruk jauh lebih banyak daripada yang baik-baik. Mengapa yg sedikit menyengsarakan yang banyak ???
Registered
budi dermawan
4. 30-01-2010 15:35, 15:35
keblinger
kalo jaman sekarang masih ada kok sambatan,tapi sambatan maksiat,sambatan,konkalikong nipu,nggarong duit negara duit rakyat,digarong rame2 dihabisin rame2,kalo diusut masuk bui rame2,....kalo masuk bui.... :zzz :sigh :upset
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
5. 28-01-2010 05:03, 05:03
sambatan
kalau aku ingat sambatan dulu...jadi tertawa dan terharu..betapa tidak..waktu pak de saya mau pindah rumah dari RT 1 ke RT2..rumahnya jg ikut di pindah ,dengan cara di gotong rame2 ,kebetulan rumahnya emang terbuat dari kayu dan bambu..itulah sambatan yg aku kenal dulu.semangat dan tanpa pamrih..
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
6. 20-01-2010 07:14, 07:14
dulu & sekarang
antara dulu dengan sekarang kita harus melihatnya secara keseluruhan dan objektif bahwa dahulu kakek & nenek kita di seluruh indonesia hidup sangat memprihatinkan dijajah bangsa lain dengan sistem kolonialisme dan bangsa sendiri dgn sistem feodalisme juga saat orde lama & orde baru saat itu jika saja ada pers bebas seperti sekarang saya yakin Penguasa-2 ini tdk akan bertahan lama kita harus menyikapi ini dengan cerdas jangan mau dibodohin contohnya seperti di negara-2 tetangga kita diselatan di Australia & Selandia Baru sejak Mbah-2 s/d sekarang terutama Rakyat golongan tdk mampu sangat terjamin hidupnya beda dengan kita dari Mbah-2 s/d sekarang kemiskinan sdh menjadi tradisi + gizi buruk, busung lapar dll
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
7. 16-01-2010 02:41, 02:41
sambatan
aduh !! jadi ingat waktu aku umur 12-15 th. ikut mbantu ortu temanku nanam palawija ditegalan,paling asyik sambatan utut-utut padi pasti ada gablog lauknya kering tempe dan sambatan rumah aku paling muda sendiri.kapan bisa kaya gitu?
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
8. 16-01-2010 00:04, 00:04
tradisi yg tradisional
sambatan emang sdh tradisi kita.dr jaman mbah2 kita dulu, tradisi ini sdh populer. Tp kenapa skrg luntur? Yg populer kok malah yg negatif2 trs..... :cry
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
9. 15-01-2010 08:33, 08:33
punah, tapi sambatan masih ada disini
Mas Joko benar agak susah menemukan adat sambatan dijaman yang serba canggih. Untung waktu mengganti genteng rumah seluas 200 meter persegi, kami disambut hangat teman dan tetangga (dari Semarang dulu). Sambatan ini memang unbelievable karna mereka adalah Jerman totok. Meski disengat matahari selama berjam - jam dalam sehari, mereka rela tak dibayar hanya dijamu makanan, minuman saja. Genteng dari pulp seberat 2 ton itu akhirnya selesai dipasang atas kerjasama suami dan saya, dan pastinya 4 orang teman lainnya. Aneh bin ajaib tapi nyata. Kami bisa tenang berteduh dari hujan, panas, salju dan sapuan dedaunan diudara sejak saat itu. Trenyuh dan hanya bisa berdoa mereka disaur Gusti. (Jika tidak sedikitnya 16.000 euro harus keluar kocek jika dipasrahkan kontraktor).Allahuma Amien.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
10. 14-01-2010 01:00, 01:00
sambatan
jadi teringat masa lalu. tapi sayang hal tersebut sudah benar2 luntur.javascript:ac_smilie(':cry') 
 
mungkin hal2 tersebut msh d jumpai d kampung2 yg benar2 pelosok, belum terkontaminasi dampak negatif perkembangan teknologi.
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya


Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   
©2008 SuaraWarga - Suara Merdeka CyberNews Groups
Groups
Suara Merdeka

PENCARIAN
ANGGOTA





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
TERPOPULER
TERBAIK
POLING
KOMENTAR TERBARU
apakah ini yang dinamakan cinta kadang terkadang bikin set...
selengkapnya...

untuk lamanya kuliah berapa lama ya? dan untuk biyaya masukn...
selengkapnya...

Tidak semua MLM itu haram,kita perlu mengamati dengan teliti...
selengkapnya...

Karena karyawan JNE cimone-tangerang menyempelekan komplain ...
selengkapnya...

Yang ingin diskusi tentang kebudayaan Jepang, bisa hubungi n...
selengkapnya...