Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   

Kepemimpinan Perempuan dalam Perspektif Islam dan Budaya PDF Cetak E-mail
Penilaian Pembaca: / 13
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Khoirul Anwar   
30-09-2009,

Perempuan seolah takkan pernah berhenti untuk dibicarakan, diselami dunianya, baik yang bersifat lahiriahnya: kecantikan maupun gaya hidup mulai dari tidur hingga bangunnya terus dikuak, maupun yang bersifat batiniah, jiwanya: olah rasa atau hal lainnya.

Perempuan memang asyik untuk dikaji. Makhluk Tuhan yang satu ini seolah harta atau khazanah yang mengundang decak kagum maupun sunggingan bibir yang mencoba mencemoohnya. Entah itu perempuan sendiri, lebih-lebih pria takkan luput untuk trambul ngomong, entah paham betul atau hanya waton ngomong, yang penting ngomong perempuan. Meskipun tak jelas apa yang diomongkan.

Keberadaan perempuan diomongkan secara silih berganti diberbagi tempat: mulai di tempat tidur, angkrinngan hingga di media massa. Bahkan tak tanggung-tanggung diadakan seminar pula. Di undanglah orang yang dianggap kompeten dalam masalah kewanitaan, maaf kewanitaan disini tidak mengarah pada masalh biologisnya melainkan ya biologis, sosiologis, psikologis maupun hal yang logis-logis lainnya. Dari itu semuanya itu hanya mengarah pada satu titik: sipa perempuan itu, bagaimana hakikatnya, apa dia boleh berbuat ini –itu, ataukah ia sekedar pelengkap, hiasan dunia fana ini?. Asyik betul membicarakan masalah ini hingga tak sadar gelora jiwa membara, larut sekaligus lenyap siapa kita, perempuankah atau laki-laki. Semua tak sadar kerena tengah asyik untuk berada di wilayah yang unik ini.

Begitu pula yang dilakukan oleh divisi keagamaan BEM Pendidikan Kimia, ingin turut serta mewarnai perbincangan tentang sosok perempuan tersebut. Bertempat di teatrikal fakultas saintek UIN Yogyakarta, 10 September 2009, dimulai. Dengan menghadirkan pembicara dekan fakultas SAINTEK, Dra. Meizer Said Nahdli, M. Si, dan aktivis perempuan, Yaya Setianingsih, S.H.I atu lebih akrab di panggil mbak Yayat.

Tema yangd iangkat pada seminar ini adalah masalah kepemimpinan seorang perempuan jika dilihat dari ranah agama  dan kebudayaan. Berhubungan dengan kacamata Islam tentunya mempertanyakan bagaimana Islam memandang perempuan tersebut, hakikat dan syarat bagi pemimpin yang kesemuannya ini sudah tentu harus ada kesesuaian dari sumber pokok Islam: al-Qur'an dan al-Hadist. Sedangkan budaya melihat dari sisi bagaimana kebudayaan setempat menempatkan sosok perempuan ditengah pusaran peradabannya, apa itu perempuan ( apakah keeksisitensiannya terbentuk karena faktor biologis, fisik, ataukah nama perempuan itu terbentuk karena pergumulan budaya?). Sejenak jika kita lihat, sebetulnya tema yang diusung pada seminar ini bisa dikatakatkan sudah usang tetapi kita tidak memandang usang atau aktual permasalahan itu muncul tetapi bagaimana permasalahan itu terus berkembang dan terus melahirkan polemik di tengah masyarakat.

Terbukti masalah kepemimpinan selalu hangat dibicarakan apalagi kepemimpinan yang dikomandani sesosok perempuan: heboh tentunya. Hal ini bukan karena sosok perempuan tidak mampu mengemban amanah kepemimpinan melainkan karena faktor telah lamanya tonggak kepemimpinan dipegang dan dkendalikan oleh laki-laki sehingga kedaan ini melahirkan suatu sikap yang menghegemoni pikiran masyarakat atau dengan kata lain masyarakat akan selalu "mengamini" kepemimpinan laki-laki bila dibanding pemimpin perempuan. Ranah agama pun seolah-olah mengamini kepemimpinan laki-laki. Sebuah bunyi hadis selalu dijadikan jargon bahwa kepemimpinan perempuan takkan menghasilkan apa-apa kecuali kemudhorotan.

Menurut Dra. Meizer Said Nahdli, M.Si, permasalahan siapa yang cocok menjadi pemimpin, laki-laki atau perempuan sebetulnya lahir karena faktor budaya sedangkan budaya itu sendiri terbentuk karena adanya interkasi cipta, rasa dan karsa antar manusia. Sehingga tak dipungkiri permasalahan kepemimpinan, siapa yang pantas memimpin tergantung tingkat intelektualitas, dan penghormatan masyarkat setempat terhadap perempuan.

Meskipun secara biologis, dekan sekaligus dosen biologi fakultas SAINTEK ini melanjutkan, perbedaan antar laki-laki dan perempuan ada. Sebagi contohnya tulang laki-laki massanya lebih berat dibandingkan perempuan tetapi itu bukanlah dasar untuk mengangkat pemimpin. Pemimpin dipilih bukan faktor otot melainkan otak. Islam sendiri juga tidak membeda-bedakan antara keduanya, Islam adalah agama dengan konsep keseimbangan kalau pun ada perbedaan pembagian kerja hanya semata-mata konsep kesetimbangan untuk menjaga msayarakat agar dalam keadaan harmonis, tidak tumpang tindih antara wilayah perempuan dan laki-laki. Dalam al-Qur'aan disebutkan bahwa Allah akan mengganjar dengan adil bagi siapa saja yang melakukan amal baik dan disertai keimanan. Pergolakan yang terjadi di tengah masyarakat yang terus menyoal siapa yang pantas jadi pemimpin, apa perempuan boleh jadi pemimpin, merupakan sebuah ketakutan yang dibentuk oleh lingkungan, entah ketakutan laki-laki kehilangan harga dirinya sebagai manusia yang terlanjur dicap sebagai pemimpin bagi perempuan.

Sedangkan mbak Yayat mengatkan bahwa tidak ada persoalan antara budaya dengan agama yang mempermasalahkan kepemimpinan. Karena pemimpin diukur dari intelektualitas, kapabilitas seseorang. Bukti dari tidak adanya persinggungan antara agama dengan budaya adalah catatan sejarah bagaimana Khodijah dan Asiyah pernah menjadi pemimpin dimasanya. Ratu Sima yang memimpin kerajaan di tanah jawa era agama Hindu begitu juga masa Islam di jawa pernah ada ratu yakni ratu Kalinyamat yang sisa kerajaannya bisa di lihat di Jepara. Ratu Kalinyamat adalah seorang perempuan yang pernah menjadi Adipati Demak sekaligus penasehat bagi kerajaan Mataram.

Masyarakat akan menyetujui pemimpin perempuan jika kapabilitasnya telah teruji dan terbukti mampuni bagi mansyarakat. Tinggal kita bagaimana memandang perempuan dan membuat kriteria-kriteria pemimpin.

Khoirul Anwar, the Face News.


Views: 8581

Komentar (12)
RSS comments
1. 15-05-2012 15:16, 15:16
pemimpin
saatnya mempersilahkan perempuan untuk menjadi "mitra" laki2.. krna bagaimnapun permsalahan gender bukan lgi mnjadi alasan utama untuk melarng perempuan menjadi pemimpin. krna sesungguhnya semua hak wrga negara boleh ikut andil dalam membangun negaranya :grin 8)
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
2. 16-10-2010 09:38, 09:38
kapan perempuan jadi pemimpin ?
laki-laki dan perempuan saling melengkapi karena mempunyai potensi sendiri - sendiri. Perempuan jadi pemimpin jika proporsi pemimpin pada situasi \'saat\' kriteria kepemimpinan\' laki-laki tidak terpenuhi
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
3. 16-09-2010 13:04, 13:04
perempuan juga hebat
8) bagus sekarang perempuan melakukan pekerjaan yang berat jadi pejabat, pekerja, atlet, bahkan presiden tapi tidak sehebat pria sih :?
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
4. 06-03-2010 16:56, 16:56
Dari mana kita menilai
Wanita adalah pendamping pria itu kodrat Adam dan Hawa, Namun Wanita bukan pelengkap, Adam merasa seperti tak uberdaya dengan semua yang ada di surga, tatkala Hawa ada ???.wanita sebagai pemimpin sah saja ketika bersama dengan kaumnya. Tatkala Pria tidak ada. dan Pandai untuk memimpin itu lebih utama. Hanya kita terlalu mempolitisir wanita sebagai pemimpin dalam tataran pemerintahan suatu lembaga/negara
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
5. 10-02-2010 23:06, 23:06
kemimpinan perempuan . . .
kenapa tidak ada yg menulis. Kepemimmpinan Perempuan dlm perspektif diluar Islam? ? ? ?
Registered
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
6. 04-01-2010 10:00, 10:00
berhenti dalam tataran wacana
sudah saatnya perempuan berdaulat. bukabkah semua sudah selesai dalam tataran pembongkaran idiologis yang menempatkan perempuan sebagai kelas dua. jujur yang kita butuhkan hanyalah supporting sistim yang kemudian menempatkan perempuan pada kesetaraan, juga fasilitasi hukum misal pengaturan kuota 30 % falam politik. itulah realitas yang kita butuhkan pada hari ini. seminar kesetaraan stoplah!n jika tak ada aksi yang kongkrit ok!
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
7. 08-12-2009 09:51, 09:51
berhenti dalam tataran wacana
Pada prinsipnya Tuhan menciptakan laki2 dan perempuan disertai hak dan tanggung jawab masing2. Oleh karena itu tidak akan terjadi tumpang tindih antara keduanya, karena masing2 memiliki hak kodrati yang tidak mungkin tergantikan oleh jenis lain. Namun demikian menurut saya hal tersebut hanya terbatas pada hal tersebut (kodrati). Untuk ruang untuk publik hal tersebut tidak berlaku karena masing2 di bekali dengan kemampuan dan skill sendiri2..
Guest
8. 31-10-2009 02:04, 02:04
berhenti dalam tataran wacana
teke action.. semua punya andil dalam hidup. 8)
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
9. 26-10-2009 14:40, 14:40
Kepemimpinan Perempuan
Ya bagaimanapun kita sbg umat Islam hrs taat pd perintah Allah SWT, bhw Laki2 adl pemimpim wanita
Guest
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
10. 01-10-2009 08:13, 08:13
Tetap Tepat Laki2
Bagaimanapun juga kalo masih ada laki2 ya lebih baik laki2. Coba lihat pak Wali Kota Padang yg turun sendiri dan berobosan ke gedung yg hancur nutup muka mayat yg beliau temui, nggak mungkin tho kalo Wali Kota Padang perempuan untuk berbuat seperti itu. Sudahlah manut ing Qodrat saja, ra usah neko2 ra ilhok.
Guest


Home   Budaya   Wisata   Kampus   Politik   Kuliner   Agama   Berita   Tips   Pewarta   
©2008 SuaraWarga - Suara Merdeka CyberNews Groups
Groups
Suara Merdeka

PENCARIAN
ANGGOTA





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
TERPOPULER
TERBAIK
POLING
KOMENTAR TERBARU
apakah ini yang dinamakan cinta kadang terkadang bikin set...
selengkapnya...

untuk lamanya kuliah berapa lama ya? dan untuk biyaya masukn...
selengkapnya...

Tidak semua MLM itu haram,kita perlu mengamati dengan teliti...
selengkapnya...

Karena karyawan JNE cimone-tangerang menyempelekan komplain ...
selengkapnya...

Yang ingin diskusi tentang kebudayaan Jepang, bisa hubungi n...
selengkapnya...